Cahaya
jingga matahari mulai terlihat. Matahari mulai menyembunyikan dirinya. Senja
ini aku kedatangan tamu bulanan yang biasa para perempuan dapatkan. Aku merasakan
perutku yang sakit luar biasa. Aku memilih duduk santai di kursi panjang ruang
tamu rumah kakak perempuanku. Ku buka novel hasil pinjaman dari teman
sekampusku, dan aku mulai membaca. Entah kenapa jantungku berdegup kencang,
perasaanku tak nyaman. Aku mulai gelisah dan merasa ingin muntah. Suatu ketika,
telepon genggamku berbunyi. Aku mengambil telepon genggamku yang tergeletak di
atas meja. Aku membaca tulisan di layar yang berkedip – kedip memunculkan
tulisan “Mbak”. Aku segera menekan tombol hijau dan menempelkannya di daun
telingaku.
“ halo
mbak? ” sapaku.
“ dek
kamu dimana? Mama dek mama… ” kakakku bicara terburu – buru. Jantungku
seakan berhenti berdetak mendengar kakakku menyebutkan “Mama”.
“ aku di
rumah mbak. Ada apa? Mama kenapa? ” tanyaku panik.
“ saat
aku berkunjung ke rumah mama, aku melihat mama sudah tergeletak tak berdaya di
lantai ruang keluarga. Aku langsung membawa mama ke rumah sakit. Kamu tidak perlu
ke rumah sakit, biar kakak yang jaga di sini. Kamu besok ada kuliah pagi, kamu
bantu doa dari rumah ya dek. Saat sholat doakan mama. Mama sekarang koma, belum
sadarkan diri. Besok sepulang kamu kuliah, datanglah ke rumah sakit. ”
Mendengar penjelasan dari kakakku, aku tak kuasa membendung air mata. Air
mataku bercucuran dengan derasnya.
“ mbak,
aku lagi menstruasi. ” Kami berdua pun terdiam. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mendoakan ibuku dalam
sholatku. Saat ini aku merindukan sholat.