Sabtu, 24 Oktober 2015

Coretan Bulan Oktober

Berawal dari sebuah pertunjukan pentas seni. 
Saat kau berpuisi, kau terlihat begitu sempurna hingga aku mengagumimu. 
Beberapa hari setelah itu, kau mulai menghampiriku, menghujamku dengan sajak - sajak indahmu hingga aku terpesona. 
Hari demi hari terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. 
Dan hari demi hari itu pula aku mulai menyukaimu. 
Hingga pada suatu saat, kau memanggilku dengan sebutan "Rembulan", "Bidadari", dan "Perempuanku". 
Pada saat itu kau mulai menjadikan aku sebagai milikmu seutuhnya. 
Kita berdua sama - sama mengakui jika kita saling menyukai. 
Tapi kau bilang "Bukan waktunya untuk diungkapkan, nunggu waktu yang tepat. Yang jelas kita sama - sama suka". 
Aku pun mulai berpikir liar akan pesan yang kau sampaikan. 
Aku bahagia sekaligus takut. 
Bahagia karena kau juga menyukaiku, takut karena kata - katamu memberi ketidakpastian. 
Setiap hari kita berdua berkomunikasi, bercanda, hingga aku lupa akan tujuan awalku.

Namun, setelah waktu yang kita lewati, tiba - tiba kau menjauh entah kenapa. 
Kau sudah jarang menghubungiku lagi seperti biasa. 
Saat ku tanya, kau hanya menjawab sibuk, sibuk, dan sibuk. 
Lalu dulu itu apa? 
Meskipun kau sibuk, kau selalu meluangkan waktumu untuk menghubungiku hanya untuk sekedar memberi kabar padaku. 
Aku ingin menangis, tapi aku ingat akan pesanmu 
"Jangan mendung purnamaku. Aku takut ada laki - laki lain yang menghapuskan air matamu". 
Jika kau benar - benar takut, hapuslah air mata ini sekarang. 
Setiap malam tidurku tak nyenyak memikirkanmu. 
Saat aku menghubungimu, kau bahkan tidak merespon. 
Meskipun saat kita bertemu dalam ketidaksengajaan kau selalu memberikan senyuman padaku, aku semakin ragu denganmu. 
Jika pada akhirnya seperti ini, seharusnya kita berdua tidak dipertemukan. 
Tuhan tahu, setiap malam aku selalu memikirkanmu dan berdoa agar kau kembali seperti pada awal kita bertemu. 
Apakah aku punya salah padamu? 
Katakanlah! 
Maka aku akan meminta maaf jika itu menyakitimu. 
Aku bingung harus berbuat apa. 
Pikiran liar ini selalu datang hingga membuatku cemas dan gelisah. 
Sekarang aku merasa seperti berada pada perahu yang bergoyang lantaran terkena ombak. 
Nasibku masih dipertanyakan. 
Akankah perahu yang aku tumpangi oleng dan jatuh atau masihkah bisa bertahan?
Yang aku butuhkan hanyalah kabar darimu. Malamku...

Kamis, 22 Oktober 2015

Kerinduan Malam dan Rembulan di bulan September

Aku tak ingin menaklukkan wajahmu yang manis tapi yang ku ingin menaklukkan hatimu yang menangis...

Menangis dalam tidur
Jangan mendung purnamaku, Aku masih butuh keningmu untuk berjuang menaklukan matahari...

Nona aku bermimpi tentang senyummu yang menempel di hati, atas nama langit dan bumi yang ditulis oleh angin di laut samudra, Aku yakin bahwa hatimu berisi mutiara dan mata kejora wahai perempuan manis yang berselendang biang lala...
Barisan kata itu telah membuatku lupa akan tujuanku, membuatku rindu, membuat sesak dadaku

Aku merindukannya
Aku sangat merindukan mereka
Mungkin rasa sakitku akan hilang setelah bertemu dengan mereka
Malaikat hidupku, kalian adalah obat rinduku
Jangan murung purnamaku..
Ku tak bisa menyembunyikan kemurungan ini dari dunia
Kalau pean murung, tanpa kemunafikan. indahnya bunga di taman tak harum semerbak lagi baunya...
Aaahh, kata-kata itu terlalu indah tuk ditujukan padaku   
Bukan terlalu indah karna sangat pantas untuk diungkapkan sama bidadari yang berselendang biang lala...  
Baik-baik rembulan, Aku menunggu serpihan rindumu yang indahnya tiada tara...

Purnama merindu
Sumpah malam dicabik - cabik, diremas - remas, dan dipora - porandakan oleh kerinduannya yang sudah memuncak rembulan

Rindu yang tertunda, cuma hatimu yang bisa menjawab
Apa yang dirasakan hatimu?
Rembulan menyukai malam, ya rembulan menyukai malam. Itu dapat dirasakan saat rembulan tidak bertemu malam, rembulan begitu rindu
Hingga rembulan selalu menanti malam
Tidur tak nyenyak....
Terus terngiang - ngiang...
Rindu tak selebar siang tak sedalam malam...
apakah itu sebuah pengakuan?
Belum saatnya untuk diungkapakan, nunggu waktu yang tepat, yang jelas kita sama - sama suka

nduuk... Rindu...
Rembulan pun Rindu
Semoga malaikat mencatat kita, juga tetap bertemu di firdaus-Mu Tuhan..

Aku ingin bertemu denganmu sedetik saja..
Rindu menagih janji yang menyiksa..
Tapi lebih penting semangatmu perempuanku



Aku rindu malam saat menyapa rembulan
Malam lebih rindu saat rembulan menyapanya...
Kerinduan rembulan sampai alam mimpinya malam..
 
Semoga mimpi kita sama Nona...
Entah fiksi atau fakta di dunia yang fana ini, detak jantung sepakat bahwa langit menunggu bumi sedangkan purnama menanti malam..
sederhana Nona...
Sebait sajak indahku di curi surga, karena sajak itu tak pantas di ungkapkan di dunia Nona...
Atas nama Tuhan disebrang sana yang tak terlihat bayangannya...
Aku melihat orang-orang terbang di langit menggoda langit biru sana Tuhan, Aku hanya malam yang terus menunggu tangga untuk memelukmu rembulanku...
Darahku mengalir deras berdzikir tentangmu Nona...
Tenggelamkanlah aku dalam lautan rindu yang selalu mengganggu langit pikiranku Tuhan.. langit pikiranku Tuhan..
Rabiatul Adawiyah, rindu akan kerinduannya dan cinta akan cintanya Tuhan..