Kamis, 28 Agustus 2014

Puisi Anti Narkoba

Narkoba

Narkoba...

Penjilat dan pembunuh manusia

bahagia sesaat, menderita selamanya

narkoba hanya memberimu kematian

dengan narkoba hidupmu bukanlah kenyataan

namun hanya fiktif belaka

yang menjadi penjara bagimu dan bagi mereka

kau akan kehilangan cinta dan cita - cita

bukan terang tapi gelap gulita

bukan surga tapi neraka

bahkan Tuhan pun akan murka

terperosok ke dalam lubang jahanam

menunggu kebahagiaan datang

bersama jiwamu yang malang


Jumat, 25 April 2014

antara Aku dan Sahabat



Antara Aku dan Sahabat
            Pagi ini aku berjalan entah menuju kemana. Banyak orang yang memilih kegiatan hanya duduk – duduk santai karena jam kosong, ada juga yang melamun entah memikirkan apa. Mataku terus mencari – cari tempat yang sepi. Suatu ketika, mataku membelalak melihat sosok laki – laki yang turun dari tangga. Sosok berkulit sawo matang menyapaku dengan seutas senyuman. Entah kenapa aku merasa begitu senang. Tak sadar aku telah menginjakkan kakiku didepan ruang perpustakaan. Aku ragu, akhirnya aku memilih duduk dibangku panjang didepan ruang perpustakaan disebelah pos satpam. Aku mulai mengeluarkan alat tulisku, membetulkan posisi dudukku agar terasa nyaman. Aku menuangkan semua isi pikiranku ke dalam secarik kertas putih. Inilah aku, gadis cilik yang gemar menulis disela – sela kesibukan. Aku tersenyum melihat hasil karyaku. Aku mulai gelisah dan marah karena suasana yang tidak bisa diajak kompromi. Panas matahari yang begitu mencolok membuatku sesekali berkedip – kedip perih, suara mesin yang berlalu – lalang membuatku buntu. Aku memejamkan mata menunggu suatu keajaiban datang. Ehem. Seseorang berdehem cukup keras sehingga membuat mataku terbuka.
            “ lagi ngapain? Nulis lagi?” Tanya seseorang yang cantik dengan rambut terurai panjang.
            “ begitulah.” Jawabku sambil tersenyum. Dia adalah Risti sahabatku. Dia empat bulan lebih tua dariku. Dia sosok yang baik, tidak suka menyinggung perasaan orang lain. Dia gemar sekali membaca novel romantis. Aku dan sahabatku Risti bagaikan langit dan bumi karena sifat kita yang berbeda jauh. Baru kenalpun pasti orang langsung mengira kalau dia adalah orang yang baik. Sedangkan aku, dilihat dari sisi manapun, terlihat jelas kalau aku memiliki sifat yang mudah tersinggung dan cepat marah pula.
            Persahabatanku dan Risti sempat terputus hanya gara – gara masalah cowok. Waktu itu memang sikap Risti terlihat aneh. Sikap baiknya terhadapku seperti dia merasa bersalah dan sedang berusaha menebusnya. Tapi tentu saja aku tidak curiga, karena aku sangat percaya kepadanya. Suatu hari, lebih tepatnya pada hari Minggu, aku menerima sebuah pesan dari Risti. Nggak kaget sih, selama aku dan Risti sahabatan aku memang sering smsan sama dia. Entah apa yang kita berdua bicarakan dalam sms itu. Saat aku membaca pesan Risti, mataku membelalak dan mulutku ternganga. Pesan Risti berhasil membuatku syok dan naik darah. Tidak disangka sahabatku sendiri mengkhianatiku. Butiran air mata mulai mengalir dengan derasnya. Risti menusukku dalam – dalam dari belakang. Dia menyembunyikan fakta bahwa dia telah berpacaran dengan cowok yang aku suka. Lebih parahnya, dia sudah menjalani hubungan selama satu bulan. Aku marah bercampur malu, karena selama ini aku sering sekali cerita tentang cowok yang aku suka itu ke Risti. Dan sekarang Risti menjadi pacarnya. Lebih tepatnya sudah lama menjadi pacarnya. Aku merasa kalau aku ini benar – benar cewek yang paling bodoh di dunia. Dugaanku ternyata benar, selama ini Risti baik kepadaku karena dia merasa bersalah. Selama tiga hari aku bungkam mulutku rapat – rapat. Aku sama sekali tidak bicara ke Risti saat bertemu di sekolah maupun di kelas. Selama tiga hari itu pula aku berpikir, kalau sikapku seperti ini terus, masalahku dan Risti tidak akan bertemu ujungnya.
            “Hei, malah ditinggal melamun. Awas kesambet loh.” Kalimat Risti berhasil membuat lamunan fantastikku buyar.
            “ ganggu aja kamu.” Kataku sewot lalu mengeluarkan senyuman yang paling gila.
“ eits, jangan senyum – senyum. Idiih aku ogah liat senyumanmu itu.” Canda Risti. “ oke deh aku balik dulu, bye.” terus Risti sambil beranjak dari tempat duduk dan melambaikan tangan senang. Selama ini persahabatanku dan Risti berjalan dengan baik. Karena kami berdua memutuskan, daripada memikirkan cowok yang nggak jelas bakalan memikirkan kita. Mending kita memikirkan profesi yang sedang kita jalani masing – masing. Inilah cerita antara aku dan sahabatku.

Senin, 31 Maret 2014

Cerpen Pertamaku



“Because I Love You”
Teeett….
Bel sekolah berbunyi, tanda bahwa pelajaran dimulai…
“Good Morning, Child ?” Sapa Bu Lilis guru bahasa inggris di kelasku.
“Good Morning, Mom” serentak kami menjawab.
Sekarang aku kelas 2 SMA. Aku mendiami kelas XIA2. Di kelas, aku duduk di bangku tengah nomor dua dari depan. Aku sebangku dengan sahabatku Kalicya. Aku hanya mempunyai seorang sahabat saja. Bagiku Kalicya sudah merupakan sahabat yang paling baik sedunia. Kami sahabatan sejak kelas 3 SMP. Kebetulan aku se – SMA sama Kalicya dan sekarang se – kelas. Kenalin dulu namaku Veronica, biasa di panggil Vero. Aku suka banget sama yang namanya ice cream. Pelajaran bahasa inggris berjalan lancar karena aku sangat menyukai pelajaran yang satu ini. Teett…. Bel pergantian jam telah berbunyi. Selanjutnya pelajaran sejarah. Sayangnya saat pelajaran di mulai aku membuat ulah lagi seperti biasa, ngapain lagi kalau bukan buat ulah ngerjain temen abis - abisan saat pembelajaran berlangsung. Pada akhirnya aku di Strap dan dikeluarkan dari kelas. Apesnya lagi kelas sebelah, yaitu  kelas XIA3 sedang ada kelas kosong sehingga penghuninya pada nongrong didepan kelas. Artinya Galang juga ada di luar.
Mungkin sebaiknya aku ceritakan dulu siapa itu Galang. Dia itu mantan pacarku, kita jadian waktu kelas 3 SMP. Dari Dulu dia selalu aktif ikut kegiatan ekstrakurikuler basket sama seperti aku. Dia anaknya perhatian sama orang lain, sampai – sampai aku putus sama dia cuma gara – gara dia memberi perhatian lebih ke cewek yang ganjen sama dia. Dan karena nggak tahan, akhirnya aku putusin dia. Aku putus dengan Galang saat aku kelas sepuluh. Nyesel sih, karena sebenarnya aku itu masih sayang sama dia, apalagi dia sekarang makin keren dan makin popular. Tambah kesiksa deh, tiap hari ketemu dia. Sampai sekarang aku masih berkomunikasi sama dia. Tetapi tidak seakrab dulu. Aku salah tingkah pas Galang ngeliat aku keluar dari kelas. Aku langsung mengurungkan niatku pergi ke taman yang melewati kelas Galang dan membalikkan diri berjalan menuju kantin sekolah. Ternyata kantin begitu sepi, mungkin karena masih jam pelajaran. Aku duduk dikursi pojok dekat penjual.
“loh, kok udah keluar kelas mbak ?nggak ada pelajaran ya ?” Tanya Ibu penjaga kantin.
“iya Ibu, lagi distrap, gara – gara ketahuan ngerjain temen.” Jawabku lemes.
“oh begitu, mau pesen makan atau minuman ?” tawar penjaga kantin.
“mmm.. tidak usah Ibu, terima kasih.” Jawabku sopan.
Sementara aku menikmati hembusan angin yang sepoi – sepoi. Tak kusangka aku melamun, sehingga tak sadar ada seseorang yang duduk disebelahku. Setelah aku tersadar dari lamunanku, aku terkejut.
“Hai…ngelamun aja kamu.” sapa seseorang.
“Oh..Galang, enggak, aku nggak ngelamun.” jawabku gugup.
“kok keluar kelas? emang nggak ada pelajaran kamu,Ve?” Tanya Galang.
“ada sih, tapi aku lagi dihukum gara – gara ketahuan ngerjain temen di kelas. Kamu sendiri ngapain disini?” Jawabku sedikit malu.
“oh, mangkannya jangan usil mulu. Kalau aku lagi ngikutin kamu” jawab Galang tenang.
“oh, jadi kamu ngikutin aku?” Tanyaku penasaran.
“iya.” Jawab Galang santai.
“kebiasaan.” Jawabku sewot.
“sorry, jujur aku seneng banget sekarang aku bisa ngobrol berduaan sama kamu, Ve.” jawab Galang.
“udah ah, aku mau balik ke kelas. Aku lagi males ngomong.” Jawabku cuek sambil meninggalkan Galang. Tak lama kemudian, tepat didepan pintu masuk kantin, seseorang menarik pergelangan tanganku. Sehingga aku tersentak membalikkan badan dan langsung berada dipelukan seseorang.
“Galang ! apa – apaan sih kamu? Malu tau dilihat orang!” omelku sambil  meronta – ronta mencoba membebaskan diri.
“tetaplah seperti ini beberapa menit saja. Tetaplah seperti ini sebentar saja.” Kata Galang memohon. Mendengar kalimat Galang aku pun berhenti untuk membebaskan diri. Beberapa saat kami berdua terdiam tanpa ada satupun yang bicara. Tiba – tiba Galang melepaskan pelukannya. Aku hanya diam terpaku bisu seribu bahasa.
“terima kasih , karena kamu udah memberiku kesempatan untuk memelukmu.” Galang mulai bicara. “baca ya Ve?” Kata Galang sambil menyelipkan segenggam kertas ketanganku.
“ha? Apa?” tanyaku kaget.
“Dah Vero. Sampai jumpa nanti.” kata Galang sambil berlari kecil dan mengeluarkan senyum manisnya. Oh My God, apa aku sedang bermimpi? Aku baru saja berada dipelukan Galang. Dan apa ini? Ucapku dalam hati sambil melihat segenggam kertas ditanganku.
Nanti  jam  7  malam  aku  tunggu  kamu  di  Taman  kota.  Sampai  jumpa
Untuk :  Veronica

Aku hanya terdiam setelah membaca surat singkat dari Galang. Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus datang? atau tidak? Aku berpikir sambil berjalan menuju kelas. Teett… terdengar bel menandakan istirahat. Aku berlari menuju kelas, dan untung saja sahabatku Kalicya masih ada didalam kelas.
“darimana aja sih kamu Ve?” Tanya sahabatku Kalicya.“ lagian kamu pakek acara buat ulah segala, jadi dikeluarin kan.” Cemas sahabatku.
“eh,udah dong Cy wawancaranya, gimana mau jawab, kamunya aja nerocos terus.” Belaku.“ eh tau nggak…” terusku, tetapi belum sempat melanjutkan pembicaraan, Kalicya nelonyor aja jawab.
“enggak, emang kenapa?” jawab Kalicya tenang.
“Cy,  belum.” Jawabku sambil memukul ringan lengan Kalicya.
“oh maap, kirain udah waktunya jawab. Ayo terusin lagi.” Usil Kalicya
“tau nggak, tadi pas aku distrap, kan aku pergi ke kantin, nah tadi Galang nyamperin aku ke kantin.” Kataku seperti mendongeng.
“Ha? Galang? Trus trus?” Tanya Kalicya mulai penasaran.
“ya kita ngobrol, dan dia mau ngajak aku ketemuan nanti malem di taman kota.” Jelasku.
“apa? Gila tuh cowok,  jangan – jangan dia masih suka lagi sama kamu, Ve.” Ceplos Kalicya.
“dan dia meluk aku di kantin.”Jelasku tanpa memperdulikan ucapan sahabatku itu.
“apalagi coba kalau dia nggak masih suka sama kamu?” jelas Kalicya lagi dengan nada meyakinkan.
“ah nggak mungkin, apaan sih kamu ini, norak tau.”Jawabku membela diri.
“kamu seneng kan?Hayo hayo??”Tanya Kalicya sambil menodongkan jari telunjuknya kewajahku.
“apaan sih kamu ini. Udah ah.”jawabku malu.
“trus, kamu jawab apa? Mau datang? Atau kamu tolak?” Tanya Kalicya nerocos.
“aku belum jawab, dia aja nyampeinnya lewat surat. Gimana dong?” tanyaku mulai cemas.
“itu sih tergantung kamu Ve, kalau perasaanmu membolehkan ya datang aja.” jawab Kalicya membantu. Meskipun sebenarnya itu tidak membantu sama sekali.
“Mmm.. eh, aku baru inget, nanti pulang sekolah aku nggak bisa pulang bareng kamu Cy, nggak papa kan?” Tanyaku dengan nada minta maaf.
“yaa Vero, nggak asik lo, emang mau kemana sih? Latihan basket lagi?” Tanya Kalicya sewot.
“iyah nih, aku disuruh ke lapangan sama Pak Bondan, katanya sih sekalian mau ngenalin kapten tim basket cowok yang baru ke aku.”Jelasku merasa bersalah. “ apa kamu nungguin aku aja main basket? siapa tau ketemu pujaan hatimu nanti?” godaku karena melihat raut wajah Kalicya yang sewot.
“wiiih, gila kamu. Nggak ah. Ya udah deh nggak papa. Daripada nungguin kamu main basket, mending pulang, trus makan, trus tidur deh.” Jawab Kalicya dengan mengetup – ngetupkan jari telunjuknya kebibirnya.
“ih, Kalicya…nggak setiakawan banget. Di ijinin nggak nih?” tanyaku memohon.
“iya – iya, aku ijinin.” Jawab Kalicya sambil mengacak – acak rambutku.
“thank you my  bestfriend  sweety.”ucapku senang sambil memeluk Kalicya. Tak terasa bel istirahat telah berakhir, kami berdua memulai pembelajaran dengan lancar tanpa ada masalah lagi. Ditengah pembelajaran aku sempat berfikir tentang kejadian di kantin tadi. Tapi lamunan itu buyar setelah mendengar bel pulang sekolah. Aku langsung berlari menuju toilet untuk mengganti seragam sekolah dengan seragam basketku dengan nomor punggung favoritku yaitu lima. Dengan pedenya aku berlari menuju lapangan. Setelah aku sampai dilapangan basket, aku mendapati seorang cowok yang berdiri disebelah Pak Bondan. Pak Bondan adalah pelatih tim basket sekolah kami. Dan aku pun berhenti tepat disebelah Pak Bondan.
“siang Pak Bondan.” Sapaku kepada pelatih tim basket sekolahku.
“oh siang Vero, udah datang ternyata. Kalau begitu ini dia kapten baru tim basket cowok sekolah. Mungkin kamu sudah mengenalnya” Kata Pak Bondan sambil menunjuk cowok yang ada di sebelahnya. Spontan cowok itu membalikkan badan. Aku kaget banget ketika melihat bahwa cowok itu adalah Galang. Jadi anak itu naik jabatan. Sama dong kayak aku. Omelku dalam hati.
“ mohon kerja samanya,Ve.” kata Galang tersenyum sambil menjulurkan tangannya untuk mengajakku berjabat tangan.
“ha? oh, aku juga mohon bantuannya.” kataku terbata – bata sambil membalas jabat tangan Galang.
“loh Pak, tim yang lain kemana? Katanya mau latihan?” tanyaku saat menyadari bahwa hanya aku, Galang, dan Pak Bondan saja yang ada dilapangan.
“oh, bapak hanya berniat memperkenalkan kapten tim basket cowok yang baru. Ya udah, kalau gitu kalian latihan aja. Pak Bondan masih ada urusan di luar. Pak Bondan tinggal ya? Oh iya, kalian harus saling kerja sama.” kata Pak Bondan sambil merangkul tas ranselnya. Pak Bondan pun pergi meninggalkan kami berdua di lapangan basket.
“ hey, yuk latihan. Satu lawan satu.” Kata Galang sambil menyenggol lenganku.
“yuk, siapa takut. Week..” kataku jail sambil berlari kecil dengan bola basket ditangan.
“ nggak sopan.” Jawab Galang mengejarku dengan melebarkan senyumannya yang manis. Selama setengah jam kami berlatih sambil belajar kemampuan masing – masing. Tiba – tiba kakiku kram dan akhirnya aku terjatuh. Spontan Galang menoleh dan langsung berlari menghampiriku. Dia tampak cemas.
“Vero, kamu nggak papa?” Tanya Galang cemas.
“ nggak papa.” Kataku cuek. “Aw !” jeritku sambil mencoba berdiri
“gimana yang nggak papa, buktinya kamu kesakitan dan nggak bisa berdiri. Dalam keadaan kayak gini kamu masih aja bertingkah cuek.” Kata Galang nerocos. Kali ini sepertinya Galang bertingkah seperti anak cewek. Cerewet banget.
“ok, sorry. Kayaknya kakiku kram, sakit banget nggak bisa digerakin.” Jawabku kesakitan.
“sini aku bantu. Pegang pundakku ya.” Kata Galang mencoba membantu.
“nggak ah. Mmm.. Tapi baiklah,” jawabku pasrah. Tetapi usaha itu tidak ada gunanya.
“aaww!!” teriakku kesakitan. “aku nggak bisa berdiri Lang, gimana ini dong?” kataku sedikit cemas.
“ayo naik.” Kata Galang sambil menawarkan punggungnya untukku.
“gila lo Lang. nggak mau!” jawabku tak yakin. 
“ah lama.” Kata Galang sambil merangkul kedua tanganku dan menaruhnya di pundaknya. Dia pun berdiri dengan memegang kedua kakiku. Kami berdua pun berjalan menuju tepi lapangan untuk beristirahat. aku hanya terdiam kesakitan. Sesampainya di pinggir lapangan, Galang menurunkanku dan menyandarkanku ke tembok.
“thank’s..” kataku singkat.
“oke sama – sama .” jawab Galang sambil tersenyum. “ sini aku coba pijat.” kata Galang sambil memegang kakiku yang kram. Tanpa basa – basi aku menuruti kata Galang. Selama dipijat aku hanya meringis kesakitan..
KRAAAKK !!!
“aaaaaaa” teriakku kesakitan. “ gila, kamu mau matahin kakiku?” kataku kesal.
“udah selesai nih, gimana udah ngerasa enakan nggak?” tanya Galang tanpa memperdulikan ucapanku.
“eh iya lho, udah enakan, makasih ya.” jawabku sambil memijat – mijat halus kakiku.
 “ sama – sama.Ve, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Galang sambil bersandar ke tembok menatap Vero yang sedang asyik memijat - mijat kakinya.
" apaan?" Vero menoleh ke arah Galang sekilas.
"mau nggak jadi pacarku lagi?" spontan aku menoleh. Aku melihat Galang sedang memandangku, matanya begitu letih seakan memohon bantuan. Apa aku masih menyukai orang yang sedang memandangku sekarang? aku bertanya pada diriku sendiri. Ya, aku memang masih menyukainya. Aku pun tersenyum dan mengangguk perlahan. Aku melihat seberkas kebahagiaan di mata Galang. Mata yang begitu letih telah sirna yang di gantikan dengan sorot kegembiraan.
" trima kasih." Galang mengucapkannya dengan lembut. Aku hanya mengangguk untuk yang kedua kalinya. Tak lama aku teringat akan surat yang diberikan Galang sewaktu di kantin.
“oh iya, kayaknya nanti malem aku nggak bisa ketemu kamu di taman, kamu tau sendiri kan kalau keadaanku kayak gini. Memangnya ada apa sih?” Kataku mengingatkan tentang surat dari Galang yang diberikan kepadaku tadi.Galang hanya tersenyum.
“ oh itu, bukan apa - apa. Lagian itu udah nggak penting lagi.” Jawab Galang tenang.
“ Galang aku harus pulang sekarang.” kataku kaget setelah melihat jam tanganku yang menunjukkan jam setengah 4 sore.
“ ya udah, yuk aku antar.” Kata Galang sambil membantuku berjalan menuju mobil Honda Jazz-nya. Tanpa berganti seragam, kami berdua pun langsung melesat pulang. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk sampai di rumahku. Setelah aku turun dari mobil dan melambaikan tangan Galang langsung melesat pergi meninggalkan rumahku. Aku langsung memasuki rumah dengan kaki sedikit pincang. Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan diri. Tak lama kemudian aku bangun dan mencari ponselku di dalam tas. Setelah mendapatinya aku langsung menghubungi sahabatku Kalicya.
Tuut. Tuut. Tuut…
“ Halo?” Jawab suara lembut di seberang sana.
“ Halo! Kalicyaaa.. Aku jadian sama Galang.” saat mendengar suara Kalicya aku langsung berteriak.
“ ha? Yang bener lo Ve? Sejak kapan?” Tanya suara penasaran diseberang sana.
“ tadi, Galang nembak gue Cy, dia nembak gue..” jawabku meyakinkan.
“ gimana kejadiannya? Crita dong Ve?” Tanya Kalicya semakin penasaran.
“ critanya panjang, gini..” Aku pun mulai menjelasakan panjang lebar kepada Kalicya. Dari suara Kalicya, sepertinya dia merasa senang. “jadi gitu ceritanya.” Kataku mengakhiri cerita.
“wah selamat ya.” Kata Kalicya dari seberang sana.
“ya udah de, Cy. Sampai ketemu besok.” Kataku mengakhiri percakapanku dengan Kalicya.
“ok deh.” Jawab Kalicya senang. Setelah menutup telepon, aku langsung beranjak mandi karena hari sudah semakin sore. Karena habis main basket, kali ini aku mandi begitu lama. Maklumlah anak cewek, meskipun agak sedikit tomboy tapi tetap harus bersih dong. Setelah kurang lebih 15 menit, aku baru keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas menunaikan salat ashar. Karena begitu lelah, setelah salat tanpa melepaskan mukenah, aku langsung tertidur pulas di atas sajadah.
* * * *
            Teeettt. Teeettt….
Tepat saat aku melangkahkan kakiku ke dalam sekolah, bel tanda masuk sekolah berbunyi.
Aku berlari disepanjang lorong menuju kelas, tiba – tiba saja…
            Brraaaaakk !!!
“ aduh….!” Kataku kesal, aku terjatuh karena menabrak seseorang. Semua buku yang tadinya aku gendong jatuh berantakan di lantai.
“ aduh, maaf ya. Sini aku bantuin bangun.” Kata seorang cowok sambil mengulurkan tangannya..
“ makasih.” Jawabku sambil memegang tangan seseorang.
“sama – sama.” Kata cowok tersebut dengan senyumannya yang manis. Tanpa menghiraukannya setelah aku membereskan kembali bukuku yang tadinya terjatuh dengan di bantu cowok tersebut, aku langsung berlari kembali menuju kelas. Dan akhirnya aku pun sampai di depan kelas. Tiba – tiba dari kelas sebelah seseorang memanggil namaku.
“ Vero! Veronica!” Galang melambaikan tangannya sambil memanggil namaku dengan suara yang cukup keras.
“ haaii !” jawabku sambil melambaikan tangan pula. Lalu aku bergegas masuk ke kelas karena pembelajaran akan segera di mulai. Selama pembelajaran berlangsung, kali ini aku tidak bisa focus. Aku terus berpikir, siapakah cowok yang tadi menabrakku? Sepertinya aku belum pernah melihatnya di sekolah. Apa mungkin murid baru? Ah ngapain juga aku mikirin orang itu? Pertanyaan – pertanyaan tersebut terjawab saat Ibu Kepala Sekolah masuk ke kelasku dengan di ikuti seorang cowok di belakangnya.
“ pagi anak – anak.” Sapa Ibu Kepsek kepada kami.
“ pagi bu…” kami menjawab serentak.
“ kedatangan Ibu kemari karena kalian semua kedatangan teman baru. Namanya Bagas. Dia pindahan dari Bali,dia ke Jawa karena ayahnya di tugaskan di Jawa. Ibu harap kalian bisa membantu dan berteman akrab dengannya. Kalau begitu Bagas, silahkan kamu menempati bangku yang masih kosong. Kalau begitu saya permisi, silahkan lanjutkan pembelajarannya.” Ibu kepala sekolah bergegas keluar dari kelasku.
“ Ternyata dugaanku benar kalau dia itu murid baru.” Kataku dalam hati. Bagas berjalan menuju bangku kosong tepat berada di sebelah kananku.
“ hey, bukannya kamu anak yang tadi?” sapa Bagas kepadaku, aku pun langsung menoleh.
“ oh, iya.” Jawabku cuek tanpa memperdulikan ucapannya. Bagas hanya membalas dengan senyumannya yang manis untuk kedua kalinya. Bagas begitu tampan saat tersenyum, kulitnya sedikit hitam. Mungkin karena pengaruh cuaca di Bali. Tingginya sama dengan Galang. Pembelajaran berlangsung cukup baik. Tak terasa waktu istirahatpun tiba.
“ Vero, yuk ke kantin, laper nih.” Ajak Kalicya sambil menggoyangkan badanku.
“ oke tunggu bentar.” Jawabku singkat sambil membereskan buku. Setelah membereskan buku, aku dan Kalicya bergegas menuju kantin sekolah. Di tengah perjalanan tiba – tiba seseorang memelukku dari belakang.
“ mau ke mana nih? Kok nggak ajak – ajak Galang yang tampan dan baik hati ini.” Tanya Galang dengan gayanya yang sok kegantengan.
“ ih Galang, so sweet banget sih, aku juga mau dong di peluk.” jawab Kalicya dengan kedua tangan yang direntangkan.
“ daripada di peluk Galang, sini aku peluk aja.” Ajakku sambil merangkul Kalicya.
“hahahahaha…” semua tertawa lepas melihat tingkah laku kami berdua yang konyol. Sesampainya di kantin, kami bertiga langsung menuju tempat favorit kami yang ada di pojokan. Kami bercanda bersama seperti udah nggak ketemu sahabat selama setahun. Tiba – tiba seorang cowok menghampiri tempat dimana kami duduk.
“halo semua, boleh gabung?” Tanya seseorang bernama Bagas kepadaku.
“ oh boleh.” Jawab Galang sambil menoleh ke arah Bagas.
“terima kasih.” Kata Bagas sambil menempati kursi yang masih kosong.
“eh, tunggu deh. Kayaknya aku belum pernah melihat kamu di sekolah sebelumnya?” Tanya Galang penasaran.
“iya, dia baru di sekolah ini.” Kataku tanpa mempedulikan Bagas.
“ oh iya, aku murid baru di sekolah ini. Kenalin aku Bagas dari kelas XIA2.” Jawab Bagas sambil mengulurkan tangannya.
“ aku Galang.” Kata Galang sambil menjabat tangan Bagas.
“ Bagas, kamu ganteng banget sih. Eh Galang, hati – hati loh karena kamu punya saingan sekarang. Jangan sampai lepas tuh si Veronica. Hehe” kata Kalicya menggoda Galang dan Bagas.
“ ya enggak lah Cy, Vero kan anaknya setia. Iya nggak Ve??” jawab Galang sambil menyenggolku.
“ ha? iya.” Jawabku singkat.
“ emang kamu setia, Ve?” kali ini goda Galang kepadaku.
“ nggak tau ya.” Jawabku sambil melirik kearah Galang.
“ huu.. kamu ini. Dasar.” Kata Galang sambil mengacak – acak rambutku. Kami pun kembali tertawa.
“ oh, jadi kalian pasangan?” Tanya Bagas kepada Galang.
“ iya, kami berdua pacaran. Jadi jangan coba – coba deketin Vero. Iya kan Ve?” Tanya Galang kepadaku. Aku hanya menjawab Galang dengan senyuman. Kami pun berbincang – bincang, mendengarkan cerita tentang Bagas sewaktu berada di Bali. Tetapi, tak sengaja aku melihat Bagas yang sedang memandangiku. Bagas pun langsung mengalihkan pandangannya dariku. Mungkin karena dia tahu kalau aku sedang melihatnya. Tak terasa waktu istirahat telah habis. Kami semua segera menuju ke kelas masing – masing. Sesampai di depan kelas, kami berpisah dengan Galang. Ya taulah, Galang kan nggak satu kelas sama aku. Pembelajaran hari ini berjalan dengan baik. Bel pulang sekolahpun berbunyi, kami berdua pun keluar dari kelas dan bergegas untuk pulang.
“ Veronica !!” panggil Galang dengan melambaikan tangannya di depan kelasnya.
“ Cy, maaf ya aku nggak bisa pulang bareng kamu lagi. Aku hari ini pulang sama Galang. Maaf ya??” kataku merasa bersalah.
“ aduh, ngapain sih minta maaf. Nggak papa kok.” Jawab Kalicya menenangkanku.
“Kalicya kan?” tiba – tiba Bagas muncul dari belakang.
“oh Bagas, iya aku Kalicya. Ada apa?” Tanya Kalicya.
“mau pulang bareng sama aku? sepertinya Vero nggak bisa pulang bareng kamu.” Ajak Bagas santai.
“beneran nih? Ya udah deh aku mau.” Jawab Kalicya senang.“Ya udah aku pulang dulu ya Ve, bye bye.” Jawab Kalicya dengan senyumannya yang menandakan kalau dia tidak marah.
“ thank’s. bye bye” kataku sambil melambaikan tangan kepada sahabatku. Aku pun bergegas menghampiri Galang yang sudah menunggu di depan kelasnya sedangkan Kalicya dan Bagas pergi meninggalkanku.
“ loh, Kalicya pulang bareng Bagas?” Tanya Galang sambil melirik Kalicya dan Bagas yang mulai menghilang.
“iya, tadi Bagas nawarin pulang bareng ke Kalicya.” Jawabku santai.
“sepertinya dia tadi seneng banget?” Tanya Galang lagi.
“he.em, aku juga ikut seneng ngeliat Kalicya seneng banget tadi. Kayaknya Kalicya suka sama Bagas deh.” Jelasku sambil tersenyum bahagia mengingat tingkah laku Kalicya tadi.
“bagus deh kalau gitu. Oh iya, Ve, hari ini kita di suruh latihan sama Pak Bondan. Kamu kasih tau anggota yang cewek dan aku kasih tau anggota yang cowok. Kita ketemuan lagi di lapangan basket.” Jelas Galang sedikit panik.
“ oke deh. Siip.” Jawabku sambil menunjukkan ibu jariku. Galang menarik tanganku dan mencium dahiku. Kami berdua pun bergegas mencari anggota masing – masing. Setelah semua sudah berkumpul, aku dan anggota basket cewek lainnya bergegas menuju ke lapangan basket. Ternyata di sana Galang dan anggotanya sudah mulai latihan. Aku pun mulai berlatih bersama dengan anggota tim basket cewek lainnya. Di tengah latihan, aku menepi untuk istirahat sejenak dan karena merasa haus, aku mengambil botol minumanku. Tapi belum sempat membuka tas tiba – tiba Galang menyodorkan botol minuman.
“ ini..” kata Galang sambil mengulurkan botol minuman.
“ ah, makasih. Tau aja nih kalau lagi haus” balasku sambil mengambil botol minuman yang diberikan Galang.
“ kan hatiku sama hatimu udah nyatu.” jawab Galang sambil mencubit pipiku.
“hey, apaan sih, malu tau, tuh di liatin sama temen – temenmu.” Kataku sambil memukul halus Galang dan melirik ke arah segerombolan anak yang sedang nguping.
“ ciwee, ciwee… si Galang lagi dimabuk asmara ni yee..” jail temen – temen tim basket Galang.
“ hey apaan sih kalian. Norak tau.” Jawab Galang sambil mengejar teman - temannya keliling lapangan.
“ hahaha, kayak anak kecil.” Kataku sambil menertawakan tingkah mereka yang konyol.
“ semoga hubungan kalian langgeng ya. Mungkin dengan begitu pasti Galang tambah giat berlatih.” kata Pak Bondan kepadaku.
“ oh Pak Bondan. Iya semoga saja.” jawabku sambil tersenyum. Kami pun melanjutkan latihan karena hari semakin sore. Tak terasa hari sudah sore. Priiiiitt.
“ ayo kumpul sini semua” kata Pak Bondan sambil meniup peluitnya. Setelah kami semua berkumpul, Pak Bondan mulai mengoreksi kesalahan kami masing – masing. Untungnya aku dan Galang selaku ketua tim basket tidak mendapat kritikan yang pedas dari Pak Bondan. Kami berdua hanya diberi nasihat untuk mengontrol anggota masing – masing, karena pertandingan basket antar sekolah sudah tinggal beberapa hari lagi. Latihan hari ini pun berjalan dengan lancar. Dengan adanya Galang yang selalu ada di sampingku, aku tidak perlu merasa khawatir.
* * * *
Hari ini matahari begitu menyengat, tetapi itu tidak mengurangi semangatku untuk bertanding basket. Acara akan di mulai pukul 13.00. Aku pun bersiap – siap memasukkan barang – barang yang perlu – perlu saja. Tiin.. tiin… suara klakson mobil berbunyi terdengar dari kamarku yang berada di lantai atas. Aku mengintip dari jendela, tampak Galang yang baru keluar dari mobilnya. Pandangannya langsung menuju jendela kamar tempat aku melihatnya. Galang melambaikan tangan, aku bergegas turun dan menyambar roti di meja makan.
“ loh nggak makan dulu Ve?” Tanya Mama yang sedang duduk santai menonton tv.
“telat ma, Vero udah telat. Tuh yang jemput udah datang.” Jawabku sambil menoleh ke depan rumah.
“Galang yang jemput?” Tanya mama lagi.
“iya. Udah dulu ya Ma, Vero mau berangkat dulu.” Jawabku sambil berjalan ke luar rumah. Mama mengikutiku dari belakang. Sesampai di luar, ternyata Galang sudah menunggu di depan pintu.
“ berangkat dulu Tante.” Kata Galang sambil meminta restu dan mencium telapak tangan Mama. Aku pun menyusul mencium telapak tangan mama pula. Kami berdua pun menuju mobil Honda Jazz Galang yang terparkir di depan rumah.
“hati – hati nyetirnya nak Galang” kata mama sedikit berteriak.
“iya Tante.” Jawab Galang sopan dengan senyumannya yang manis.
“dah mama.” Kataku sambil melambaikan tangan dari dalam mobil. Mama membalas lambaianku lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Waktu menunjukkan pukul 12.20, Galang mengendarai mobilnya sedikit cepat. Setelah sepuluh menit kami berdua sampai di sekolah. Kami bergegas masuk dan menuju ruang ganti. Ternyata di sana teman – teman sudah berkumpul.
“ Pak Bondan belum kesini?” tanyaku kepada teman – teman yang tampaknya lagi pemanasan.
“ belum, mungkin bentar lagi datang.” Kata salah satu teman dari tim basket putri. Tetapi belum sempat aku melanjutkan, Pak Bondan memasuki ruang ganti.
“ udah siap semua?” kata Pak Bondan memastikan.
“ siap pak.” Jawab kami serempak.
“ kalian masih ingat kan strategi kita kemarin” Tanya Pak Bondan sekali lagi. Kami semua menjawab dengan mengangguk.
“ bagus. Sekarang kita ke lapangan. Ayo cepat cepat!!” kata Pak Bondan menyuruh kami bergegas. Pertandingan tim Putri segera di mulai. Aku dan teman – teman lainnya berkumpul membentuk lingkaran kecil. Kami semua berdoa menurut kepercayaan masing – masing. Pertandingan pun di mulai. Wasit meniup peluitnya tanda pertandingan di mulai. Pertandingan tim putri berjalan lancar, hanya saja tim basket  kami telah melakukan pelanggaran satu kali. Babak pertama telah selesai, kami diberi waktu lima menit untuk istirahat. Aku dan teman – teman segera menepi dan menuju pelatih kami Pak Bondan.
“ permainan kalian bagus. Pertahankan anak – anak.” Sambut Pak Bondan kepada kelompok kami.
“ tapi kita melakukan pelanggaran, Pak.” Kata ku setelah meneguk minuman.
“itu tidak masalah, yang terpenting kerjasama antar tim, yang penting bukan pelanggaran berat dan tidak membuat salah satu anggota di keluarkan.” Jelas Pak Bondan. Priiiit …. Peluit wasit berbunyi tanda babak kedua di mulai. Aku dan teman – teman bergegas berlari menuju lapangan. Pertandinganpun dilanjutkan. Waktu menunjukkan kurang lima menit pertandingan akan berakhir, tim kami berhasil memasukkan bola. Aku terus mendribble dan mengumpankan bola kesana – kemari kepada temanku. Priiiit…. Pertandinganpun berakhir. Tim kami telah memenangkan pertandingan dengan skor 40 – 13. Kami semua bersorak kegirangan. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju Galang dan langsung memeluknya. Sambil memelukku, Galang mengangkat tubuhku di pelukannya. Tim basket putri mendapatkan juara pertama. Sekarang tersisa pertandingan tim basket putra.
“semangat ya sayang.” Kataku menyemangati Galang.
“oke, trims.” Jawab Galang sedikit gugup. Sebelum berlari ke lapangan Galang mencium dahiku. Aku membalasnya dengan senyuman bahagia. Pertandinganpu di mulai, sayangnya pertandingan tim basket putra tidak se lancar saat pertandingan tim basket putri. Banyak sekali permainan kasar yang dilakukan tim lawan. Tetapi meskipun begitu tim basket putra tetap mempertahankan kerjasama tim. Tapi sayang sekali, tim basket putra tidak meraih juara pertama melainkan meraih juara ke dua. Meski begitu, pelatih kami Pak Bondan tetap bangga dan tetap memberi semangat kepada kami. Pertandingan basketpun selesai. Aku dan Galang bergegas keluar meninggalkan stadion dan pergi ke restoran dekat stadion.
“capek juga ya. Benar – benar pertandingan yang melelahkan.” Kata Galang memulai pembicaraan saat kami berdua menemukan kursi yang kosong di dekat pintu masuk restoran.
“iya, benar banget. Nggak biasanya aku menghabiskan satu botol minuman. Sekarang malah laper banget.” Jawabku sambil mengelus perutku yang daritadi keroncongan.
“mau pesan apa kamu, Ve?” Tanya Galang sambil melihat – lihat menu makanan.
“Mmm.. mana ya? Ah ini dia. Aku pesen nasi goreng pedas telur mata sapi. Hehe “ jawabku sambil menunjuk makanan yang aku pesan.
“ ah iya aku lupa, selera kita kan sama.” Sahut Galang. “ oke aku juga pesen itu.” Kata Galang sambil menutup buku menu. Lalu Galang memanggil pelayan yang tak jauh dari meja kami berdua, dengan lancarnya Galang menyebutkan makanan dan minuman kepada si pelayan. Setelah selesai mencatat, pelayan tersebut pergi meninggalkan kami berdua.
“ngomong – ngomong, tadi waktu aku tanding sekilas aku liat Kalicya sama Bagas di bangku penonton. Mereka dimana ya sekarang?” tanyaku kepada Galang.
“iya ya, aku juga ketemu mereka tadi.” Jawab Galang bingung.
“jadi ngerasa nggak enak, sekarang aku jadi jarang keluar bareng Kalicya lagi semenjak sibuk latihan basket.” pikirku merasa bersalah. Nggak nyangka orang yang sedang di bicarakan muncul menghampiriku.
“wah aku cariin ternyata disini.” Kata Kalicya kesal.
“maaf nih, aku tadi buru – buru kesini, jadi lupa sama kamu. Baru aja aku sama Galang ngomongin kamu sama Bagas. Eh nggak taunya panjang umur juga yang dibicarakan, langsung muncul.” Jawabku usil.
“kita boleh gabung kan?” Tanya Kalicya sambil melirik dua kursi yang masih kosong.
“ya boleh lah.” Jawab Galang sambil menyuruh Kalicya dan bagas duduk. Setelah Galang membolehkan Kalicya dan Bagas bergabung, mereka berdua langsung memesan makanan. Setelah cukup lama, kami berempat akhirnya selesai makan.
“Cy, mau pulang bareng?” tawarku kepada Kalicya.
“Kalicya pulang bareng aku. Tadi aku udah janji mau nganterin dia pulang.” Sahut Bagas.
“iya, aku pulang bareng pacarku aja, Ve.” Jelas Kalicya.
“wow, kalian udah jadian?” tanyaku penasaran sambil menunjuk Kalicya dan Bagas secara bergantian.
“iya dong.” Jawab Bagas sambil merangkul Kalicya.
“wah selamat ya, aku jadi ikut seneng. Ya udah deh, aku sama Galang pulang dulu ya?” tanyaku sambil beranjak dari tempat duduk.
“oke.” Jawab Kalicya sambil mengacungkan jempolnya. Aku dan Galang pergi meninggalkan restoran. Aku dan Galang masuk kemobil Galang yang terparkir didepan stadion. Di perjalanan, Galang memulai pembicaraan.
“ada yang aneh dengan Bagas.”kata Galang memulai.
“aneh? Aneh gimana maksud kamu?” jawabku.
“ya aneh, kayaknya dari kemarin - kemarin aku perhatiin dia merhatiin kamu terus. Bukannya itu aneh?” jelas Galang.
“ah masak sih? enggak ah.” jawabku sambil menggaruk - garuk rambut.
“ih kamu ini yaa” kata Galang sambil mencubit ringan pipiku.
“eh eh apaan sih, sakit tau.” Jawabku sewot sambil mengelus – elus pipiku.
“gitu aja sewot.” Kata Galang sambil melihat kaca spion.
“udah kamu itu nyetir aja, focus kedepan.” kataku sambil menunjuk kearah depan.
“eh Ve, bukannya itu mobilnya Bagas? bener nggak sih?” kata Galang sambil bolak - balik melihat kaca spion mobilnya.
“ha? mana?” kataku sambil menoleh kebelakang. “eh iya lo, itu mobilnya Bagas.” terusku setelah merasa yakin.
“bener kan apa yang aku bilang. Dia itu suka sama kamu. Tuh buktinya dia ngikutin kita.” Kata Galang kesal.
“jangan nuduh dulu, dia kan udah jadian sama Kalicya. Lagian dia nggak sendirian, ada Kalicya disebelahnya. Dia itu lagi nganterin Kalicya pulang. Rumah Kalicya kan searah sama rumahku. Jadi ya pantes lah kalau Bagas ada dibelakang. Udah ah jangan mikir yang enggak  -  enggak.”jawabku nerocos. Galang hanya mengangkat bahunya. Diperjalanan kami berdua tidak mengobrol lagi. Untungnya kami berdua sudah sampai didepan rumahku. Aku bergegas keluar.
“hati - hati dijalan. Bye.” kataku sambil melambaikan tangan. Galang membalas melambaikan tangan lalu melesat pergi. Aku sedikit berlari saat masuk kerumah.
“aku pulang.”kataku mengucapkan salam sambil berjalan menuju kamar.
“nggak pulang sama Galang?” Tanya mama dari balik dapur.
“iya bareng, cuma Galang langsung balik tadi.” jawabku sambil menutup pintu kamar. Aku merebahkan diri dikasur. Begitu nyaman.
“ya ampun,aku belum sholat ashar. Nggak boleh tidur.” aku beranjak pergi kekamar mandi. Setelah cukup lama mandi dan wudhu, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menunaikan ibadah salat ashar.
* * * *
Tuk tuk tuk
Aku memukul - mukulkan pensil kemeja merasa begitu bosan karena hari ini tidak ada satupun guru yang masuk ke kelasku. Kami hanya diberi tugas - tugas yang begitu banyak.
“kenapa sih, Ve? Kok kayaknya kamu lemes gitu? Lagi marahan sama Galang?” Tanya Kalicya yang mulai terganggu oleh kebisingan yang kubuat. Aku hanya menggelengkan kepala.
“trus kenapa kamu? Laper?” Tanya Kalicya lagi.
“enggak, udah ah tanyanya, kamu terusin ngerjakan tugas sana.” Jawabku karena Kalicya tidak berhenti melontarkan pertanyaan.
“gimana aku mau focus ngerjakan tugas, kamunya aja berisik.” Marah Kalicya padaku.
“ya udah deh maaf.” Kataku dengan tidak bersemangat.
“iya aku maafin. Jangan berisik lagi.” Kata Kalicya sambil menuntutku dengan mengacungkan jari telunjuknya. Kalicya pun kembali serius pada tugas sekolahnya dia pun tenggelam dalam tugas - tugasnya. Kali ini aku mencoba memejamkan mata. Tak lama kemudian Galang datang dan merangkulku dari belakang.
“hayo, lagi ngapain? Kok kayaknya pada bete gitu?” Tanya Galang.
“loh kamu nggak ada kelas, Lang?” Tanya Kalicya kaget.
“ini kan waktunya istirahat. Tadi sih nggak ada, kelasku cuma diberi tugas daritadi.” Jawab Galang sambil mengangkat bahu.
“ah iya, aku lupa. Kelasku juga hanya diberi tugas.” Kata Kalicya sambil bersandar santai kekursi.
“mungkin lagi ada rapat. Kenapa Vero?” Tanya Galang sambil melirik kearahku.
“tau tuh Vero, lagi nggak semangat hari ini.” Jawab Kalicya.
“ngomong - ngomong Bagas kemana?” Tanya Galang melihat bangku tempat duduk Bagas yang kosong.
“lagi ke kantin tadi sama temen - temen yang lain.” Jawab Kalicya tenang.
“gimana hubungan kamu sama Bagas? Lancar - lancar aja kan?” Tanya Galang lagi.
“ya gitu deh, kayak kamu sama Vero. Tapi akhir - akhir ini dia jarang ngobrol sama aku sama Vero.” Jawab Kalicya dengan wajah murung.
“kok bisa? Lagi marahan?” Tanya Galang penasaran.
“enggak. Hubunganku sama Bagas baik - baik aja. Mungkin dia lagi ada masalah dan pengen sendiri. Ya kamu tau sendiri lah.” Jawab Kalicya sambil mengangkat bahu.
“iya juga sih, ngomong - ngomong kenapa Vero nggak bangun - bangun sih?” Tanya Galang sambil duduk didepan bangkuku.
“capek mungkin. Daritadi dia nggak semangat gitu.” Jawab Kalicya sambil memandangiku.
“kasian juga.” Kata Galang sambil mengelus rambutku. Karena merasa terganggu, aku terbangun dengan malas.
“loh ada Galang? Sejak kapan ada disini? Aku kok nggak tau?” tanyaku kaget karena melihat Galang yang ada didepanku.
“mangkannya jangan tidur mulu.” Kata Kalicya sambil tertawa kecil. Aku hanya menggaruk - ngaruk kepala.
“ke kantin yuk, males nih di kelas. Nggak ada kerjaan.” Ajakku sambil beranjak berdiri dan menarik tangan Galang dan Kalicya. Kami bertiga akhirnya memutuskan pergi ke kantin. Sesampai di kantin, kami mendapati Bagas sedang bercanda dengan teman - temannya.
“hey Bagas?” teriak Galang sambil melambaikan tangan.
“oh hai, sebentar aku akan kesana” sahut Bagas sambil berjalan menuju meja tempat aku, Kalicya, dan Galang duduk.
“ke kantin juga? Kirain masih demen nunggu di kelas.” Tanya Bagas sambil menarik kursi disebelah Kalicya.
“nggak betah sebenernya. Mangkannya kita kesini.” Jawab Kalicya dengan merapikan cara duduknya. Bagas hanya membalas jawaban Kalicya dengan mengacak - acak rambut Kalicya yang pendek. Kami semua tertawa bersama.
“Kalicya mau pesen apa?” Tanya Galang.
“pesen mi bakso aja.” Jawab kalicya sambil menutup buku menu.
“oke. Bentar ya aku pesenin dulu.” Kata Galang lalu pergi meningggalkan kami bertiga. Sementara Galang sedang memesan makanan, tiba - tiba saja….
“auw..” jeritku sambil memegangi perut.
“Ve, kamu nggak papa? Kamu sakit? Ke UKS yuk, aku anterin.” Cemas Kalicya.
“tapi Galang gimana? Nanti dia nyariin kita.” Tanyaku dengan raut wajah yang mulai pucat.
“udah tenang aja, biar aku yang kasih tau Galang. Kamu pergi ke UKS sama Bagas ya?” jelas Kalicya lalu pergi meninggalkan aku dan Bagas.
“yuk, pegang pundakku.” Perintah Bagas sambil membantuku berdiri. Kami berdua pun menuju UKS. UKS begitu sepi, padahal kalau hari - hari biasanya UKS rame, karena banyak anak kader yang ngumpul. Bagas membantuku naik ketempat tidur.
“terima kasih.”  Kataku sambil berusaha untuk duduk.
“iya sama -  sama. Kamu tidur aja, biar aku jaga disini.” Kata Bagas sambil berjalan menuju kursi dekat tempat tidurku. Tanpa rasa khawatir, aku mulai memejamkan mata dan langsung tertidur. Entah berapa lama aku tertidur, mungkinkah aku sedang bermimpi? Ataukah ini nyata? Perlahan – lahan aku membuka mata. Melihat keadaan sekarang, aku langsung terjaga dari tidur pulasku. Aku langsung mendorong Bagas menjauh dariku.
PLAAAAAAKK !!
Sebuah tamparan dari tanganku mendarat ke pipi sebelah kiri Bagas.
“aa…aapa.. yang kau lakukan padaku?” tanyaku ketakutan. Tak ku sangka Bagas berani menciumku, entah sejak kapan.
 “aku menyukaimu Veronica. Aku menyukaimu.” Kata Bagas sambil berusaha memegang kedua tanganku.
“kamu! Kamu sudah memiliki Kalicya, dan aku memiliki Galang. Kamu tau itu! Tapi kenapa kamu melakukan ini padaku?” marahku sambil menghempaskan tangan Bagas yang masih berusaha memegang tanganku.
“karena aku menyukaimu Veronica. Kamu tau? Aku berpacaran dengan Kalicya hanya untuk, agar aku bisa mendekatimu.” Jelas Bagas kepadaku.
“apa kamu benar – benar menyukai Vero?” Tanya seseorang dari pintu masuk UKS dengan seorang cewek dibelakangnya.
“Galang,  aku tidak bermaksud…” sebelum aku menyelesaikan kalimatku,  aku melihat Kalicya berlari pergi meninggalkan UKS. ”Kalicya jangan pergi aku bisa jelasin semuanya…” teriakku sambil mengejar Kalicya. Aku menyusul Kalicya dengan keadaan perut yang masih sakit. Sesampai didalam kelas, aku melihat Kalicya sedang duduk termenung.
“Kalicya, aku minta maaf.” Kataku memohon. Tetapi alhasil Kalicya malah mengeluarkan air mata.
“Vero….” kata Kalicya akhirnya sambil memelukku dan terisak – isak. “ aku tau, aku tau ini akan terjadi.” Kata Kalicya memulai.
“maksudmu apa? Apa yang akan terjadi?” tanyaku penasaran sambil menggoyang – goyangkan tubuh Kalicya.
“aku tau kalau Bagas tidak menyukaiku, selama ini dia berpacaran denganku dia hanya terus bertanya tentang kamu, Ve. Apalagi pada waktu kita pulang dari makan siang setelah pertandingan basket kamu, aku meminta Bagas untuk mengantarku pulang. Tapi apa yang dia lakukan, dia malah membuntuti kamu dan Galang agar dia tau rumah kamu.” Jelas Kalicya, tangisannya mulai berhenti.
“aku minta maaf, Ve. Aku ingin sekali memeritahumu, tapi aku takut karena Bagas mengancamku. Dia mengancam akan memutuskan hubungan persahabatan kita, aku nggak mau itu terjadi. Dan selama ini aku hanya cerita ke Galang. Karena menurutku hanya Galang yang bisa membantuku.” Jelas Kalicya dengan penuh penyesalan. Aku tidak kuat melihat penderitaan yang telah dialami sahabatku, dia berkorban banyak demi mempertahankan persahabatanku dengan dia. Oh Kalicya.. kenapa kamu melakukan itu semua. Omelku dalam hati.
“jadi… Galang tau?” tanyaku pelan kepada Kalicya. Kalicya hanya menganggukkan kepala.
“oh astaga…” aku mulai lemas mendengar semua pernyataan Kalicya. “ dan tadi, ketika aku kesakitan, kenapa kamu memberi kesempatan kepada Bagas untuk mengantarku ke UKS? Kalau seandainya bukan Bagas tapi kamu yang nganterin aku, kejadiannya nggak akan kayak gini.” tanyaku mengingat kejadian di kantin.
“ya aku memang salah, aku salah. Waktu itu, sebenarnya aku akan menyuruh Bagas yang menemui Galang, tapi dia memberi isyarat agar aku saja yang menemui Galang. Dan aku menurutinya. Maafkan aku Ve, aku takut.” Jawab Kalicya yang mulai mengeluarkan air mata lagi dengan tubuh yang bergetar.
“cukup, kamu nggak salah Cy.” Kataku menenangkan Kalicya. Suasana menjadi hening setelah Kalicya menceritakan semuanya padaku.
“kamu beruntung, kamu memiliki Galang yang sayang sama kamu.” Kata Kalicya memecah keheningan.
“ya, because me I love him.” Jawabku sambil memeluk erat Kalicya.
* * * * 
Enam bulan kemudian….
Tepat pada tanggal 25 Desember 2013. Kalicya telah putus dengan Bagas, dan hubunganku dengan Galang semakin baik semenjak kejadian yang membuat kami bertiga frustasi.
“pagi Kalicya… ayo bangun dong..” kataku sambil menarik – narik kaki Kalicya.
“ah masih malam tau.” Jawab Kalicya malas.
“hey ini udah subuh. Ayo cepat bangun. Mandi trus salat, trus kita olah raga.” Ajakku sambil menarik selimut dan menyeret Kalicya sampai terjatuh ke lantai.
“auw… iya iya aku bangun.” Kata Kalicya sambil berjalan menuju kamar mandi. Hari ini aku menginap di rumah Kalicya agar Kalicya melupakan kejadian yang lalu. Dan sepertinya Kalicya mulai terbiasa melupakan Bagas. Hari ini hari Minggu yaitu hari ulang tahunku.
“udah siap?” tanyaku kepada Kalicya.
“siap, yuk berangkat.” Jawab Kalicya sambil berjalan mendahuluiku. Kami berdua pun pergi berolahraga di sekeliling kompleks.
“oh ya, Happy Birthday my bestfriend Veronica.” Kata Kalicya sambil mengulurkan tangan.
“thank you so much my bestfriend Kalicya.” Jawabku sambil membalas jabat tangan Kalicya.
“kamu nanti pulang di jemput apa mau aku antar?” Tanya Kalicya sambil berjogging.
“Mmm, nanti Galang jemput aku.” Jawabku santai.
“oh gitu, ya udah deh kalau gitu.” Kata Kalicya lalu berlari mendahuluiku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatku itu. Kami beristirahat di bawah pohon cemara dekat rumah Kalicya.
“Tiga jam lagi Galang jemput aku.” Kataku sambil melihat jam tangan.
“kenapa harus pulang pagi sekali?” Tanya Kalicya setelah meneguk air dibotol.
“aku kasian mama nggak ada yang bantu di rumah, lagian Galang juga bisanya pagi.” Jelasku sambil tersenyum.
“oke baiklah, yuk pulang lalu sarapan. Mamaku pasti udah nyiapin makanan yang enak buat kita.” Ajak Kalicya yang mulai berdiri.
“ya udah, yuk..” aku berjalan mengikuti Kalicya. Kami berdua pun telah sampai di rumah Kalicya.
“Ma, Kalicya laper, Vero juga laper.” Teriak Kalicya saat memasuki rumah.
“ih apaan sih kamu, kan kamu doang yang laper.” Marahku kepada Kalicya karena seenaknya saja menyuruh ibunya seperti menyuruh seorang pembantu. “ enggak kok tante, Kalicya aja yang laper.” Teriakku kepada Mama Kalicya.
“iya ini makanannya udah siap. Kalian mandi dulu gih sana.” Teriak Mama Kalicya dari balik dapur.
“iya tante, bentar lagi kami turun.” Kataku sambil berjalan menaiki tangga. Setelah kami berdua membersihkan diri, kami pun turun untuk sarapan. Tapi belum sempat menuruni tangga, tiba – tiba handphoneku berbunyi.
“hallo Galang?” jawabku setelah tau bahwa yang menelepon adalah Galang.
“maaf, apa benar ini dengan nona Vero?” Tanya seseorang dari seberang sana.
“iya benar, ini siapa ya?” tanyaku karena merasa bukan Galang yang sedang berbicara.
“ini dari rumah sakit, kami mau mengabarkan bahwa saudara yang bernama Galang mengalami kecelakaan.” Jelas seseorang di seberang sana.
“aapa? Di mana alamat rumah sakitnya? Oh baiklah, saya segera ke sana.” Jawabku lalu menutup telepon. “ maaf Kalicya, tante. Vero harus pergi sekarang.” Kataku kebingungan sambil mencari tasku. “ tasku dimana?” tanyaku bingung dengan air mata yang mulai mengalir.
“ada apa Ve? Terjadi sesuatu sama Galang? Ayo cerita Ve?” Tanya Kalicya khawatir.
“Galang Cy, Galang kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit. Kata orang yang tadi telepon keadaannya kritis.” Jelasku dengan tangan gemetar.
“tenang Ve, kalau gitu kita pergi sama – sama. Bentar aku ambil kunci mobil dulu.” Ajak Kalicya yang pergi menuju kamarnya, tak lama kemudian Kalicya muncul dengan membawa kunci mobil dan tas di tangannya. Selama di perjalanan aku menangis tanpa henti. Apa yang aku lakukan, seharusnya aku tak menyuruh Galang untuk menjemputku. Ini semua salahku. Ini semua salahku. Omelku dalam hati sambil memukul – mukul kepala.
“Ve, stop. Jangan seperti anak kecil. Kamu bantu doa aja, sebentar lagi kita sampai.” Kata Kalicya menenangkanku. Aku hanya membalas ucapan Kalicya hanya dengan mengangguk. Kalicya benar, tak lama kemudian kami berdua sampai di Rumah Sakit Umum. Kami berdua langsung berlari menuju ruang ICU. Kami berdua bertemu dengan orang yang membawa Galang ke rumah sakit. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang ICU.
“ada saudari yang bernama Vero?” Tanya dokter sambil mencari disekeliling.
“saya dok, kenapa dokter?” tanyaku mulai khawatir.
“Galang ingin bertemu dengan anda.” Kata dokter sambil mempersilahkan masuk. Aku pun masuk ke ruang ICU. Di dalam sosok Galang sedang terbaring lemas dengan darah di kepalanya. Aku langsung berlari dan memeluk Galang.
“ini salahku. Ini salahku.” Kataku sambil memukul – mukul kepala.
“sstt.. udah ini bukan salah kamu, aku yang nggak hati – hati. Udah jangan menangis lagi.” Kata Galang lemas sambil berusaha membasuh air mata dipipiku. “ Happy Birthday Veronica sayang. Maaf, aku mengucapkan selamat ulang tahun dalam keadaan yang menyedihkan.” Kata Galang dengan seutas senyum dibibirnya. Tak kuat membendung air mata, aku menangis tanpa henti sambil memeluk Galang.
“Kamu harus bahagia, Ve. Aku nggak tau sampai kapan aku akan bertahan, carilah cinta yang baru, jangan cengeng. Lindungi orang yang kamu sayangi, jangan membenci orang yang kamu benci. Aku akan sangat marah jika kamu tidak menurutiku.” Kata Galang dengan terbata – bata sambil mengelus rambutku yang terurai panjang.
“enggak, kamu nggak boleh pergi Galang, kamu akan tetap hidup. Dan aku tidak akan pernah mencari penggantimu. Aku akan tetap menjadi milikmu.” Kataku sedikit berteriak sambil memegang kedua tangan Galang yang lemas.
“maafkan aku.” Setelah kalimat terakhir yang diucapkan Galang, tiba – tiba tangan Galang lemas dan jatuh terlunglai dari tanganku. Galang memejamkan mata, tak kusangka dia akan pergi begitu cepat meninggalkanku.
* * * *
Setelah memakamkan Galang, keluarga, saudara, dan teman – teman Galang pergi meninggalkan pemakaman. Hanya tinggal aku dan Kalicya.
“Ve, ayo pulang.” Ajak sahabatku Kalicya saat aku berjongkok memegangi nisan makam Galang.
“Galang, aku tau saat ini kamu masih berada di sisiku, memandangiku dengan senyuman kamu yang begitu manis. Kamu harus ingat Galang, bahwa aku tidak akan pernah mencari penggantimu, aku akan tetap mencintaimu Galang. Because I love you.”
TAMAT.