“Because I Love You”
Teeett….
Bel sekolah berbunyi,
tanda bahwa pelajaran dimulai…
“Good Morning, Child ?”
Sapa Bu Lilis guru bahasa inggris di kelasku.
“Good Morning, Mom”
serentak kami menjawab.
Sekarang
aku kelas 2 SMA. Aku mendiami kelas XIA2. Di kelas, aku duduk di bangku tengah
nomor dua dari depan. Aku sebangku dengan sahabatku Kalicya. Aku hanya
mempunyai seorang sahabat saja. Bagiku Kalicya sudah merupakan sahabat yang
paling baik sedunia. Kami sahabatan sejak kelas 3 SMP. Kebetulan aku se – SMA
sama Kalicya dan sekarang se – kelas. Kenalin dulu namaku Veronica, biasa di
panggil Vero. Aku suka banget sama yang namanya ice cream. Pelajaran bahasa
inggris berjalan lancar karena aku sangat menyukai pelajaran yang satu ini.
Teett…. Bel pergantian jam telah berbunyi. Selanjutnya pelajaran sejarah.
Sayangnya saat pelajaran di mulai aku membuat ulah lagi seperti biasa, ngapain
lagi kalau bukan buat ulah ngerjain temen abis - abisan saat pembelajaran
berlangsung. Pada akhirnya aku di Strap dan dikeluarkan dari kelas. Apesnya
lagi kelas sebelah, yaitu kelas XIA3
sedang ada kelas kosong sehingga penghuninya pada nongrong didepan kelas.
Artinya Galang juga ada di luar.
Mungkin
sebaiknya aku ceritakan dulu siapa itu Galang. Dia itu mantan pacarku, kita jadian
waktu kelas 3 SMP. Dari Dulu dia selalu aktif ikut kegiatan ekstrakurikuler
basket sama seperti aku. Dia anaknya perhatian sama orang lain, sampai – sampai
aku putus sama dia cuma gara – gara dia memberi perhatian lebih ke cewek yang
ganjen sama dia. Dan karena nggak tahan, akhirnya aku putusin dia. Aku putus
dengan Galang saat aku kelas sepuluh. Nyesel sih, karena sebenarnya aku itu
masih sayang sama dia, apalagi dia sekarang makin keren dan makin popular. Tambah
kesiksa deh, tiap hari ketemu dia. Sampai sekarang aku masih berkomunikasi sama
dia. Tetapi tidak seakrab dulu. Aku salah tingkah pas Galang ngeliat aku keluar
dari kelas. Aku langsung mengurungkan niatku pergi ke taman yang melewati kelas
Galang dan membalikkan diri berjalan menuju kantin sekolah. Ternyata kantin
begitu sepi, mungkin karena masih jam pelajaran. Aku duduk dikursi pojok dekat penjual.
“loh, kok udah keluar
kelas mbak ?nggak ada pelajaran ya ?” Tanya Ibu penjaga kantin.
“iya Ibu, lagi distrap,
gara – gara ketahuan ngerjain temen.” Jawabku lemes.
“oh begitu, mau pesen
makan atau minuman ?” tawar penjaga kantin.
“mmm.. tidak usah Ibu, terima
kasih.” Jawabku sopan.
Sementara aku menikmati
hembusan angin yang sepoi – sepoi. Tak kusangka aku melamun, sehingga tak sadar
ada seseorang yang duduk disebelahku. Setelah aku tersadar dari lamunanku, aku terkejut.
“Hai…ngelamun aja
kamu.” sapa seseorang.
“Oh..Galang, enggak,
aku nggak ngelamun.” jawabku gugup.
“kok keluar kelas?
emang nggak ada pelajaran kamu,Ve?” Tanya Galang.
“ada sih, tapi aku lagi
dihukum gara – gara ketahuan ngerjain temen di kelas. Kamu sendiri ngapain
disini?” Jawabku sedikit malu.
“oh, mangkannya jangan
usil mulu. Kalau aku lagi ngikutin kamu” jawab Galang tenang.
“oh, jadi kamu ngikutin
aku?” Tanyaku penasaran.
“iya.” Jawab Galang
santai.
“kebiasaan.” Jawabku sewot.
“sorry, jujur aku
seneng banget sekarang aku bisa ngobrol berduaan sama kamu, Ve.” jawab Galang.
“udah ah, aku mau balik
ke kelas. Aku lagi males ngomong.” Jawabku cuek sambil meninggalkan Galang. Tak
lama kemudian, tepat didepan pintu masuk kantin, seseorang menarik pergelangan
tanganku. Sehingga aku tersentak membalikkan badan dan langsung berada
dipelukan seseorang.
“Galang ! apa – apaan sih kamu? Malu tau dilihat orang!” omelku sambil meronta – ronta mencoba membebaskan diri.
“Galang ! apa – apaan sih kamu? Malu tau dilihat orang!” omelku sambil meronta – ronta mencoba membebaskan diri.
“tetaplah seperti ini
beberapa menit saja. Tetaplah seperti ini sebentar saja.” Kata Galang memohon.
Mendengar kalimat Galang aku pun berhenti untuk membebaskan diri. Beberapa saat
kami berdua terdiam tanpa ada satupun yang bicara. Tiba – tiba Galang
melepaskan pelukannya. Aku hanya diam terpaku bisu seribu bahasa.
“terima kasih , karena kamu udah memberiku kesempatan untuk memelukmu.” Galang mulai bicara. “baca ya Ve?” Kata Galang sambil menyelipkan segenggam kertas ketanganku.
“terima kasih , karena kamu udah memberiku kesempatan untuk memelukmu.” Galang mulai bicara. “baca ya Ve?” Kata Galang sambil menyelipkan segenggam kertas ketanganku.
“ha? Apa?” tanyaku kaget.
“Dah
Vero. Sampai jumpa nanti.” kata Galang sambil berlari kecil dan mengeluarkan
senyum manisnya. Oh My God, apa aku sedang bermimpi? Aku baru saja berada
dipelukan Galang. Dan apa ini? Ucapku dalam hati sambil melihat segenggam
kertas ditanganku.
Nanti jam
7 malam aku
tunggu kamu di
Taman kota. Sampai
jumpa
Untuk
: Veronica
Aku
hanya terdiam setelah membaca surat singkat dari Galang. Apa yang harus aku
lakukan. Apa aku harus datang? atau tidak? Aku berpikir sambil berjalan menuju
kelas. Teett… terdengar bel menandakan istirahat. Aku berlari menuju kelas, dan
untung saja sahabatku Kalicya masih ada didalam kelas.
“darimana aja sih kamu
Ve?” Tanya sahabatku Kalicya.“ lagian kamu pakek acara buat ulah segala, jadi dikeluarin
kan.” Cemas sahabatku.
“eh,udah dong Cy
wawancaranya, gimana mau jawab, kamunya aja nerocos terus.” Belaku.“ eh tau
nggak…” terusku, tetapi belum sempat melanjutkan pembicaraan, Kalicya nelonyor
aja jawab.
“enggak, emang kenapa?”
jawab Kalicya tenang.
“Cy, belum.” Jawabku sambil memukul ringan lengan Kalicya.
“oh maap, kirain udah
waktunya jawab. Ayo terusin lagi.” Usil Kalicya
“tau nggak, tadi pas
aku distrap, kan aku pergi ke kantin, nah tadi Galang nyamperin aku ke kantin.”
Kataku seperti mendongeng.
“Ha? Galang? Trus
trus?” Tanya Kalicya mulai penasaran.
“ya kita ngobrol, dan dia
mau ngajak aku ketemuan nanti malem di taman kota.” Jelasku.
“apa? Gila tuh cowok, jangan – jangan dia masih suka lagi sama
kamu, Ve.” Ceplos Kalicya.
“dan dia meluk aku di
kantin.”Jelasku tanpa memperdulikan ucapan sahabatku itu.
“apalagi coba kalau dia
nggak masih suka sama kamu?” jelas Kalicya lagi dengan nada meyakinkan.
“ah nggak mungkin,
apaan sih kamu ini, norak tau.”Jawabku membela diri.
“kamu seneng kan?Hayo hayo??”Tanya
Kalicya sambil menodongkan jari telunjuknya kewajahku.
“apaan sih kamu ini.
Udah ah.”jawabku malu.
“trus, kamu jawab apa?
Mau datang? Atau kamu tolak?” Tanya Kalicya nerocos.
“aku belum jawab, dia
aja nyampeinnya lewat surat. Gimana dong?” tanyaku mulai cemas.
“itu sih tergantung
kamu Ve, kalau perasaanmu membolehkan ya datang aja.” jawab Kalicya membantu.
Meskipun sebenarnya itu tidak membantu sama sekali.
“Mmm.. eh, aku baru
inget, nanti pulang sekolah aku nggak bisa pulang bareng kamu Cy, nggak papa
kan?” Tanyaku dengan nada minta maaf.
“yaa Vero, nggak asik
lo, emang mau kemana sih? Latihan basket lagi?” Tanya Kalicya sewot.
“iyah nih, aku disuruh
ke lapangan sama Pak Bondan, katanya sih sekalian mau ngenalin kapten tim
basket cowok yang baru ke aku.”Jelasku merasa bersalah. “ apa kamu nungguin aku
aja main basket? siapa tau ketemu pujaan hatimu nanti?” godaku karena melihat
raut wajah Kalicya yang sewot.
“wiiih, gila kamu. Nggak
ah. Ya udah deh nggak papa. Daripada nungguin kamu main basket, mending pulang,
trus makan, trus tidur deh.” Jawab Kalicya dengan mengetup – ngetupkan jari
telunjuknya kebibirnya.
“ih, Kalicya…nggak
setiakawan banget. Di ijinin nggak nih?” tanyaku memohon.
“iya – iya, aku
ijinin.” Jawab Kalicya sambil mengacak – acak rambutku.
“thank you my bestfriend
sweety.”ucapku senang sambil memeluk Kalicya. Tak terasa bel istirahat
telah berakhir, kami berdua memulai pembelajaran dengan lancar tanpa ada
masalah lagi. Ditengah pembelajaran aku sempat berfikir tentang kejadian di
kantin tadi. Tapi lamunan itu buyar setelah mendengar bel pulang sekolah. Aku
langsung berlari menuju toilet untuk mengganti seragam sekolah dengan seragam
basketku dengan nomor punggung favoritku yaitu lima. Dengan pedenya aku berlari
menuju lapangan. Setelah aku sampai dilapangan basket, aku mendapati seorang
cowok yang berdiri disebelah Pak Bondan. Pak Bondan adalah pelatih tim basket
sekolah kami. Dan aku pun berhenti tepat disebelah Pak Bondan.
“siang Pak Bondan.”
Sapaku kepada pelatih tim basket sekolahku.
“oh siang Vero, udah
datang ternyata. Kalau begitu ini dia kapten baru tim basket cowok sekolah.
Mungkin kamu sudah mengenalnya” Kata Pak Bondan sambil menunjuk cowok yang ada
di sebelahnya. Spontan cowok itu membalikkan badan. Aku kaget banget ketika
melihat bahwa cowok itu adalah Galang. Jadi anak itu naik jabatan. Sama dong
kayak aku. Omelku dalam hati.
“ mohon kerja
samanya,Ve.” kata Galang tersenyum sambil menjulurkan tangannya untuk
mengajakku berjabat tangan.
“ha? oh, aku juga mohon
bantuannya.” kataku terbata – bata sambil membalas jabat tangan Galang.
“loh Pak, tim yang lain
kemana? Katanya mau latihan?” tanyaku saat menyadari bahwa hanya aku, Galang, dan
Pak Bondan saja yang ada dilapangan.
“oh, bapak hanya berniat
memperkenalkan kapten tim basket cowok yang baru. Ya udah, kalau gitu kalian
latihan aja. Pak Bondan masih ada urusan di luar. Pak Bondan tinggal ya? Oh
iya, kalian harus saling kerja sama.” kata Pak Bondan sambil merangkul tas
ranselnya. Pak Bondan pun pergi meninggalkan kami berdua di lapangan basket.
“ hey, yuk latihan.
Satu lawan satu.” Kata Galang sambil menyenggol lenganku.
“yuk, siapa takut.
Week..” kataku jail sambil berlari kecil dengan bola basket ditangan.
“ nggak sopan.” Jawab
Galang mengejarku dengan melebarkan senyumannya yang manis. Selama setengah jam
kami berlatih sambil belajar kemampuan masing – masing. Tiba – tiba kakiku kram
dan akhirnya aku terjatuh. Spontan Galang menoleh dan langsung berlari
menghampiriku. Dia tampak cemas.
“Vero, kamu nggak
papa?” Tanya Galang cemas.
“ nggak papa.” Kataku
cuek. “Aw !” jeritku sambil mencoba berdiri
“gimana yang nggak papa,
buktinya kamu kesakitan dan nggak bisa berdiri. Dalam keadaan kayak gini kamu
masih aja bertingkah cuek.” Kata Galang nerocos. Kali ini sepertinya Galang
bertingkah seperti anak cewek. Cerewet banget.
“ok, sorry. Kayaknya kakiku kram, sakit banget nggak bisa digerakin.” Jawabku kesakitan.
“ok, sorry. Kayaknya kakiku kram, sakit banget nggak bisa digerakin.” Jawabku kesakitan.
“sini aku bantu. Pegang
pundakku ya.” Kata Galang mencoba membantu.
“nggak ah. Mmm.. Tapi
baiklah,” jawabku pasrah. Tetapi usaha itu tidak ada gunanya.
“aaww!!” teriakku
kesakitan. “aku nggak bisa berdiri Lang, gimana ini dong?” kataku sedikit
cemas.
“ayo naik.” Kata Galang
sambil menawarkan punggungnya untukku.
“gila lo Lang. nggak
mau!” jawabku tak yakin.
“ah lama.” Kata Galang sambil merangkul kedua tanganku dan menaruhnya di pundaknya. Dia pun berdiri dengan memegang kedua kakiku. Kami berdua pun berjalan menuju tepi lapangan untuk beristirahat. aku hanya terdiam kesakitan. Sesampainya di pinggir lapangan, Galang menurunkanku dan menyandarkanku ke tembok.
“ah lama.” Kata Galang sambil merangkul kedua tanganku dan menaruhnya di pundaknya. Dia pun berdiri dengan memegang kedua kakiku. Kami berdua pun berjalan menuju tepi lapangan untuk beristirahat. aku hanya terdiam kesakitan. Sesampainya di pinggir lapangan, Galang menurunkanku dan menyandarkanku ke tembok.
“thank’s..” kataku
singkat.
“oke sama – sama .”
jawab Galang sambil tersenyum. “ sini aku coba pijat.” kata Galang sambil
memegang kakiku yang kram. Tanpa basa – basi aku menuruti kata Galang. Selama
dipijat aku hanya meringis kesakitan..
KRAAAKK !!!
“aaaaaaa” teriakku
kesakitan. “ gila, kamu mau matahin kakiku?” kataku kesal.
“udah selesai nih,
gimana udah ngerasa enakan nggak?” tanya Galang tanpa memperdulikan ucapanku.
“eh iya lho, udah
enakan, makasih ya.” jawabku sambil memijat – mijat halus kakiku.
“ sama – sama.Ve, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Galang sambil bersandar
ke tembok menatap Vero yang sedang asyik memijat - mijat kakinya.
" apaan?" Vero menoleh ke arah Galang sekilas.
" apaan?" Vero menoleh ke arah Galang sekilas.
"mau nggak jadi pacarku lagi?" spontan aku menoleh. Aku melihat Galang sedang memandangku, matanya begitu letih seakan memohon bantuan. Apa aku masih menyukai orang yang sedang memandangku sekarang? aku bertanya pada diriku sendiri. Ya, aku memang masih menyukainya. Aku pun tersenyum dan mengangguk perlahan. Aku melihat seberkas kebahagiaan di mata Galang. Mata yang begitu letih telah sirna yang di gantikan dengan sorot kegembiraan.
" trima kasih." Galang mengucapkannya dengan lembut. Aku hanya mengangguk untuk yang kedua kalinya. Tak lama aku teringat akan surat yang diberikan Galang sewaktu di kantin.
" trima kasih." Galang mengucapkannya dengan lembut. Aku hanya mengangguk untuk yang kedua kalinya. Tak lama aku teringat akan surat yang diberikan Galang sewaktu di kantin.
“oh iya, kayaknya nanti
malem aku nggak bisa ketemu kamu di taman, kamu tau sendiri kan kalau
keadaanku kayak gini. Memangnya ada apa sih?” Kataku mengingatkan tentang surat
dari Galang yang diberikan kepadaku tadi.Galang hanya tersenyum.
“ oh itu, bukan apa - apa. Lagian itu udah nggak penting lagi.” Jawab Galang tenang.
“ Galang aku harus pulang sekarang.” kataku kaget setelah melihat jam tanganku
yang menunjukkan jam setengah 4 sore.
“ ya udah, yuk aku
antar.” Kata Galang sambil membantuku berjalan menuju mobil Honda Jazz-nya.
Tanpa berganti seragam, kami berdua pun langsung melesat pulang. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk sampai di rumahku. Setelah aku turun dari mobil dan melambaikan tangan Galang langsung melesat pergi meninggalkan
rumahku. Aku langsung memasuki rumah dengan kaki sedikit pincang. Sesampai di
kamar, aku langsung merebahkan diri.
Tak lama kemudian aku bangun dan mencari ponselku di dalam tas. Setelah
mendapatinya aku langsung menghubungi sahabatku Kalicya.
Tuut. Tuut. Tuut…
“ Halo?” Jawab suara
lembut di seberang sana.
“ Halo! Kalicyaaa.. Aku jadian
sama Galang.” saat mendengar suara Kalicya aku langsung berteriak.
“ ha? Yang bener lo Ve?
Sejak kapan?” Tanya suara penasaran diseberang sana.
“ tadi, Galang
nembak gue Cy, dia nembak gue..” jawabku meyakinkan.
“ gimana kejadiannya?
Crita dong Ve?” Tanya Kalicya semakin penasaran.
“ critanya panjang, gini..”
Aku pun mulai menjelasakan panjang lebar kepada Kalicya. Dari suara Kalicya,
sepertinya dia merasa senang. “jadi gitu ceritanya.” Kataku mengakhiri cerita.
“wah selamat ya.” Kata
Kalicya dari seberang sana.
“ya udah de, Cy. Sampai
ketemu besok.” Kataku mengakhiri percakapanku dengan Kalicya.
“ok deh.” Jawab Kalicya
senang. Setelah menutup telepon, aku
langsung beranjak mandi karena hari sudah semakin sore. Karena habis main
basket, kali ini aku mandi begitu lama. Maklumlah anak cewek, meskipun agak sedikit
tomboy tapi tetap harus bersih dong. Setelah kurang lebih 15 menit, aku baru
keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas menunaikan salat ashar. Karena
begitu lelah, setelah salat tanpa melepaskan mukenah, aku langsung tertidur
pulas di atas sajadah.
* * * *
Teeettt. Teeettt….
Tepat saat aku
melangkahkan kakiku ke dalam sekolah, bel tanda masuk sekolah berbunyi.
Aku berlari disepanjang
lorong menuju kelas, tiba – tiba saja…
Brraaaaakk !!!
“ aduh….!” Kataku
kesal, aku terjatuh karena menabrak seseorang. Semua buku yang tadinya aku
gendong jatuh berantakan di lantai.
“ aduh, maaf ya. Sini
aku bantuin bangun.” Kata seorang cowok sambil mengulurkan tangannya..
“ makasih.” Jawabku
sambil memegang tangan seseorang.
“sama – sama.” Kata
cowok tersebut dengan senyumannya yang manis. Tanpa menghiraukannya setelah aku
membereskan kembali bukuku yang tadinya terjatuh dengan di bantu cowok
tersebut, aku langsung berlari kembali menuju kelas. Dan akhirnya aku pun
sampai di depan kelas. Tiba – tiba dari kelas sebelah seseorang memanggil
namaku.
“ Vero! Veronica!”
Galang melambaikan tangannya sambil memanggil namaku dengan suara yang cukup
keras.
“ haaii !” jawabku
sambil melambaikan tangan pula. Lalu aku bergegas masuk ke kelas karena
pembelajaran akan segera di mulai. Selama pembelajaran berlangsung, kali ini
aku tidak bisa focus. Aku terus berpikir, siapakah cowok yang tadi menabrakku?
Sepertinya aku belum pernah melihatnya di sekolah. Apa mungkin murid baru? Ah
ngapain juga aku mikirin orang itu? Pertanyaan – pertanyaan tersebut terjawab
saat Ibu Kepala Sekolah masuk ke kelasku dengan di ikuti seorang cowok di
belakangnya.
“ pagi anak – anak.”
Sapa Ibu Kepsek kepada kami.
“ pagi bu…” kami
menjawab serentak.
“ kedatangan Ibu kemari
karena kalian semua kedatangan teman baru. Namanya Bagas. Dia pindahan dari
Bali,dia ke Jawa karena ayahnya di tugaskan di Jawa. Ibu harap kalian bisa
membantu dan berteman akrab dengannya. Kalau begitu Bagas, silahkan kamu menempati
bangku yang masih kosong. Kalau begitu saya permisi, silahkan lanjutkan
pembelajarannya.” Ibu kepala sekolah bergegas keluar dari kelasku.
“ Ternyata dugaanku
benar kalau dia itu murid baru.” Kataku dalam hati. Bagas berjalan menuju
bangku kosong tepat berada di sebelah kananku.
“ hey, bukannya kamu
anak yang tadi?” sapa Bagas kepadaku, aku pun langsung menoleh.
“ oh, iya.” Jawabku
cuek tanpa memperdulikan ucapannya. Bagas hanya membalas dengan senyumannya
yang manis untuk kedua kalinya. Bagas begitu tampan saat tersenyum, kulitnya
sedikit hitam. Mungkin karena pengaruh cuaca di Bali. Tingginya sama dengan
Galang. Pembelajaran berlangsung cukup baik. Tak terasa waktu istirahatpun
tiba.
“ Vero, yuk ke kantin,
laper nih.” Ajak Kalicya sambil menggoyangkan badanku.
“ oke tunggu bentar.”
Jawabku singkat sambil membereskan buku. Setelah membereskan buku, aku dan
Kalicya bergegas menuju kantin sekolah. Di tengah perjalanan tiba – tiba
seseorang memelukku dari belakang.
“ mau ke mana nih? Kok
nggak ajak – ajak Galang yang tampan dan baik hati ini.” Tanya Galang dengan
gayanya yang sok kegantengan.
“ ih Galang, so sweet
banget sih, aku juga mau dong di peluk.” jawab Kalicya dengan kedua tangan yang
direntangkan.
“ daripada di peluk
Galang, sini aku peluk aja.” Ajakku sambil merangkul Kalicya.
“hahahahaha…” semua
tertawa lepas melihat tingkah laku kami berdua yang konyol. Sesampainya di
kantin, kami bertiga langsung menuju tempat favorit kami yang ada di pojokan.
Kami bercanda bersama seperti udah nggak ketemu sahabat selama setahun. Tiba –
tiba seorang cowok menghampiri tempat dimana kami duduk.
“halo semua, boleh
gabung?” Tanya seseorang bernama Bagas kepadaku.
“ oh boleh.” Jawab
Galang sambil menoleh ke arah Bagas.
“terima kasih.” Kata
Bagas sambil menempati kursi yang masih kosong.
“eh, tunggu deh.
Kayaknya aku belum pernah melihat kamu di sekolah sebelumnya?” Tanya Galang
penasaran.
“iya, dia baru di
sekolah ini.” Kataku tanpa mempedulikan Bagas.
“ oh iya, aku murid
baru di sekolah ini. Kenalin aku Bagas dari kelas XIA2.” Jawab Bagas sambil
mengulurkan tangannya.
“ aku Galang.” Kata
Galang sambil menjabat tangan Bagas.
“ Bagas, kamu ganteng
banget sih. Eh Galang, hati – hati loh karena kamu punya saingan sekarang.
Jangan sampai lepas tuh si Veronica. Hehe” kata Kalicya menggoda Galang dan
Bagas.
“ ya enggak lah Cy,
Vero kan anaknya setia. Iya nggak Ve??” jawab Galang sambil menyenggolku.
“ ha? iya.” Jawabku
singkat.
“ emang kamu setia,
Ve?” kali ini goda Galang kepadaku.
“ nggak tau ya.”
Jawabku sambil melirik kearah Galang.
“ huu.. kamu ini.
Dasar.” Kata Galang sambil mengacak – acak rambutku. Kami pun kembali tertawa.
“ oh, jadi kalian
pasangan?” Tanya Bagas kepada Galang.
“ iya, kami berdua
pacaran. Jadi jangan coba – coba deketin Vero. Iya kan Ve?” Tanya Galang kepadaku.
Aku hanya menjawab Galang dengan senyuman. Kami pun berbincang – bincang,
mendengarkan cerita tentang Bagas sewaktu berada di Bali. Tetapi, tak sengaja
aku melihat Bagas yang sedang memandangiku. Bagas pun langsung mengalihkan
pandangannya dariku. Mungkin karena dia tahu kalau aku sedang melihatnya. Tak
terasa waktu istirahat telah habis. Kami semua segera menuju ke kelas masing –
masing. Sesampai di depan kelas, kami berpisah dengan Galang. Ya taulah, Galang
kan nggak satu kelas sama aku. Pembelajaran hari ini berjalan dengan baik. Bel
pulang sekolahpun berbunyi, kami berdua pun keluar dari kelas dan bergegas
untuk pulang.
“ Veronica !!” panggil
Galang dengan melambaikan tangannya di depan kelasnya.
“ Cy, maaf ya aku nggak
bisa pulang bareng kamu lagi. Aku hari ini pulang sama Galang. Maaf ya??”
kataku merasa bersalah.
“ aduh, ngapain sih
minta maaf. Nggak papa kok.” Jawab Kalicya menenangkanku.
“Kalicya kan?” tiba –
tiba Bagas muncul dari belakang.
“oh Bagas, iya aku
Kalicya. Ada apa?” Tanya Kalicya.
“mau pulang bareng sama
aku? sepertinya Vero nggak bisa pulang bareng kamu.” Ajak Bagas santai.
“beneran nih? Ya udah
deh aku mau.” Jawab Kalicya senang.“Ya udah aku pulang dulu ya Ve, bye bye.”
Jawab Kalicya dengan senyumannya yang menandakan kalau dia tidak marah.
“ thank’s. bye bye”
kataku sambil melambaikan tangan kepada sahabatku. Aku pun bergegas menghampiri
Galang yang sudah menunggu di depan kelasnya sedangkan Kalicya dan Bagas pergi
meninggalkanku.
“ loh, Kalicya pulang
bareng Bagas?” Tanya Galang sambil melirik Kalicya dan Bagas yang mulai
menghilang.
“iya, tadi Bagas
nawarin pulang bareng ke Kalicya.” Jawabku santai.
“sepertinya dia tadi
seneng banget?” Tanya Galang lagi.
“he.em, aku juga ikut
seneng ngeliat Kalicya seneng banget tadi. Kayaknya Kalicya suka sama Bagas deh.”
Jelasku sambil tersenyum bahagia mengingat tingkah laku Kalicya tadi.
“bagus deh kalau gitu.
Oh iya, Ve, hari ini kita di suruh latihan sama Pak Bondan. Kamu kasih tau
anggota yang cewek dan aku kasih tau anggota yang cowok. Kita ketemuan lagi di
lapangan basket.” Jelas Galang sedikit panik.
“ oke deh. Siip.”
Jawabku sambil menunjukkan ibu jariku. Galang menarik tanganku dan mencium
dahiku. Kami berdua pun bergegas mencari anggota masing – masing. Setelah semua
sudah berkumpul, aku dan anggota basket cewek lainnya bergegas menuju ke
lapangan basket. Ternyata di sana Galang dan anggotanya sudah mulai latihan.
Aku pun mulai berlatih bersama dengan anggota tim basket cewek lainnya. Di
tengah latihan, aku menepi untuk istirahat sejenak dan karena merasa haus, aku
mengambil botol minumanku. Tapi belum sempat membuka tas tiba – tiba Galang
menyodorkan botol minuman.
“ ini..” kata Galang
sambil mengulurkan botol minuman.
“ ah, makasih. Tau aja
nih kalau lagi haus” balasku sambil mengambil botol minuman yang diberikan
Galang.
“ kan hatiku sama
hatimu udah nyatu.” jawab Galang sambil mencubit pipiku.
“hey, apaan sih, malu
tau, tuh di liatin sama temen – temenmu.” Kataku sambil memukul halus Galang
dan melirik ke arah segerombolan anak yang sedang nguping.
“ ciwee, ciwee… si
Galang lagi dimabuk asmara ni yee..” jail temen – temen tim basket Galang.
“ hey apaan sih kalian.
Norak tau.” Jawab Galang sambil mengejar teman - temannya keliling lapangan.
“ hahaha, kayak anak
kecil.” Kataku sambil menertawakan tingkah mereka yang konyol.
“ semoga hubungan
kalian langgeng ya. Mungkin dengan begitu pasti Galang tambah giat berlatih.”
kata Pak Bondan kepadaku.
“ oh Pak Bondan. Iya
semoga saja.” jawabku sambil tersenyum. Kami pun melanjutkan latihan karena
hari semakin sore. Tak terasa hari sudah sore. Priiiiitt.
“ ayo kumpul sini
semua” kata Pak Bondan sambil meniup peluitnya. Setelah kami semua berkumpul,
Pak Bondan mulai mengoreksi kesalahan kami masing – masing. Untungnya aku dan
Galang selaku ketua tim basket tidak mendapat kritikan yang pedas dari Pak
Bondan. Kami berdua hanya diberi nasihat untuk mengontrol anggota masing –
masing, karena pertandingan basket antar sekolah sudah tinggal beberapa hari
lagi. Latihan hari ini pun berjalan dengan lancar. Dengan adanya Galang yang
selalu ada di sampingku, aku tidak perlu merasa khawatir.
* * * *
Hari ini matahari
begitu menyengat, tetapi itu tidak mengurangi semangatku untuk bertanding
basket. Acara akan di mulai pukul 13.00. Aku pun bersiap – siap memasukkan
barang – barang yang perlu – perlu saja. Tiin.. tiin… suara klakson mobil
berbunyi terdengar dari kamarku yang berada di lantai atas. Aku mengintip dari
jendela, tampak Galang yang baru keluar dari mobilnya. Pandangannya langsung
menuju jendela kamar tempat aku melihatnya. Galang melambaikan tangan, aku
bergegas turun dan menyambar roti di meja makan.
“ loh nggak makan dulu
Ve?” Tanya Mama yang sedang duduk santai menonton tv.
“telat ma, Vero udah
telat. Tuh yang jemput udah datang.” Jawabku sambil menoleh ke depan rumah.
“Galang yang jemput?”
Tanya mama lagi.
“iya. Udah dulu ya Ma,
Vero mau berangkat dulu.” Jawabku sambil berjalan ke luar rumah. Mama
mengikutiku dari belakang. Sesampai di luar, ternyata Galang sudah menunggu di
depan pintu.
“ berangkat dulu
Tante.” Kata Galang sambil meminta restu dan mencium telapak tangan Mama. Aku
pun menyusul mencium telapak tangan mama pula. Kami berdua pun menuju mobil
Honda Jazz Galang yang terparkir di depan rumah.
“hati – hati nyetirnya
nak Galang” kata mama sedikit berteriak.
“iya Tante.” Jawab
Galang sopan dengan senyumannya yang manis.
“dah mama.” Kataku
sambil melambaikan tangan dari dalam mobil. Mama membalas lambaianku lalu masuk
ke dalam rumah dan menutup pintu. Waktu menunjukkan pukul 12.20, Galang
mengendarai mobilnya sedikit cepat. Setelah sepuluh menit kami berdua sampai di
sekolah. Kami bergegas masuk dan menuju ruang ganti. Ternyata di sana teman –
teman sudah berkumpul.
“ Pak Bondan belum
kesini?” tanyaku kepada teman – teman yang tampaknya lagi pemanasan.
“ belum, mungkin bentar
lagi datang.” Kata salah satu teman dari tim basket putri. Tetapi belum sempat
aku melanjutkan, Pak Bondan memasuki ruang ganti.
“ udah siap semua?”
kata Pak Bondan memastikan.
“ siap pak.” Jawab kami
serempak.
“ kalian masih ingat
kan strategi kita kemarin” Tanya Pak Bondan sekali lagi. Kami semua menjawab
dengan mengangguk.
“ bagus. Sekarang kita
ke lapangan. Ayo cepat cepat!!” kata Pak Bondan menyuruh kami bergegas.
Pertandingan tim Putri segera di mulai. Aku dan teman – teman lainnya berkumpul
membentuk lingkaran kecil. Kami semua berdoa menurut kepercayaan masing –
masing. Pertandingan pun di mulai. Wasit meniup peluitnya tanda pertandingan di
mulai. Pertandingan tim putri berjalan lancar, hanya saja tim basket kami telah melakukan pelanggaran satu kali.
Babak pertama telah selesai, kami diberi waktu lima menit untuk istirahat. Aku
dan teman – teman segera menepi dan menuju pelatih kami Pak Bondan.
“ permainan kalian
bagus. Pertahankan anak – anak.” Sambut Pak Bondan kepada kelompok kami.
“ tapi kita melakukan
pelanggaran, Pak.” Kata ku setelah meneguk minuman.
“itu tidak masalah,
yang terpenting kerjasama antar tim, yang penting bukan pelanggaran berat dan
tidak membuat salah satu anggota di keluarkan.” Jelas Pak Bondan. Priiiit ….
Peluit wasit berbunyi tanda babak kedua di mulai. Aku dan teman – teman
bergegas berlari menuju lapangan. Pertandinganpun dilanjutkan. Waktu
menunjukkan kurang lima menit pertandingan akan berakhir, tim kami berhasil
memasukkan bola. Aku terus mendribble dan mengumpankan bola kesana – kemari
kepada temanku. Priiiit…. Pertandinganpun berakhir. Tim kami telah memenangkan
pertandingan dengan skor 40 – 13. Kami semua bersorak kegirangan. Tanpa pikir
panjang, aku langsung berlari menuju Galang dan langsung memeluknya. Sambil
memelukku, Galang mengangkat tubuhku di pelukannya. Tim basket putri
mendapatkan juara pertama. Sekarang tersisa pertandingan tim basket putra.
“semangat ya sayang.”
Kataku menyemangati Galang.
“oke, trims.” Jawab Galang
sedikit gugup. Sebelum berlari ke lapangan Galang mencium dahiku. Aku
membalasnya dengan senyuman bahagia. Pertandinganpu di mulai, sayangnya
pertandingan tim basket putra tidak se lancar saat pertandingan tim basket
putri. Banyak sekali permainan kasar yang dilakukan tim lawan. Tetapi meskipun
begitu tim basket putra tetap mempertahankan kerjasama tim. Tapi sayang sekali,
tim basket putra tidak meraih juara pertama melainkan meraih juara ke dua.
Meski begitu, pelatih kami Pak Bondan tetap bangga dan tetap memberi semangat
kepada kami. Pertandingan basketpun selesai. Aku dan Galang bergegas keluar
meninggalkan stadion dan pergi ke restoran dekat stadion.
“capek juga ya. Benar –
benar pertandingan yang melelahkan.” Kata Galang memulai pembicaraan saat kami
berdua menemukan kursi yang kosong di dekat pintu masuk restoran.
“iya, benar banget.
Nggak biasanya aku menghabiskan satu botol minuman. Sekarang malah laper
banget.” Jawabku sambil mengelus perutku yang daritadi keroncongan.
“mau pesan apa kamu,
Ve?” Tanya Galang sambil melihat – lihat menu makanan.
“Mmm.. mana ya? Ah ini
dia. Aku pesen nasi goreng pedas telur mata sapi. Hehe “ jawabku sambil
menunjuk makanan yang aku pesan.
“ ah iya aku lupa,
selera kita kan sama.” Sahut Galang. “ oke aku juga pesen itu.” Kata Galang
sambil menutup buku menu. Lalu Galang memanggil pelayan yang tak jauh dari meja
kami berdua, dengan lancarnya Galang menyebutkan makanan dan minuman kepada si
pelayan. Setelah selesai mencatat, pelayan tersebut pergi meninggalkan kami berdua.
“ngomong – ngomong,
tadi waktu aku tanding sekilas aku liat Kalicya sama Bagas di bangku penonton.
Mereka dimana ya sekarang?” tanyaku kepada Galang.
“iya ya, aku juga
ketemu mereka tadi.” Jawab Galang bingung.
“jadi ngerasa nggak
enak, sekarang aku jadi jarang keluar bareng Kalicya lagi semenjak sibuk
latihan basket.” pikirku merasa bersalah. Nggak nyangka orang yang sedang di
bicarakan muncul menghampiriku.
“wah aku cariin
ternyata disini.” Kata Kalicya kesal.
“maaf nih, aku tadi
buru – buru kesini, jadi lupa sama kamu. Baru aja aku sama Galang ngomongin
kamu sama Bagas. Eh nggak taunya panjang umur juga yang dibicarakan, langsung
muncul.” Jawabku usil.
“kita boleh gabung
kan?” Tanya Kalicya sambil melirik dua kursi yang masih kosong.
“ya boleh lah.” Jawab
Galang sambil menyuruh Kalicya dan bagas duduk. Setelah Galang membolehkan
Kalicya dan Bagas bergabung, mereka berdua langsung memesan makanan. Setelah
cukup lama, kami berempat akhirnya selesai makan.
“Cy, mau pulang
bareng?” tawarku kepada Kalicya.
“Kalicya pulang bareng
aku. Tadi aku udah janji mau nganterin dia pulang.” Sahut Bagas.
“iya, aku pulang bareng
pacarku aja, Ve.” Jelas Kalicya.
“wow, kalian udah
jadian?” tanyaku penasaran sambil menunjuk Kalicya dan Bagas secara bergantian.
“iya dong.” Jawab Bagas
sambil merangkul Kalicya.
“wah selamat ya, aku
jadi ikut seneng. Ya udah deh, aku sama Galang pulang dulu ya?” tanyaku sambil
beranjak dari tempat duduk.
“oke.” Jawab Kalicya
sambil mengacungkan jempolnya. Aku dan Galang pergi meninggalkan restoran. Aku
dan Galang masuk kemobil Galang yang terparkir didepan stadion. Di perjalanan,
Galang memulai pembicaraan.
“ada yang aneh dengan Bagas.”kata
Galang memulai.
“aneh? Aneh gimana
maksud kamu?” jawabku.
“ya aneh, kayaknya dari
kemarin - kemarin aku perhatiin dia merhatiin kamu terus. Bukannya itu aneh?”
jelas Galang.
“ah masak sih? enggak ah.”
jawabku sambil menggaruk - garuk rambut.
“ih kamu ini yaa” kata
Galang sambil mencubit ringan pipiku.
“eh eh apaan sih, sakit
tau.” Jawabku sewot sambil mengelus – elus pipiku.
“gitu aja sewot.” Kata
Galang sambil melihat kaca spion.
“udah kamu itu nyetir
aja, focus kedepan.” kataku sambil menunjuk kearah depan.
“eh Ve, bukannya itu
mobilnya Bagas? bener nggak sih?” kata Galang sambil bolak - balik melihat kaca
spion mobilnya.
“ha? mana?” kataku
sambil menoleh kebelakang. “eh iya lo, itu mobilnya Bagas.” terusku setelah
merasa yakin.
“bener kan apa yang aku
bilang. Dia itu suka sama kamu. Tuh buktinya dia ngikutin kita.” Kata Galang kesal.
“jangan nuduh dulu, dia
kan udah jadian sama Kalicya. Lagian dia nggak sendirian, ada Kalicya
disebelahnya. Dia itu lagi nganterin Kalicya pulang. Rumah Kalicya kan searah
sama rumahku. Jadi ya pantes lah kalau Bagas ada dibelakang. Udah ah jangan mikir
yang enggak - enggak.”jawabku nerocos. Galang hanya mengangkat
bahunya. Diperjalanan kami berdua tidak mengobrol lagi. Untungnya kami berdua
sudah sampai didepan rumahku. Aku bergegas keluar.
“hati - hati dijalan.
Bye.” kataku sambil melambaikan tangan. Galang membalas melambaikan tangan lalu
melesat pergi. Aku sedikit berlari saat masuk kerumah.
“aku pulang.”kataku
mengucapkan salam sambil berjalan menuju kamar.
“nggak pulang sama Galang?”
Tanya mama dari balik dapur.
“iya bareng, cuma
Galang langsung balik tadi.” jawabku sambil menutup pintu kamar. Aku merebahkan
diri dikasur. Begitu nyaman.
“ya ampun,aku belum
sholat ashar. Nggak boleh tidur.” aku beranjak pergi kekamar mandi. Setelah
cukup lama mandi dan wudhu, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menunaikan
ibadah salat ashar.
* * * *
Tuk tuk tuk
Aku memukul - mukulkan
pensil kemeja merasa begitu bosan karena hari ini tidak ada satupun guru yang
masuk ke kelasku. Kami hanya diberi tugas - tugas yang begitu banyak.
“kenapa sih, Ve? Kok
kayaknya kamu lemes gitu? Lagi marahan sama Galang?” Tanya Kalicya yang mulai
terganggu oleh kebisingan yang kubuat. Aku hanya menggelengkan kepala.
“trus kenapa kamu?
Laper?” Tanya Kalicya lagi.
“enggak, udah ah
tanyanya, kamu terusin ngerjakan tugas sana.” Jawabku karena Kalicya tidak
berhenti melontarkan pertanyaan.
“gimana aku mau focus
ngerjakan tugas, kamunya aja berisik.” Marah Kalicya padaku.
“ya udah deh maaf.”
Kataku dengan tidak bersemangat.
“iya aku maafin. Jangan
berisik lagi.” Kata Kalicya sambil menuntutku dengan mengacungkan jari
telunjuknya. Kalicya pun kembali serius pada tugas sekolahnya dia pun tenggelam
dalam tugas - tugasnya. Kali ini aku mencoba memejamkan mata. Tak lama kemudian
Galang datang dan merangkulku dari belakang.
“hayo, lagi ngapain?
Kok kayaknya pada bete gitu?” Tanya Galang.
“loh kamu nggak ada
kelas, Lang?” Tanya Kalicya kaget.
“ini kan waktunya
istirahat. Tadi sih nggak ada, kelasku cuma diberi tugas daritadi.” Jawab
Galang sambil mengangkat bahu.
“ah iya, aku lupa.
Kelasku juga hanya diberi tugas.” Kata Kalicya sambil bersandar santai kekursi.
“mungkin lagi ada
rapat. Kenapa Vero?” Tanya Galang sambil melirik kearahku.
“tau tuh Vero, lagi
nggak semangat hari ini.” Jawab Kalicya.
“ngomong - ngomong
Bagas kemana?” Tanya Galang melihat bangku tempat duduk Bagas yang kosong.
“lagi ke kantin tadi
sama temen - temen yang lain.” Jawab Kalicya tenang.
“gimana hubungan kamu
sama Bagas? Lancar - lancar aja kan?” Tanya Galang lagi.
“ya gitu deh, kayak
kamu sama Vero. Tapi akhir - akhir ini dia jarang ngobrol sama aku sama Vero.”
Jawab Kalicya dengan wajah murung.
“kok bisa? Lagi
marahan?” Tanya Galang penasaran.
“enggak. Hubunganku
sama Bagas baik - baik aja. Mungkin dia lagi ada masalah dan pengen sendiri. Ya
kamu tau sendiri lah.” Jawab Kalicya sambil mengangkat bahu.
“iya juga sih, ngomong
- ngomong kenapa Vero nggak bangun - bangun sih?” Tanya Galang sambil duduk
didepan bangkuku.
“capek mungkin.
Daritadi dia nggak semangat gitu.” Jawab Kalicya sambil memandangiku.
“kasian juga.” Kata
Galang sambil mengelus rambutku. Karena merasa terganggu, aku terbangun dengan malas.
“loh ada Galang? Sejak
kapan ada disini? Aku kok nggak tau?” tanyaku kaget karena melihat Galang yang
ada didepanku.
“mangkannya jangan tidur
mulu.” Kata Kalicya sambil tertawa kecil. Aku hanya menggaruk - ngaruk kepala.
“ke kantin yuk, males
nih di kelas. Nggak ada kerjaan.” Ajakku sambil beranjak berdiri dan menarik
tangan Galang dan Kalicya. Kami bertiga akhirnya memutuskan pergi ke kantin.
Sesampai di kantin, kami mendapati Bagas sedang bercanda dengan teman - temannya.
“hey Bagas?” teriak Galang
sambil melambaikan tangan.
“oh hai, sebentar aku
akan kesana” sahut Bagas sambil berjalan menuju meja tempat aku, Kalicya, dan
Galang duduk.
“ke kantin juga? Kirain
masih demen nunggu di kelas.” Tanya Bagas sambil menarik kursi disebelah Kalicya.
“nggak betah
sebenernya. Mangkannya kita kesini.” Jawab Kalicya dengan merapikan cara
duduknya. Bagas hanya membalas jawaban Kalicya dengan mengacak - acak rambut
Kalicya yang pendek. Kami semua tertawa bersama.
“Kalicya mau pesen apa?”
Tanya Galang.
“pesen mi bakso aja.”
Jawab kalicya sambil menutup buku menu.
“oke. Bentar ya aku
pesenin dulu.” Kata Galang lalu pergi meningggalkan kami bertiga. Sementara
Galang sedang memesan makanan, tiba - tiba saja….
“auw..” jeritku sambil
memegangi perut.
“Ve, kamu nggak papa?
Kamu sakit? Ke UKS yuk, aku anterin.” Cemas Kalicya.
“tapi Galang gimana?
Nanti dia nyariin kita.” Tanyaku dengan raut wajah yang mulai pucat.
“udah tenang aja, biar
aku yang kasih tau Galang. Kamu pergi ke UKS sama Bagas ya?” jelas Kalicya lalu
pergi meninggalkan aku dan Bagas.
“yuk, pegang pundakku.”
Perintah Bagas sambil membantuku berdiri. Kami berdua pun menuju UKS. UKS
begitu sepi, padahal kalau hari - hari biasanya UKS rame, karena banyak anak
kader yang ngumpul. Bagas membantuku naik ketempat tidur.
“terima kasih.” Kataku sambil berusaha untuk duduk.
“iya sama - sama. Kamu tidur aja, biar aku jaga disini.”
Kata Bagas sambil berjalan menuju kursi dekat tempat tidurku. Tanpa rasa
khawatir, aku mulai memejamkan mata dan langsung tertidur. Entah berapa lama
aku tertidur, mungkinkah aku sedang bermimpi? Ataukah ini nyata? Perlahan –
lahan aku membuka mata. Melihat keadaan sekarang, aku langsung terjaga dari
tidur pulasku. Aku langsung mendorong Bagas menjauh dariku.
PLAAAAAAKK !!
Sebuah tamparan dari
tanganku mendarat ke pipi sebelah kiri Bagas.
“aa…aapa.. yang kau
lakukan padaku?” tanyaku ketakutan. Tak ku sangka Bagas berani menciumku, entah
sejak kapan.
“aku menyukaimu Veronica. Aku menyukaimu.”
Kata Bagas sambil berusaha memegang kedua tanganku.
“kamu! Kamu sudah
memiliki Kalicya, dan aku memiliki Galang. Kamu tau itu! Tapi kenapa kamu
melakukan ini padaku?” marahku sambil menghempaskan tangan Bagas yang masih
berusaha memegang tanganku.
“karena aku menyukaimu
Veronica. Kamu tau? Aku berpacaran dengan Kalicya hanya untuk, agar aku bisa
mendekatimu.” Jelas Bagas kepadaku.
“apa kamu benar – benar
menyukai Vero?” Tanya seseorang dari pintu masuk UKS dengan seorang cewek
dibelakangnya.
“Galang, aku tidak bermaksud…” sebelum aku
menyelesaikan kalimatku, aku melihat Kalicya
berlari pergi meninggalkan UKS. ”Kalicya jangan pergi aku bisa jelasin
semuanya…” teriakku sambil mengejar Kalicya. Aku menyusul Kalicya dengan
keadaan perut yang masih sakit. Sesampai didalam kelas, aku melihat Kalicya
sedang duduk termenung.
“Kalicya, aku minta
maaf.” Kataku memohon. Tetapi alhasil Kalicya malah mengeluarkan air mata.
“Vero….” kata Kalicya
akhirnya sambil memelukku dan terisak – isak. “ aku tau, aku tau ini akan
terjadi.” Kata Kalicya memulai.
“maksudmu apa? Apa yang
akan terjadi?” tanyaku penasaran sambil menggoyang – goyangkan tubuh Kalicya.
“aku tau kalau Bagas
tidak menyukaiku, selama ini dia berpacaran denganku dia hanya terus bertanya
tentang kamu, Ve. Apalagi pada waktu kita pulang dari makan siang setelah
pertandingan basket kamu, aku meminta Bagas untuk mengantarku pulang. Tapi apa
yang dia lakukan, dia malah membuntuti kamu dan Galang agar dia tau rumah
kamu.” Jelas Kalicya, tangisannya mulai berhenti.
“aku minta maaf, Ve.
Aku ingin sekali memeritahumu, tapi aku takut karena Bagas mengancamku. Dia
mengancam akan memutuskan hubungan persahabatan kita, aku nggak mau itu
terjadi. Dan selama ini aku hanya cerita ke Galang. Karena menurutku hanya
Galang yang bisa membantuku.” Jelas Kalicya dengan penuh penyesalan. Aku tidak
kuat melihat penderitaan yang telah dialami sahabatku, dia berkorban banyak
demi mempertahankan persahabatanku dengan dia. Oh Kalicya.. kenapa kamu
melakukan itu semua. Omelku dalam hati.
“jadi… Galang tau?”
tanyaku pelan kepada Kalicya. Kalicya hanya menganggukkan kepala.
“oh astaga…” aku mulai
lemas mendengar semua pernyataan Kalicya. “ dan tadi, ketika aku kesakitan,
kenapa kamu memberi kesempatan kepada Bagas untuk mengantarku ke UKS? Kalau
seandainya bukan Bagas tapi kamu yang nganterin aku, kejadiannya nggak akan
kayak gini.” tanyaku mengingat kejadian di kantin.
“ya aku memang salah,
aku salah. Waktu itu, sebenarnya aku akan menyuruh Bagas yang menemui Galang,
tapi dia memberi isyarat agar aku saja yang menemui Galang. Dan aku
menurutinya. Maafkan aku Ve, aku takut.” Jawab Kalicya yang mulai mengeluarkan
air mata lagi dengan tubuh yang bergetar.
“cukup, kamu nggak
salah Cy.” Kataku menenangkan Kalicya. Suasana menjadi hening setelah Kalicya
menceritakan semuanya padaku.
“kamu beruntung, kamu
memiliki Galang yang sayang sama kamu.” Kata Kalicya memecah keheningan.
“ya, because me I love
him.” Jawabku sambil memeluk erat Kalicya.
* * * *
Enam bulan kemudian….
Tepat pada tanggal 25
Desember 2013. Kalicya telah putus dengan Bagas, dan hubunganku dengan Galang
semakin baik semenjak kejadian yang membuat kami bertiga frustasi.
“pagi Kalicya… ayo
bangun dong..” kataku sambil menarik – narik kaki Kalicya.
“ah masih malam tau.”
Jawab Kalicya malas.
“hey ini udah subuh.
Ayo cepat bangun. Mandi trus salat, trus kita olah raga.” Ajakku sambil menarik
selimut dan menyeret Kalicya sampai terjatuh ke lantai.
“auw… iya iya aku
bangun.” Kata Kalicya sambil berjalan menuju kamar mandi. Hari ini aku menginap
di rumah Kalicya agar Kalicya melupakan kejadian yang lalu. Dan sepertinya
Kalicya mulai terbiasa melupakan Bagas. Hari ini hari Minggu yaitu hari ulang
tahunku.
“udah siap?” tanyaku
kepada Kalicya.
“siap, yuk berangkat.”
Jawab Kalicya sambil berjalan mendahuluiku. Kami berdua pun pergi berolahraga
di sekeliling kompleks.
“oh ya, Happy Birthday
my bestfriend Veronica.” Kata Kalicya sambil mengulurkan tangan.
“thank you so much my
bestfriend Kalicya.” Jawabku sambil membalas jabat tangan Kalicya.
“kamu nanti pulang di
jemput apa mau aku antar?” Tanya Kalicya sambil berjogging.
“Mmm, nanti Galang
jemput aku.” Jawabku santai.
“oh gitu, ya udah deh
kalau gitu.” Kata Kalicya lalu berlari mendahuluiku. Aku hanya tersenyum
melihat tingkah laku sahabatku itu. Kami beristirahat di bawah pohon cemara
dekat rumah Kalicya.
“Tiga jam lagi Galang
jemput aku.” Kataku sambil melihat jam tangan.
“kenapa harus pulang
pagi sekali?” Tanya Kalicya setelah meneguk air dibotol.
“aku kasian mama nggak
ada yang bantu di rumah, lagian Galang juga bisanya pagi.” Jelasku sambil
tersenyum.
“oke baiklah, yuk
pulang lalu sarapan. Mamaku pasti udah nyiapin makanan yang enak buat kita.”
Ajak Kalicya yang mulai berdiri.
“ya udah, yuk..” aku
berjalan mengikuti Kalicya. Kami berdua pun telah sampai di rumah Kalicya.
“Ma, Kalicya laper,
Vero juga laper.” Teriak Kalicya saat memasuki rumah.
“ih apaan sih kamu, kan
kamu doang yang laper.” Marahku kepada Kalicya karena seenaknya saja menyuruh
ibunya seperti menyuruh seorang pembantu. “ enggak kok tante, Kalicya aja yang
laper.” Teriakku kepada Mama Kalicya.
“iya ini makanannya
udah siap. Kalian mandi dulu gih sana.” Teriak Mama Kalicya dari balik dapur.
“iya tante, bentar lagi
kami turun.” Kataku sambil berjalan menaiki tangga. Setelah kami berdua
membersihkan diri, kami pun turun untuk sarapan. Tapi belum sempat menuruni
tangga, tiba – tiba handphoneku berbunyi.
“hallo Galang?” jawabku
setelah tau bahwa yang menelepon adalah Galang.
“maaf, apa benar ini
dengan nona Vero?” Tanya seseorang dari seberang sana.
“iya benar, ini siapa
ya?” tanyaku karena merasa bukan Galang yang sedang berbicara.
“ini dari rumah sakit,
kami mau mengabarkan bahwa saudara yang bernama Galang mengalami kecelakaan.”
Jelas seseorang di seberang sana.
“aapa? Di mana alamat
rumah sakitnya? Oh baiklah, saya segera ke sana.” Jawabku lalu menutup telepon.
“ maaf Kalicya, tante. Vero harus pergi sekarang.” Kataku kebingungan sambil
mencari tasku. “ tasku dimana?” tanyaku bingung dengan air mata yang mulai
mengalir.
“ada apa Ve? Terjadi
sesuatu sama Galang? Ayo cerita Ve?” Tanya Kalicya khawatir.
“Galang Cy, Galang
kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit. Kata orang yang tadi telepon
keadaannya kritis.” Jelasku dengan tangan gemetar.
“tenang Ve, kalau gitu
kita pergi sama – sama. Bentar aku ambil kunci mobil dulu.” Ajak Kalicya yang
pergi menuju kamarnya, tak lama kemudian Kalicya muncul dengan membawa kunci
mobil dan tas di tangannya. Selama di perjalanan aku menangis tanpa henti. Apa
yang aku lakukan, seharusnya aku tak menyuruh Galang untuk menjemputku. Ini
semua salahku. Ini semua salahku. Omelku dalam hati sambil memukul – mukul
kepala.
“Ve, stop. Jangan
seperti anak kecil. Kamu bantu doa aja, sebentar lagi kita sampai.” Kata
Kalicya menenangkanku. Aku hanya membalas ucapan Kalicya hanya dengan
mengangguk. Kalicya benar, tak lama kemudian kami berdua sampai di Rumah Sakit
Umum. Kami berdua langsung berlari menuju ruang ICU. Kami berdua bertemu dengan
orang yang membawa Galang ke rumah sakit. Tak lama kemudian seorang dokter
keluar dari ruang ICU.
“ada saudari yang
bernama Vero?” Tanya dokter sambil mencari disekeliling.
“saya dok, kenapa
dokter?” tanyaku mulai khawatir.
“Galang ingin bertemu
dengan anda.” Kata dokter sambil mempersilahkan masuk. Aku pun masuk ke ruang
ICU. Di dalam sosok Galang sedang terbaring lemas dengan darah di kepalanya.
Aku langsung berlari dan memeluk Galang.
“ini salahku. Ini
salahku.” Kataku sambil memukul – mukul kepala.
“sstt.. udah ini bukan
salah kamu, aku yang nggak hati – hati. Udah jangan menangis lagi.” Kata Galang
lemas sambil berusaha membasuh air mata dipipiku. “ Happy Birthday Veronica
sayang. Maaf, aku mengucapkan selamat ulang tahun dalam keadaan yang
menyedihkan.” Kata Galang dengan seutas senyum dibibirnya. Tak kuat membendung
air mata, aku menangis tanpa henti sambil memeluk Galang.
“Kamu harus bahagia,
Ve. Aku nggak tau sampai kapan aku akan bertahan, carilah cinta yang baru,
jangan cengeng. Lindungi orang yang kamu sayangi, jangan membenci orang yang
kamu benci. Aku akan sangat marah jika kamu tidak menurutiku.” Kata Galang
dengan terbata – bata sambil mengelus rambutku yang terurai panjang.
“enggak, kamu nggak
boleh pergi Galang, kamu akan tetap hidup. Dan aku tidak akan pernah mencari
penggantimu. Aku akan tetap menjadi milikmu.” Kataku sedikit berteriak sambil
memegang kedua tangan Galang yang lemas.
“maafkan aku.” Setelah
kalimat terakhir yang diucapkan Galang, tiba – tiba tangan Galang lemas dan
jatuh terlunglai dari tanganku. Galang memejamkan mata, tak kusangka dia akan
pergi begitu cepat meninggalkanku.
* * * *
Setelah memakamkan
Galang, keluarga, saudara, dan teman – teman Galang pergi meninggalkan
pemakaman. Hanya tinggal aku dan Kalicya.
“Ve, ayo pulang.” Ajak
sahabatku Kalicya saat aku berjongkok memegangi nisan makam Galang.
“Galang, aku tau saat
ini kamu masih berada di sisiku, memandangiku dengan senyuman kamu yang begitu
manis. Kamu harus ingat Galang, bahwa aku tidak akan pernah mencari
penggantimu, aku akan tetap mencintaimu Galang. Because I love you.”
TAMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar