Selasa, 10 November 2015

Rindu Sholat

          Cahaya jingga matahari mulai terlihat. Matahari mulai menyembunyikan dirinya. Senja ini aku kedatangan tamu bulanan yang biasa para perempuan dapatkan. Aku merasakan perutku yang sakit luar biasa. Aku memilih duduk santai di kursi panjang ruang tamu rumah kakak perempuanku. Ku buka novel hasil pinjaman dari teman sekampusku, dan aku mulai membaca. Entah kenapa jantungku berdegup kencang, perasaanku tak nyaman. Aku mulai gelisah dan merasa ingin muntah. Suatu ketika, telepon genggamku berbunyi. Aku mengambil telepon genggamku yang tergeletak di atas meja. Aku membaca tulisan di layar yang berkedip – kedip memunculkan tulisan “Mbak”. Aku segera menekan tombol hijau dan menempelkannya di daun telingaku.
halo mbak? ” sapaku.
dek kamu dimana? Mama dek mama… ” kakakku bicara terburu – buru. Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar kakakku menyebutkan “Mama”.
aku di rumah mbak. Ada apa? Mama kenapa? ” tanyaku panik.
saat aku berkunjung ke rumah mama, aku melihat mama sudah tergeletak tak berdaya di lantai ruang keluarga. Aku langsung membawa mama ke rumah sakit. Kamu tidak perlu ke rumah sakit, biar kakak yang jaga di sini. Kamu besok ada kuliah pagi, kamu bantu doa dari rumah ya dek. Saat sholat doakan mama. Mama sekarang koma, belum sadarkan diri. Besok sepulang kamu kuliah, datanglah ke rumah sakit. ” Mendengar penjelasan dari kakakku, aku tak kuasa membendung air mata. Air mataku bercucuran dengan derasnya.
mbak, aku lagi menstruasi. ” Kami berdua pun terdiam. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mendoakan ibuku dalam sholatku. Saat ini aku merindukan sholat.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Coretan Bulan Oktober

Berawal dari sebuah pertunjukan pentas seni. 
Saat kau berpuisi, kau terlihat begitu sempurna hingga aku mengagumimu. 
Beberapa hari setelah itu, kau mulai menghampiriku, menghujamku dengan sajak - sajak indahmu hingga aku terpesona. 
Hari demi hari terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. 
Dan hari demi hari itu pula aku mulai menyukaimu. 
Hingga pada suatu saat, kau memanggilku dengan sebutan "Rembulan", "Bidadari", dan "Perempuanku". 
Pada saat itu kau mulai menjadikan aku sebagai milikmu seutuhnya. 
Kita berdua sama - sama mengakui jika kita saling menyukai. 
Tapi kau bilang "Bukan waktunya untuk diungkapkan, nunggu waktu yang tepat. Yang jelas kita sama - sama suka". 
Aku pun mulai berpikir liar akan pesan yang kau sampaikan. 
Aku bahagia sekaligus takut. 
Bahagia karena kau juga menyukaiku, takut karena kata - katamu memberi ketidakpastian. 
Setiap hari kita berdua berkomunikasi, bercanda, hingga aku lupa akan tujuan awalku.

Namun, setelah waktu yang kita lewati, tiba - tiba kau menjauh entah kenapa. 
Kau sudah jarang menghubungiku lagi seperti biasa. 
Saat ku tanya, kau hanya menjawab sibuk, sibuk, dan sibuk. 
Lalu dulu itu apa? 
Meskipun kau sibuk, kau selalu meluangkan waktumu untuk menghubungiku hanya untuk sekedar memberi kabar padaku. 
Aku ingin menangis, tapi aku ingat akan pesanmu 
"Jangan mendung purnamaku. Aku takut ada laki - laki lain yang menghapuskan air matamu". 
Jika kau benar - benar takut, hapuslah air mata ini sekarang. 
Setiap malam tidurku tak nyenyak memikirkanmu. 
Saat aku menghubungimu, kau bahkan tidak merespon. 
Meskipun saat kita bertemu dalam ketidaksengajaan kau selalu memberikan senyuman padaku, aku semakin ragu denganmu. 
Jika pada akhirnya seperti ini, seharusnya kita berdua tidak dipertemukan. 
Tuhan tahu, setiap malam aku selalu memikirkanmu dan berdoa agar kau kembali seperti pada awal kita bertemu. 
Apakah aku punya salah padamu? 
Katakanlah! 
Maka aku akan meminta maaf jika itu menyakitimu. 
Aku bingung harus berbuat apa. 
Pikiran liar ini selalu datang hingga membuatku cemas dan gelisah. 
Sekarang aku merasa seperti berada pada perahu yang bergoyang lantaran terkena ombak. 
Nasibku masih dipertanyakan. 
Akankah perahu yang aku tumpangi oleng dan jatuh atau masihkah bisa bertahan?
Yang aku butuhkan hanyalah kabar darimu. Malamku...

Kamis, 22 Oktober 2015

Kerinduan Malam dan Rembulan di bulan September

Aku tak ingin menaklukkan wajahmu yang manis tapi yang ku ingin menaklukkan hatimu yang menangis...

Menangis dalam tidur
Jangan mendung purnamaku, Aku masih butuh keningmu untuk berjuang menaklukan matahari...

Nona aku bermimpi tentang senyummu yang menempel di hati, atas nama langit dan bumi yang ditulis oleh angin di laut samudra, Aku yakin bahwa hatimu berisi mutiara dan mata kejora wahai perempuan manis yang berselendang biang lala...
Barisan kata itu telah membuatku lupa akan tujuanku, membuatku rindu, membuat sesak dadaku

Aku merindukannya
Aku sangat merindukan mereka
Mungkin rasa sakitku akan hilang setelah bertemu dengan mereka
Malaikat hidupku, kalian adalah obat rinduku
Jangan murung purnamaku..
Ku tak bisa menyembunyikan kemurungan ini dari dunia
Kalau pean murung, tanpa kemunafikan. indahnya bunga di taman tak harum semerbak lagi baunya...
Aaahh, kata-kata itu terlalu indah tuk ditujukan padaku   
Bukan terlalu indah karna sangat pantas untuk diungkapkan sama bidadari yang berselendang biang lala...  
Baik-baik rembulan, Aku menunggu serpihan rindumu yang indahnya tiada tara...

Purnama merindu
Sumpah malam dicabik - cabik, diremas - remas, dan dipora - porandakan oleh kerinduannya yang sudah memuncak rembulan

Rindu yang tertunda, cuma hatimu yang bisa menjawab
Apa yang dirasakan hatimu?
Rembulan menyukai malam, ya rembulan menyukai malam. Itu dapat dirasakan saat rembulan tidak bertemu malam, rembulan begitu rindu
Hingga rembulan selalu menanti malam
Tidur tak nyenyak....
Terus terngiang - ngiang...
Rindu tak selebar siang tak sedalam malam...
apakah itu sebuah pengakuan?
Belum saatnya untuk diungkapakan, nunggu waktu yang tepat, yang jelas kita sama - sama suka

nduuk... Rindu...
Rembulan pun Rindu
Semoga malaikat mencatat kita, juga tetap bertemu di firdaus-Mu Tuhan..

Aku ingin bertemu denganmu sedetik saja..
Rindu menagih janji yang menyiksa..
Tapi lebih penting semangatmu perempuanku



Aku rindu malam saat menyapa rembulan
Malam lebih rindu saat rembulan menyapanya...
Kerinduan rembulan sampai alam mimpinya malam..
 
Semoga mimpi kita sama Nona...
Entah fiksi atau fakta di dunia yang fana ini, detak jantung sepakat bahwa langit menunggu bumi sedangkan purnama menanti malam..
sederhana Nona...
Sebait sajak indahku di curi surga, karena sajak itu tak pantas di ungkapkan di dunia Nona...
Atas nama Tuhan disebrang sana yang tak terlihat bayangannya...
Aku melihat orang-orang terbang di langit menggoda langit biru sana Tuhan, Aku hanya malam yang terus menunggu tangga untuk memelukmu rembulanku...
Darahku mengalir deras berdzikir tentangmu Nona...
Tenggelamkanlah aku dalam lautan rindu yang selalu mengganggu langit pikiranku Tuhan.. langit pikiranku Tuhan..
Rabiatul Adawiyah, rindu akan kerinduannya dan cinta akan cintanya Tuhan..

Sabtu, 21 Maret 2015

cerpen



Cinta Yang Terbalas
Malam yang dingin menyelimuti tubuh mungil Laura yang sedang menyembunyi - kan diri dibalik selimut yang sama sekali tidak membantunya. Jari – jarinya menekan tombol alphabet pada keyboard notebooknya. Ia sedang berchatting ria dengan seseorang yang baru dia sukai 2 minggu lalu. Namanya Farel. Perutnya mulai terasa melilit menunggu masakan nasi goreng Mamanya.
“ ah.. aku lapar.” Gumam Laura dari balik selimut.
“ Ariska ! Laura ! makan.” Teriak Mama Laura dari dapur.
“ akhirnya..” Laura segera bergegas meninggalkan kegiatan chattingnya setelah mendengar seruan dari Mamanya. Tanpa berpikir panjang, Laura pun langsung melahap nasi goreng yang pedas dengan rakus. Setelah mendapat tiga suap, Laura memutuskan untuk makan sambil melanjutkan kegiatannya berchatting ria. Setelah bersila dan memandang layar notebooknya, ternyata ia mendapat balasan pesan dari Farel. Ia segera membuka dan membacanya.
          Farel : aku boleh ngomong?
Pada saat itu jantung Laura berdetak cepat sekali. Seakan – akan, ia akan kehilangan jantungnya saat itu juga. Iya sedikit ragu, tetapi Laura memutuskan untuk membalasnya.
          Laura : boleh.
Setelah mengirim, Laura melanjutkan makan malamnya. Dia penasaran, sebenarnya apa yang ingin Farel bicarakan dengannya. Laura melihat layar notebooknya yang tidak menampilkan perubahan. Belum ada balasan.
“ kenapa lama sekali?” gumam Laura dalam hati. Tak lama kemudian terdengar nada pesan dari notebooknya. Laura bergegas membukanya.
          Farel : sebentar.
Laura terheran membaca pesan dari Farel. “ Aneh sekali” pikirnya. Laura memutuskan untuk tidak membalasnya. Iya melanjutkan memasukkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. Centing. Nada pesan masuk mengagetkan Laura. Ia menghentikan kegiatan makannya sejenak dan membaca pesan masuk.
          Farel: sebenarnya aku suka sama kamu. Maaf kalau aku tidak gentle karena aku tidak pintar berkata – kata. I Love You.
Laura tercengang membaca pesan dari Farel. Nafsu makannya hilang saat itu juga. Padahal nasi gorengnya masih tersisa setengah. Saat itu juga jantungnya terasa mau copot. Laura tidak menyangka, ternyata Farel juga menyukainya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Laura membalas pesan dari Farel.
          Laura : hah?
Hanya itu yang bisa Laura kirimkan ke Farel. Karena Laura masih syok dengan apa yang telah terjadi. Centing. Sekali lagi nada pesan mengagetkan Laura. Ia segera membacaya.
          Farel: lega. Terima kasih dan maaf karena sudah membuatmu kaget.  
Laura tidak percaya bahwa cintanya terbalaskan malam itu juga.