Berlian itu mulai terjatuh
Serangan pisau datang bertubi-tubi
Berusaha memecahkan berlian itu
Sedihnya sedihku
Tak ada yang lebih sakit
Dari jatuhnya berlian
Ibu...
Simpan berlian itu kembali
Satu tetes
Berarti darah bagiku
Bajingan!!
Tulang rusukmu
Memecahkan berlian yang kau simpan
Dalam-dalam
Ceritaku
Senin, 09 April 2018
Rabu, 11 Januari 2017
Kisahmu Ada Padaku
Kisahmu ada padaku
Ini itu ini itu
Kisah apa itu?
Ingin kau bersembunyi
Perlahan tak terlihat, olehnya atau olehku?
Untuk kisahmu
Tak pernah sekalipun melihat
Rinai air asin mengalir membasahi pipi anak lugu
Aku? Ya! Akulah anak lugu yang menjaga kisahmu
Ini itu ini itu
Kisah apa itu?
Ingin kau bersembunyi
Perlahan tak terlihat, olehnya atau olehku?
Untuk kisahmu
Tak pernah sekalipun melihat
Rinai air asin mengalir membasahi pipi anak lugu
Aku? Ya! Akulah anak lugu yang menjaga kisahmu
Sabtu, 22 Oktober 2016
Peci, Doeloe Sekarang
Semburat sinar mentari
mulai menunjukkan wujudnya dari ufuk timur. Kegiatan rutin ibu-ibu Desa Labruk
Lor mulai terlihat. Burung-burung mulai berkicau ke sana kemari, banyak orang
yang memilih berolahraga selepas sholat subuh berjamaah, ada pula yang memilih
ikut bergosip di mlijoan sambil
memilih sayur mayur untuk sarapan keluarga. Aku menyibakkan kelambu kusam yang
bertengger di jendela rumahku yang lebar. Mengintip dan berpikir sejenak,
akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu dan berjalan perlahan keluar dari
rumah kuno yang aku tinggali. Aku memilih duduk di amben yang terletak di beranda rumah menikmati udara pagi hari yang
masih bersih belum tercemar. Dengan mata yang sayu, tangan menompang dagu melihat
keadaan sekitar yang mengingatkanku akan masa kecil enam tahun silam. Inilah
aku, seorang gadis lugu dengan tubuh yang mungil.
Hari
Minggu adalah hari dimana anak-anak desa melepas penat setelah sepekan bergelut
dengan bangku sekolah. Hari ini aku dan anak-anak desa lainnya merencanakan
untuk mandi di kali saat hari menuju siang. Sebelum bermain di sungai, sambil
menunggu, aku dan teman-teman bermain kelereng di latar depan rumah Yosi. Yosi adalah seorang anak laki-laki yang dua
tahun lebih muda dariku. Memiliki tubuh tinggi dengan kulit yang putih dan
rambut yang agak keriting. Yosi anak laki-laki yang manja, dia akan menangis
jika teman-temannya mengolok dan mengejeknya. Latar rumah Yosi sudah menjadi tempat kami berkumpul dan bermain
khalayak taman bermain anak-anak. Homsin membuat lubang berukuran bola kasti di
tengah-tengah latar sebagai salah
satu syarat permainan kelereng. Aku mengamati Homsin menggali lubang berukuran
bola kasti tersebut. Dia adalah anak laki-laki yang satu tahun lebih muda dariku.
Kulitnya paling hitam dari yang lain tetapi dia memiliki senyum termanis dari
kumpulannya. Sikapnya yang humoris membuat semua orang betah di dekatnya. Lubang
yang dibuat Homsin tidak begitu dalam dan juga tidak begitu dangkal. Merasa
diperhatikan, Homsin menoleh ke arahku dan tersenyum.
“ Eh… coba masukkan kelerengmu ke lubang ini!” aku
menganggukkan kepala lagu mengambil jarak agak jauh dari lubang. Setelah
menemukan jarak yang pas, aku meletakkan kelereng di tanganku dengan posisi
jari jempol di belakang kelereng, setelah posisinya pas aku langsung mendorong
kelereng menggunakan jari jempol ke arah lubang yang dibuat Homsin tadi.
kelereng meluncut tidak terlalu cepat, tetapi kelereng tersebut terus mendekati
lubang dan masuk ke lubang dengan pelan. Melihat itu, Homsin
mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempatnya berjongkok di
sebelah lubang sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya berusaha
membersihkan tanah dan debu yang menempel di telapak tangannya.
“ Oke, aku rasa lubangnya sudah cukup. sekarang
waktunya bermain.” setelah yakin telapak tangannya bersih dari tanah, Homsin
segera mengeluarkan kelereng berwarna putih bening dengan motif pelagi di
dalamnya. Aku dan yang lain pun melakukan hal yang sama. Aku mengeluarkan
kelereng berwarna biru bening yang di dalamnya terdapat gliter berwarna perak. Setelah menyiapkan kelereng masing-masing,
Homsin, Yosi, Trio, dan aku mengambil tempat di garis start yang sudah dibuat
Trio. Trio adalah adik sepupuku yang rumahnya berada tepat di depan rumahku.
Dia teman bermain yang paling muda dan yang paling suka mengalah. Trio lah yang
selalu mengajakku bermain dengan teman-teman laki-lakinya. Lemparan pertama
dilakukan oleh Homsin diikuti Yosi, Trio, baru kemudian aku. Melihat hasil
lemparan, Trio mendapatkan giliran bermain pertama karena kelerengnya yang
terletak paling dekat dengan lubang diikuti Homsin, aku, lalu terakhir Yosi
yang kelerengnya terletak paling jauh dari lubang. Kami berempat bermain
bergantian, saling mematikan lawan. Hari sudah semakin siang, merasakan bosan
bermain kelereng dan matahari semakin panas, tiba-tiba Homsin mengajak kami
untuk segera ke kali karena cuaca
sudah semakin panas. Kami berempat pun segera meninggalkan latar rumah Yosi dan menuju sungai yang terletak di belakang tidak
jauh dari rumah Yosi. segera Yosi mengambil ban pelampung yang ia simpan di
gudang belakang rumahnya. Pada masa itu, anak-anak desa masih begitu polos dan
lugu termasuk aku. Aku lebih memilih bermain dengan teman laki-laki daripada
bermain dengan teman cewek. Kali terlihat
sepi, hanya terlihat beberapa orang sedang mencuci baju di kali. Air kali begitu
jernih sehingga tampak ikan-ikan kecil berlalu-lalang di tepi kali. Kami mandi dengan hanya memakai
celana dalam dan kaos. Sudah seperti kegiatan rutin kami setiap hari Minggu,
kami menghanyutkan diri di sungai dengan menggunakan ban mobil bekas. Secara
bergantian kami menaiki ban mobil bekas dan mengikuti aliran kali sampai jauh ke bawah.
Waktu
berjalan dengan cepat. Tidak kuasa kami meninggalkan kali karena orang tua kami akan melarang bermain jika terlalu lama
di kali. Kami memakai pakaian lengkap
kami dengan celana dalam dan kaos yang masih basah. Aku pergi meninggalkan
Homsin, Yosi, dan Trio karena mereka masih ingin berlama-lama di kali untuk menangkap ikan.
“ Jangan lupa nanti malam kita bermain petak umpet.
Ajak anak-anak yang cewek untuk ikut. semakin banyak semakin bagus.” teriak
Homsin ketika melihatku pergi.
“ Baiklah, nanti malam di depan rumahku.” melihat
anggukan Homsin, aku memutar tubuhku dan meninggalkan mereka. Cuaca hari ini
memang panas sekali, padahal baru saja aku kembali dari kali tetapi aku merasakan keringat mulai mengucur di punggungku.
Aku memutuskan untuk berlari ingin cepat sampai di rumah. Di depan rumah Yosi
yang tidak jauh dari rumah, aku melihat mbah Ami mengangkat kayu bakar seorang
diri. Melihat itu, aku langsung menghampiri mbak Ami dan membantunya.
“ Kenapa dilakukan sendirian, mbah?” tanyaku sambil
membawa kayu bakar mengikuti mbah Ami dari belakang.
“ Anak-anak laki-laki mbah semua bekerja. Mbah hanya
seorang diri di rumah, lagi pula kayu ini ringan.” melihat keringat yang
mengucur di dahi mbah Ami, aku mengangkat kayu dengan cepat. Setelah semua kayu
terangkat ke dalam rumah mbah Ami, aku pamit pulang. Tetapi langkahku terhenti
karena tiba-tiba mbah Ami memanggil sambil berjalan ke arahku.
“ ini nduk upahmu membantu mbah.” katanya sambil
menyodorkan uang kertas seribu rupiah. Dengan polos dan mata berbinar, aku mengambil
uang yang disodorkan mbak Ami padaku.
“ Terima kasih, mbah.” kataku. Uang yang tadinya
berada di genggaman mbah Ami, kini telah berpindah tempat di tanganku. Mbah Ami
tersenyum dan berbalik kembali ke dalam rumahnya. Aku melanjutkan perjalanan pulang
dengan bersenandung senang. Aku memasukkan uang seibu rupiah ke dalam saku rok
yang aku kenakan.
Rumah
begitu sepi seperti tak berpenghuni. Aku masuk lewat pintu belakang karena
pintu depan terkunci. Memang sudah menjadi kebiasaan ibuku mengunci pintu rumah
ketika akan tidur siang atau pergi ke rumah tetangga. Pintu belakang tidak
terkunci, aku masuk secara perlahan sambil berteriak memanggil ibuku.
“ Bu… Ibu…” teriakku sambil dengan menelusuri rumah.
Karena tidak ada jawaban, aku langsung menuju kamar ibuku. Di sana aku melihat
wanita paruh baya tidur terlelap dengan posisi tengkurap. Aku mengurungkan niat
membangunkan ibuku lalu pergi ke meja makan melihat apakah ada sesuatu untuk di
makan. Karena rata-rata mata pencaharian di desaku adalah bertani dan berkebun,
maka lauk pauk yang biasa dimasak adalah seperti tumis terong dan dadar jagung.
Aku mengambil satu dadar jagung untuk aku makan tanpa nasi. Dadar jagung juga
salah satu makanan kesukaanku. Makanan paling dimintasi oleh masyarakat Desa
Labruk Lor adalah sayur kelor. Setiap rumah bahkan memiliki pohon kelor di
depan rumah masing-masing begitu pula di depan rumahku. Merasa mengantuk, aku
menyusul ibuku dan tidur di dekat ibuku yang sudah tertidur lelap.
Hari
sudah sore. Ibuku sibuk di dapur, menyiapkan masakan untuk makan malam.
Sedangkan Ayahku ke luar kota melakukan pekerjaannya sebagai sopir. Aku berniat
membantu Ibuku memasak, tetapi Ibuku melarang karena hari sudah akan maghrib
dan aku masih belu mandi. Ibuku selalu melarang keras anak gadisnya mandi
menjelang maghrib. Menurutnya itu tidak baik, kata orang dulu atau nenek moyang
kami dulu mandi menjelang maghrib akan membuatmu jauh dari jodoh. Hal itu sudah
menjadi stereotip di desaku. Semua orang mempercayainya, bahkan ada yang
benar-benar terjadi tidak menemukan jodohnya sampai umur 50 tahun. Oleh karena
itu aku tidak berani membantah perkataan Ibuku. Aku langsung mengambil handuk
dan bergegas mandi. Saat itu aku masih kelas tiga SD, belum tahu menahu masalah
perkataan orang tua. Setelah mandi, aku melihat meja makan sudah penuh dengan
berbagai macam masakan. Ibuku memanggilku dan kakak perempuanku untuk segera
makan. Masakan rumahan memang sederhana, tetapi sangat istimewah jika kita
memakannya bersama dengan keluarga. Ketika nasi yang aku makan sisa separuh,
aku mendengar ada yang memanggil dari luar. Aku melongok keluar pintu dengan
tangan yang masih belepotan nasi dan bumbu. Aku melihat sepupuku Trio berdiri
di depan rumah.
“ Ayo main petak umpet. Sudah di tunggu sama
teman-teman yang lain.” ajaknya.
“ Iya baiklah, tapi aku masih makan. Mulai saja
tanpa aku, nanti aku menyusul.” kataku sambil menunjukkan tanganku yang masih
belepotan nasi. Tiba-tiba Ibuku berteriak dari dalam dengan nada sedikit marah.
“ Wulan! Cepat selesaikan makananmu, jangan
buang-buang makan. Mubazir!” teriak Ibuku. Aku segera member kode kepada Trio
untuk segera pergi dan memberitahu bahwa aku akan menyusul setelah aku selesai
makan. Tanpa banyak bicara, sepupuku mengangguk lalu pergi meninggalkan rumahku
dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Aku pun masuk dan melanjutkan
ritual makan malamku. Karena aku makan dengan lambat, maka aku yang terakhir di
meja makan. Ibu dan kakakku mulai membereskan piring-piring kotor untuk dicuci.
“ Setelah selesai makan, tutup lauknya dengan tudung
nasi agar ikannya tidak dicuri oleh kucing.” setelah berpesan, Ibuku
meninggalkanku sendirian di meja makan. Selesai makan aku mencuci piringku dan
berpamitan kepada Ibuku untuk pergi bermain. Setelah berpamitan kepada Ibuku,
aku langsung pergi dan menghampiri teman-temanku yang sudah memulai permainan
petak umpetnya. Malam ini, rembulan memancarkan cahayanya cemerlang, dihiasi
taburan bintang-bintang dan awan-awan tipis. Suara jangkrik bersahutan
bersenandung lagu malam. Membuat malam semakin terasa indah dan damai. Kami
anak-anak desa bermain dengan riang. Saat kami sedang asik bermain, tiba-tiba
mbah Ami memanggil dan melambaikan tangannya memanggil kami semua untuk
mendatanginya. Kami saling pandang lalu memutuskan untuk menghampiri mbah Ami.
Ketika semakin dekat dengan mbah Ami, aku melihat mbah Ami membawa nampan
berisi singkong rebus. Melihat itu aku mempercepat jalanku. Mbah Ami adalah
nenek dari Yosi. Di desa kami, tetangga yang sudah dekat atau bahkan
anak-cucunya dekat satu sama lain, maka mereka akan menganggapnya sebagai
saudara sendiri.
Singkong
rebus telah terhidang di hadapan kami, di atas meja ruang tamu Yosi yang
berbentuk bundar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya.
"Ayo di makan!" Mbah Ami mempersilakan kami untuk makan singkong rebus tersebut. Bu Ami adalah keluarga petani yang sangat sederhana, namun Ia sangat senang berbagi. Tidak jarang beliau berbagi makanan kepada kami, saat kami bermain atau sedang belajar bersama cucunya Yosi dirumahnya. Sering, ada saja makanan yang dihidangkan untuk kami seperti saat ini. Kami menikmati singkong rebus sambil berceloteh membicarakan rencana 'mau bermain apa?' selanjutnya. Tak sampai sepuluh menit, isi nampan yang berukuran agak besar itu sudah terkuras tak bersisa, disikat oleh empat orang anak, tinggal nampan kosong yang tersisa di atas meja. Acara singkong rebus pun usai. Kini saatnya kami beraksi kembali. Kami telah sepakat untuk bermain benteng-bentengan. Kami mulai sibuk membuat peraturan dan membagi teman. Karena hanya aku perempuan di antara yang lain, maka aku diberi tugas menjaga benteng pertahanan sedangkan Trio sebagai partner mainku bertugas merebut benteng lawan. Homsin dan Yosi pun melakukan hal yang sama seperti kami dengan membagi tugas yaitu Yosi yang menjaga benteng dan Homsin yang bertugas merebut benteng pertahanan lawan. Kami pun mulai bermain. Kami bermain dengan perasaan riang dan perut riang berkat singkong rebus mbah Ami. Hari sudah semakin malam, kami berempat sudah mendapat panggilan dari Ibu masing-masing. Dengan berat hati aku dan teman-teman mengakhiri permainan karena besok Senin harus bersekolah kembali. Aku pulang di jemput oleh Ibu. Dengan keadaan tubuh berkeringat, aku berlari mendahului Ibu masuk ke dalam rumah langsung menuju kipas angin yang bertengger di ruang keluarga. Setelah menghidupkan kipas angin, aku mengambil posisi di depan kipas dan menikmati sejuknya angin yang dihasilkan. Dengan iseng aku bernyanyi tepat di depan kipas. Ketika bernyanyi di depan kipas, suaraku menjadi bergetar. Mendengar suaraku yang bergetar lucu akibat angin dari kipas, aku tertawa cekikikan. Tak lama kemudian Ibu muncul dari ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku. Tidak menyadari kedatangan Ibu, aku terus bernyanyi semakin keras. Lalu aku merasakan sedikit mual, mungkin terlalu lama berasa di depan kipas. Aku langsung mematikan kipas dan berhenti menyanyi pula. Tiba-tiba kakakku masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah dakon di tangannya. Ketika melihatku mengawasinya, kakakku mendekat dan meletakkan dakon di depanku.
"Ayo di makan!" Mbah Ami mempersilakan kami untuk makan singkong rebus tersebut. Bu Ami adalah keluarga petani yang sangat sederhana, namun Ia sangat senang berbagi. Tidak jarang beliau berbagi makanan kepada kami, saat kami bermain atau sedang belajar bersama cucunya Yosi dirumahnya. Sering, ada saja makanan yang dihidangkan untuk kami seperti saat ini. Kami menikmati singkong rebus sambil berceloteh membicarakan rencana 'mau bermain apa?' selanjutnya. Tak sampai sepuluh menit, isi nampan yang berukuran agak besar itu sudah terkuras tak bersisa, disikat oleh empat orang anak, tinggal nampan kosong yang tersisa di atas meja. Acara singkong rebus pun usai. Kini saatnya kami beraksi kembali. Kami telah sepakat untuk bermain benteng-bentengan. Kami mulai sibuk membuat peraturan dan membagi teman. Karena hanya aku perempuan di antara yang lain, maka aku diberi tugas menjaga benteng pertahanan sedangkan Trio sebagai partner mainku bertugas merebut benteng lawan. Homsin dan Yosi pun melakukan hal yang sama seperti kami dengan membagi tugas yaitu Yosi yang menjaga benteng dan Homsin yang bertugas merebut benteng pertahanan lawan. Kami pun mulai bermain. Kami bermain dengan perasaan riang dan perut riang berkat singkong rebus mbah Ami. Hari sudah semakin malam, kami berempat sudah mendapat panggilan dari Ibu masing-masing. Dengan berat hati aku dan teman-teman mengakhiri permainan karena besok Senin harus bersekolah kembali. Aku pulang di jemput oleh Ibu. Dengan keadaan tubuh berkeringat, aku berlari mendahului Ibu masuk ke dalam rumah langsung menuju kipas angin yang bertengger di ruang keluarga. Setelah menghidupkan kipas angin, aku mengambil posisi di depan kipas dan menikmati sejuknya angin yang dihasilkan. Dengan iseng aku bernyanyi tepat di depan kipas. Ketika bernyanyi di depan kipas, suaraku menjadi bergetar. Mendengar suaraku yang bergetar lucu akibat angin dari kipas, aku tertawa cekikikan. Tak lama kemudian Ibu muncul dari ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku. Tidak menyadari kedatangan Ibu, aku terus bernyanyi semakin keras. Lalu aku merasakan sedikit mual, mungkin terlalu lama berasa di depan kipas. Aku langsung mematikan kipas dan berhenti menyanyi pula. Tiba-tiba kakakku masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah dakon di tangannya. Ketika melihatku mengawasinya, kakakku mendekat dan meletakkan dakon di depanku.
“ Mau main in, dik?” katanya menawarkan.
“ Darimana mbak dapat itu?” Tanyaku sambil menunjuk dakon yang bertengger di depanku.
Kakakku hanya tersenyum nakal.
“ Ya beli lah dik, masak nyolong.” jawab Kakakku sekenanya. Ini nih, salah satu sifat yang
tidak aku suka dari kakakku. Selalu seenaknya sendiri, merasa dirinya yang
selalu benar. Tapi di samping sifatnya yang menyebalkan dia tetap perhatian
denganku. Aku menggelengkan kepala karena merasakan tubuhku yang semakin lemas
akibat kipas angin. Rasa mual semakin menjadi-jadi. Tidak tahan menahannya, aku
berlari sekencang mungkin ke kamar mandi. Ibuku yang sedari tadi sedang
menonton televise melihatku heran. Sesampai di kamar mandi aku langsung
mengeluarkan seluruh isi perutku yang aku isi saat makan malam tadi. Mendengar
suara orang muntah, Ibuku langsung ke kamar mandi. Ketika aku membungkukkan
badan terus muntah namun sudah tidak keluar apa-apa lagi, Ibuku memijat bagian
belakang leherku supaya muntahannya terus keluar. Namun melihat sudah tidak ada
lagi yang keluar, Ibu menghentikan pijatannya dan aku mulai membersihkan
mulutku dari muntahan.
“ Makanya jangan main terus. Gini jadinya masuk
angin.” kata Ibuku sambil membantuku berjalan keluar dari kamar mandi. Aku
hanya mamasang mimic merajuk. Masih terasa mual di perut. Melihatku yang terus
memegangi perut, Ibuku membawaku ke kamar.
“ Tunggu di sini. Ibu mau ambil minyak angin dan
kerokan. Biasanya kalau masuk angin dan langsung dikerok bisa cepat sembuh.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ibu meninggalkanku sendirian di kamar untuk
mencari minyak angin. Sambil menunggu Ibuku, aku mengambil posisi tengkurap di
kasur. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak bahkan untuk berbicara.
Tak lama kemudian Ibuku datang dengan membawa teplek berisi minyak tawon di tangan kirinya dan kerokan berupa
uang logam zaman dulu yang sudah tidak dipakai di tangan kanannya. Tanpa piker
panjang, Ibuku menaikkan bajuku hingga punggungku terlihat. Mulailah Ibu mengerok punggungku. Merasa nyeri
sekaligus geli, tubuhku bergerak-gerak gelisah.
“ Ibu sakit.” kataku merintih.
“ Iya, tahan sebentar. Lihat ini! Tubuhmu langsung
merah, kamu memang sedang masuk angin. Lain kali kalau mau main itu ingat
waktu! Jangan seharian main terus. Apalagi mandi di kali selama berjam-jam. Akibatnya ini jadi masuk angin.” omel Ibuku
sambil terus mengerok punggungku. Aku
hanya bisa merintih dalam diam merasakan sakit sekaligus geli. Tak lama
kemudian ritual kerok-mengerok pun telah usai. Aku merasakan Ibuku mulai
menurunkan bajuku sampai punggungku tertutup kembali. Mataku sudah semakin
berat. Samar-samar aku mendengar Ibuku berbicara padaku.
“ Sekarang istirahat. Setelah dikerok, besok mungkin
sudah bisa agak baikan.” setelah membereskan minyak, Ibuku pergi meninggalkanku
yang sudah tertidur pulas di dalam kamar.
Keesokan
harinya, aku merasakan tidak mual lagi. Benar apa yang dikatakan Ibu, setelah
dikerok aku menjadi lebih baik. Aku bangun dan bergegas mandi karena Senin
adalah awal dari memulai aktivitas. Seperti biasa ketika aku akan berangkat ke
sekolah, rutinitas gossip ibu-ibu desa mulai terlihat. Aku hanya menggelengkan
kepala, untung saja Ibuku tidak suka dengan yang namanya bergosip. Tanpa menghiraukan
ibu-ibu yang sedang bergosip, aku mendekati tempat mlijoan untuk membeli kue sebagai ganti sarapan. Ketika menyeruak
dikerumunan ibu-ibu, aku melihat kue getasan,
pisang goreng, dan juga donat. Tanpa piker panjang aku mengambil
masing-masing kue dua. Setelah memasukkannya ke dalam kantung plastik, aku
menyodorkan uang tiga lembar seribuan. Sambil menggigit kue aku berjalan menuju
ke sekolah. Sekolahku tidak jauh dari rumah. hanya lima belas menit jika
ditempuh dengan jalan kaki dan lima menit jika ditempuh dengan sepeda ontel. Di
sekolah aku mendapati seorang murid baru laki-laki. Dia selalu memakai pecinya
kemanapun dia pergi. Perlahan ku mulai dekati anak itu. Namun tak ada keinginan
bagiku untuk menyodorinya pertanyaan satupun. Aku lebih memilih menyapanya
melalui pandanganku yang tak kan pernah ia mengerti maksud tabiatku. Saat
melewatinya aku tersenyum kaku. Tubuhya kecil tidak gemuk. Rambutnya sedikit
menjulur ke dahinya. Peci kecilnya tak mampu menjangkau dan memeluk sedikit
rambutnya yang terjuntai keluar. Aku duduk di sebelahnya. Kami berdua duduk di
bangku depan kelas menikmati jam kosong. Dengan ragu aku menyapanya.
“ Hai… Aku Wulan. Namamu siapa?” tanyaku
memberanikan diri.
“ Hai, aku Akbar. Salam kenal.” balasnya sambil
mengulurkan tangannya menunggu sambutan tangan dariku. Melihat Akbar yang
tersenyum aku seperti tersadar dari lamunan, aku segera membalas uluran tangannya.
Dia tersenyum padaku lalu memalingkan wajahnya kembali kea rah depan. Aku
mengamatinya lekat. Entah apa yang sedang ia pandang sedari tadi. Dia hanya
menatap kosong ke depan. Aku teringat perkataan Ibuku bahwa tidak baik melamun,
katanya bisa kerasukan setan. Aku bergidik ngeri, mengingat itu tidak sengaja
aku memanggil Akbar keras yang membuatnya kaget. Akbar mengelus dadanya karena
kaget. Melihat itu aku meminta maaf.
“ Maaf mengagetkanmu. Tapi kata Ibuku melamun itu
tidak baik. Bisa kerasukan setan.” Kataku ketika akbar menolehkan kepalanya
padaku dan menatapku. Tak disangka Akbar tertawa.
“ Itu hanya cerita yang dibuat-buat orang tua supaya
kita takut dan tidak melamun lagi. Menurutku sebenarnya karena melamun itu
tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja.” jelasnya. Aku hanya membeo
sambil mengangguk-angguk.
“ Itu artinya sekarang kamu sedang membuang-buang
waktu.” kataku setelah menagkap penjelasan Akbar.
“ Mungkin.” jawabnya singkat.
“ Kenapa kamu selalu memakai peci?” akhirnya aku memberanikan
diri mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama aku tahan sejak pertama kali aku
melihatnya.
“ Entahlah. Aku merasa sedikit percaya diri jika
memakai peci kemanapun aku pergi. Sekaligus untuk menutupi rambutku yang
panjang.” jawabnya dengan senyum licik. Aku melongo mendengar jawaban
terakhirnya. Mendengar bel masuk, aku dan Akbar bergegas masuk ke kelas dan
memulai pembelajaran.
Teringat
peci, aku tersadar dari lamunanku. Dengan posisi tangan tetap menompang dagu.
Aku teringat, saat pertama kali masuk kuliah aku melihat seseorang yang selalu
mengenakan peci kemanapun ia pergi, tidak hanya untuk beribadah. Tapi aku tidak
tahu alasan dia memakai peci. Aku mengingatnya detail. Tubuhnya tidak terlalu
kurus juga tidak terlalu gemuk. Dia memiliki kulit sawo matang. Dengan sifatnya
yang baik dan bijaksana, membuat orang-orang di sekitarnya tidak peduli dengan
apa yang dia kenakan. Saat dia memperkenalkan diri, dia menyebut dirinya dengan
nama Jamil.
Sabtu, 23 April 2016
Aku Rindu
Aku rindu
Gurau senyum sapamu
Untaian sajak-sajak indahmu
Selalu terngiang dalam otak kecilku
Aku rindu
Aku rindu
Sang malam yang dirindukan rembulan
Hitam putih kenangan
Oh rembulan begitu rindu
Lelah menunggu dan berharap pilu
Entah itu dirasakan rembulan, perih
Hingga tak sanggup lagi merintih
Aku rindu...
Gurau senyum sapamu
Untaian sajak-sajak indahmu
Selalu terngiang dalam otak kecilku
Aku rindu
Aku rindu
Sang malam yang dirindukan rembulan
Hitam putih kenangan
Oh rembulan begitu rindu
Lelah menunggu dan berharap pilu
Entah itu dirasakan rembulan, perih
Hingga tak sanggup lagi merintih
Aku rindu...
Kamis, 21 April 2016
Mimpi Sang Rembulan
Kita masih belum kenal lama
Hanya butuh waktu satu bulan untuk Tuan bertegur sapa dengan Nona
Saling ucap rembulanku dan malamku
Apakah itu masih berlaku sampai saat ini?
Mengenangmu adalah hal terbodoh yang kulakukan, namun juga hal termanis dalam hidupku
Bernostalgia tentang rembulan dan malam
Rembulan bertanya-tanya....
Kapan malam menyapa rembulan kembali
Rembulan selalu menunggu dengan ketidakpastian
Berharap malam masih ingat dengan kata-katanya kepada rembulan
Rembulan bermimpi, mimpi yang aneh
Mimpi tentang malam yang menyimpan sepucuk kertas yang bertuliskan "Pasangan hidupku. Dengan namaku di sana. Sampai kapanpun malam tetap milik rembulan dan rembulan selamanya menjadi milik malam"
Mimpi itu begitu jelas, sehingga rembulan bisa mengingat kata-kata itu dengan sempurna
Dulu Tuan pernah bilang dengan menatap mata Nona bahwa calon istri sudah menanti
Apakah mimpi Nona akan menjadi nyata ataukah hanya akan menjadi bunga tidur yang akan selalu dikenang
Hanya butuh waktu satu bulan untuk Tuan bertegur sapa dengan Nona
Saling ucap rembulanku dan malamku
Apakah itu masih berlaku sampai saat ini?
Mengenangmu adalah hal terbodoh yang kulakukan, namun juga hal termanis dalam hidupku
Bernostalgia tentang rembulan dan malam
Rembulan bertanya-tanya....
Kapan malam menyapa rembulan kembali
Rembulan selalu menunggu dengan ketidakpastian
Berharap malam masih ingat dengan kata-katanya kepada rembulan
Rembulan bermimpi, mimpi yang aneh
Mimpi tentang malam yang menyimpan sepucuk kertas yang bertuliskan "Pasangan hidupku. Dengan namaku di sana. Sampai kapanpun malam tetap milik rembulan dan rembulan selamanya menjadi milik malam"
Mimpi itu begitu jelas, sehingga rembulan bisa mengingat kata-kata itu dengan sempurna
Dulu Tuan pernah bilang dengan menatap mata Nona bahwa calon istri sudah menanti
Apakah mimpi Nona akan menjadi nyata ataukah hanya akan menjadi bunga tidur yang akan selalu dikenang
Rabu, 06 Januari 2016
Kecewaku Pada Sahabat
Kecewa..
Aku kecewa padamu sahabatku..
Kau bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun pada hari kelahiranku.
Aku menunggumu, dari tengah malam karena biasanya kau selalu mengucapkan yang pertama, subuh karena kau biasanya lupa untuk mengirim sms ucapan pada tengah malam karena ketiduran, hingga siang, sore, dan malam kau tetap diam sahabat.
Kau bahkan tak sedang sibuk, kau bahkan aktif di facebook, whatsapp, dan bbm.
Kau bahkan tak menyadari ketika aku mengontak kamu di hari ulang tahunku.
Aahh.... tidak... kau bahkan tak membalas pesanku sahabat.
Apa kau mulai melupakanku? Ketika teman dan sahabat baru datang?
Aku pun memiliki seorang teman akrab baru bukan sahabat, tapi aku masih ingat padamu sahabat, aku masih peduli padamu.
Apakah karena jarak kita yang jauh kau mulai lupa?
Entahlah, aku bingung dengan jalan pikiranmu sahabat.
Bahkan aku berpikir, masih pantaskah kau ku panggil sahabat.
Aku hanya ingin ucapan darimu sahabatku.
Kemana sekarang sosokmu yang dulu?
Aku ingin kau kembali seperti dahulu, sahabatku...
Aku kecewa padamu sahabatku..
Kau bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun pada hari kelahiranku.
Aku menunggumu, dari tengah malam karena biasanya kau selalu mengucapkan yang pertama, subuh karena kau biasanya lupa untuk mengirim sms ucapan pada tengah malam karena ketiduran, hingga siang, sore, dan malam kau tetap diam sahabat.
Kau bahkan tak sedang sibuk, kau bahkan aktif di facebook, whatsapp, dan bbm.
Kau bahkan tak menyadari ketika aku mengontak kamu di hari ulang tahunku.
Aahh.... tidak... kau bahkan tak membalas pesanku sahabat.
Apa kau mulai melupakanku? Ketika teman dan sahabat baru datang?
Aku pun memiliki seorang teman akrab baru bukan sahabat, tapi aku masih ingat padamu sahabat, aku masih peduli padamu.
Apakah karena jarak kita yang jauh kau mulai lupa?
Entahlah, aku bingung dengan jalan pikiranmu sahabat.
Bahkan aku berpikir, masih pantaskah kau ku panggil sahabat.
Aku hanya ingin ucapan darimu sahabatku.
Kemana sekarang sosokmu yang dulu?
Aku ingin kau kembali seperti dahulu, sahabatku...
Selasa, 10 November 2015
Rindu Sholat
Cahaya
jingga matahari mulai terlihat. Matahari mulai menyembunyikan dirinya. Senja
ini aku kedatangan tamu bulanan yang biasa para perempuan dapatkan. Aku merasakan
perutku yang sakit luar biasa. Aku memilih duduk santai di kursi panjang ruang
tamu rumah kakak perempuanku. Ku buka novel hasil pinjaman dari teman
sekampusku, dan aku mulai membaca. Entah kenapa jantungku berdegup kencang,
perasaanku tak nyaman. Aku mulai gelisah dan merasa ingin muntah. Suatu ketika,
telepon genggamku berbunyi. Aku mengambil telepon genggamku yang tergeletak di
atas meja. Aku membaca tulisan di layar yang berkedip – kedip memunculkan
tulisan “Mbak”. Aku segera menekan tombol hijau dan menempelkannya di daun
telingaku.
“ halo
mbak? ” sapaku.
“ dek
kamu dimana? Mama dek mama… ” kakakku bicara terburu – buru. Jantungku
seakan berhenti berdetak mendengar kakakku menyebutkan “Mama”.
“ aku di
rumah mbak. Ada apa? Mama kenapa? ” tanyaku panik.
“ saat
aku berkunjung ke rumah mama, aku melihat mama sudah tergeletak tak berdaya di
lantai ruang keluarga. Aku langsung membawa mama ke rumah sakit. Kamu tidak perlu
ke rumah sakit, biar kakak yang jaga di sini. Kamu besok ada kuliah pagi, kamu
bantu doa dari rumah ya dek. Saat sholat doakan mama. Mama sekarang koma, belum
sadarkan diri. Besok sepulang kamu kuliah, datanglah ke rumah sakit. ”
Mendengar penjelasan dari kakakku, aku tak kuasa membendung air mata. Air
mataku bercucuran dengan derasnya.
“ mbak,
aku lagi menstruasi. ” Kami berdua pun terdiam. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mendoakan ibuku dalam
sholatku. Saat ini aku merindukan sholat.
Langganan:
Postingan (Atom)