Sabtu, 22 Oktober 2016

Peci, Doeloe Sekarang




Semburat sinar mentari mulai menunjukkan wujudnya dari ufuk timur. Kegiatan rutin ibu-ibu Desa Labruk Lor mulai terlihat. Burung-burung mulai berkicau ke sana kemari, banyak orang yang memilih berolahraga selepas sholat subuh berjamaah, ada pula yang memilih ikut bergosip di mlijoan sambil memilih sayur mayur untuk sarapan keluarga. Aku menyibakkan kelambu kusam yang bertengger di jendela rumahku yang lebar. Mengintip dan berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu dan berjalan perlahan keluar dari rumah kuno yang aku tinggali. Aku memilih duduk di amben yang terletak di beranda rumah menikmati udara pagi hari yang masih bersih belum tercemar. Dengan mata yang sayu, tangan menompang dagu melihat keadaan sekitar yang mengingatkanku akan masa kecil enam tahun silam. Inilah aku, seorang gadis lugu dengan tubuh yang mungil.
            Hari Minggu adalah hari dimana anak-anak desa melepas penat setelah sepekan bergelut dengan bangku sekolah. Hari ini aku dan anak-anak desa lainnya merencanakan untuk mandi di kali saat hari menuju siang. Sebelum bermain di sungai, sambil menunggu, aku dan teman-teman bermain kelereng di latar depan rumah Yosi. Yosi adalah seorang anak laki-laki yang dua tahun lebih muda dariku. Memiliki tubuh tinggi dengan kulit yang putih dan rambut yang agak keriting. Yosi anak laki-laki yang manja, dia akan menangis jika teman-temannya mengolok dan mengejeknya. Latar rumah Yosi sudah menjadi tempat kami berkumpul dan bermain khalayak taman bermain anak-anak. Homsin membuat lubang berukuran bola kasti di tengah-tengah latar sebagai salah satu syarat permainan kelereng. Aku mengamati Homsin menggali lubang berukuran bola kasti tersebut. Dia adalah anak laki-laki yang satu tahun lebih muda dariku. Kulitnya paling hitam dari yang lain tetapi dia memiliki senyum termanis dari kumpulannya. Sikapnya yang humoris membuat semua orang betah di dekatnya. Lubang yang dibuat Homsin tidak begitu dalam dan juga tidak begitu dangkal. Merasa diperhatikan, Homsin menoleh ke arahku dan tersenyum.
“ Eh… coba masukkan kelerengmu ke lubang ini!” aku menganggukkan kepala lagu mengambil jarak agak jauh dari lubang. Setelah menemukan jarak yang pas, aku meletakkan kelereng di tanganku dengan posisi jari jempol di belakang kelereng, setelah posisinya pas aku langsung mendorong kelereng menggunakan jari jempol ke arah lubang yang dibuat Homsin tadi. kelereng meluncut tidak terlalu cepat, tetapi kelereng tersebut terus mendekati lubang dan masuk ke lubang dengan pelan. Melihat itu, Homsin mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempatnya berjongkok di sebelah lubang sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya berusaha membersihkan tanah dan debu yang menempel di telapak tangannya.
“ Oke, aku rasa lubangnya sudah cukup. sekarang waktunya bermain.” setelah yakin telapak tangannya bersih dari tanah, Homsin segera mengeluarkan kelereng berwarna putih bening dengan motif pelagi di dalamnya. Aku dan yang lain pun melakukan hal yang sama. Aku mengeluarkan kelereng berwarna biru bening yang di dalamnya terdapat gliter berwarna perak. Setelah menyiapkan kelereng masing-masing, Homsin, Yosi, Trio, dan aku mengambil tempat di garis start yang sudah dibuat Trio. Trio adalah adik sepupuku yang rumahnya berada tepat di depan rumahku. Dia teman bermain yang paling muda dan yang paling suka mengalah. Trio lah yang selalu mengajakku bermain dengan teman-teman laki-lakinya. Lemparan pertama dilakukan oleh Homsin diikuti Yosi, Trio, baru kemudian aku. Melihat hasil lemparan, Trio mendapatkan giliran bermain pertama karena kelerengnya yang terletak paling dekat dengan lubang diikuti Homsin, aku, lalu terakhir Yosi yang kelerengnya terletak paling jauh dari lubang. Kami berempat bermain bergantian, saling mematikan lawan. Hari sudah semakin siang, merasakan bosan bermain kelereng dan matahari semakin panas, tiba-tiba Homsin mengajak kami untuk segera ke kali karena cuaca sudah semakin panas. Kami berempat pun segera meninggalkan latar rumah Yosi dan menuju sungai yang terletak di belakang tidak jauh dari rumah Yosi. segera Yosi mengambil ban pelampung yang ia simpan di gudang belakang rumahnya. Pada masa itu, anak-anak desa masih begitu polos dan lugu termasuk aku. Aku lebih memilih bermain dengan teman laki-laki daripada bermain dengan teman cewek. Kali terlihat sepi, hanya terlihat beberapa orang sedang mencuci baju di kali. Air kali begitu jernih sehingga tampak ikan-ikan kecil berlalu-lalang di tepi kali. Kami mandi dengan hanya memakai celana dalam dan kaos. Sudah seperti kegiatan rutin kami setiap hari Minggu, kami menghanyutkan diri di sungai dengan menggunakan ban mobil bekas. Secara bergantian kami menaiki ban mobil bekas dan mengikuti aliran kali sampai jauh ke bawah.
            Waktu berjalan dengan cepat. Tidak kuasa kami meninggalkan kali karena orang tua kami akan melarang bermain jika terlalu lama di kali. Kami memakai pakaian lengkap kami dengan celana dalam dan kaos yang masih basah. Aku pergi meninggalkan Homsin, Yosi, dan Trio karena mereka masih ingin berlama-lama di kali untuk menangkap ikan.
“ Jangan lupa nanti malam kita bermain petak umpet. Ajak anak-anak yang cewek untuk ikut. semakin banyak semakin bagus.” teriak Homsin ketika melihatku pergi.
“ Baiklah, nanti malam di depan rumahku.” melihat anggukan Homsin, aku memutar tubuhku dan meninggalkan mereka. Cuaca hari ini memang panas sekali, padahal baru saja aku kembali dari kali tetapi aku merasakan keringat mulai mengucur di punggungku. Aku memutuskan untuk berlari ingin cepat sampai di rumah. Di depan rumah Yosi yang tidak jauh dari rumah, aku melihat mbah Ami mengangkat kayu bakar seorang diri. Melihat itu, aku langsung menghampiri mbak Ami dan membantunya.
“ Kenapa dilakukan sendirian, mbah?” tanyaku sambil membawa kayu bakar mengikuti mbah Ami dari belakang.
“ Anak-anak laki-laki mbah semua bekerja. Mbah hanya seorang diri di rumah, lagi pula kayu ini ringan.” melihat keringat yang mengucur di dahi mbah Ami, aku mengangkat kayu dengan cepat. Setelah semua kayu terangkat ke dalam rumah mbah Ami, aku pamit pulang. Tetapi langkahku terhenti karena tiba-tiba mbah Ami memanggil sambil berjalan ke arahku.
“ ini nduk upahmu membantu mbah.” katanya sambil menyodorkan uang kertas seribu rupiah. Dengan polos dan mata berbinar, aku mengambil uang yang disodorkan mbak Ami padaku.
“ Terima kasih, mbah.” kataku. Uang yang tadinya berada di genggaman mbah Ami, kini telah berpindah tempat di tanganku. Mbah Ami tersenyum dan berbalik kembali ke dalam rumahnya. Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan bersenandung senang. Aku memasukkan uang seibu rupiah ke dalam saku rok yang aku kenakan.
            Rumah begitu sepi seperti tak berpenghuni. Aku masuk lewat pintu belakang karena pintu depan terkunci. Memang sudah menjadi kebiasaan ibuku mengunci pintu rumah ketika akan tidur siang atau pergi ke rumah tetangga. Pintu belakang tidak terkunci, aku masuk secara perlahan sambil berteriak memanggil ibuku.
“ Bu… Ibu…” teriakku sambil dengan menelusuri rumah. Karena tidak ada jawaban, aku langsung menuju kamar ibuku. Di sana aku melihat wanita paruh baya tidur terlelap dengan posisi tengkurap. Aku mengurungkan niat membangunkan ibuku lalu pergi ke meja makan melihat apakah ada sesuatu untuk di makan. Karena rata-rata mata pencaharian di desaku adalah bertani dan berkebun, maka lauk pauk yang biasa dimasak adalah seperti tumis terong dan dadar jagung. Aku mengambil satu dadar jagung untuk aku makan tanpa nasi. Dadar jagung juga salah satu makanan kesukaanku. Makanan paling dimintasi oleh masyarakat Desa Labruk Lor adalah sayur kelor. Setiap rumah bahkan memiliki pohon kelor di depan rumah masing-masing begitu pula di depan rumahku. Merasa mengantuk, aku menyusul ibuku dan tidur di dekat ibuku yang sudah tertidur lelap.
            Hari sudah sore. Ibuku sibuk di dapur, menyiapkan masakan untuk makan malam. Sedangkan Ayahku ke luar kota melakukan pekerjaannya sebagai sopir. Aku berniat membantu Ibuku memasak, tetapi Ibuku melarang karena hari sudah akan maghrib dan aku masih belu mandi. Ibuku selalu melarang keras anak gadisnya mandi menjelang maghrib. Menurutnya itu tidak baik, kata orang dulu atau nenek moyang kami dulu mandi menjelang maghrib akan membuatmu jauh dari jodoh. Hal itu sudah menjadi stereotip di desaku. Semua orang mempercayainya, bahkan ada yang benar-benar terjadi tidak menemukan jodohnya sampai umur 50 tahun. Oleh karena itu aku tidak berani membantah perkataan Ibuku. Aku langsung mengambil handuk dan bergegas mandi. Saat itu aku masih kelas tiga SD, belum tahu menahu masalah perkataan orang tua. Setelah mandi, aku melihat meja makan sudah penuh dengan berbagai macam masakan. Ibuku memanggilku dan kakak perempuanku untuk segera makan. Masakan rumahan memang sederhana, tetapi sangat istimewah jika kita memakannya bersama dengan keluarga. Ketika nasi yang aku makan sisa separuh, aku mendengar ada yang memanggil dari luar. Aku melongok keluar pintu dengan tangan yang masih belepotan nasi dan bumbu. Aku melihat sepupuku Trio berdiri di depan rumah.
“ Ayo main petak umpet. Sudah di tunggu sama teman-teman yang lain.” ajaknya.
“ Iya baiklah, tapi aku masih makan. Mulai saja tanpa aku, nanti aku menyusul.” kataku sambil menunjukkan tanganku yang masih belepotan nasi. Tiba-tiba Ibuku berteriak dari dalam dengan nada sedikit marah.
“ Wulan! Cepat selesaikan makananmu, jangan buang-buang makan. Mubazir!” teriak Ibuku. Aku segera member kode kepada Trio untuk segera pergi dan memberitahu bahwa aku akan menyusul setelah aku selesai makan. Tanpa banyak bicara, sepupuku mengangguk lalu pergi meninggalkan rumahku dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Aku pun masuk dan melanjutkan ritual makan malamku. Karena aku makan dengan lambat, maka aku yang terakhir di meja makan. Ibu dan kakakku mulai membereskan piring-piring kotor untuk dicuci.
“ Setelah selesai makan, tutup lauknya dengan tudung nasi agar ikannya tidak dicuri oleh kucing.” setelah berpesan, Ibuku meninggalkanku sendirian di meja makan. Selesai makan aku mencuci piringku dan berpamitan kepada Ibuku untuk pergi bermain. Setelah berpamitan kepada Ibuku, aku langsung pergi dan menghampiri teman-temanku yang sudah memulai permainan petak umpetnya. Malam ini, rembulan memancarkan cahayanya cemerlang, dihiasi taburan bintang-bintang dan awan-awan tipis. Suara jangkrik bersahutan bersenandung lagu malam. Membuat malam semakin terasa indah dan damai. Kami anak-anak desa bermain dengan riang. Saat kami sedang asik bermain, tiba-tiba mbah Ami memanggil dan melambaikan tangannya memanggil kami semua untuk mendatanginya. Kami saling pandang lalu memutuskan untuk menghampiri mbah Ami. Ketika semakin dekat dengan mbah Ami, aku melihat mbah Ami membawa nampan berisi singkong rebus. Melihat itu aku mempercepat jalanku. Mbah Ami adalah nenek dari Yosi. Di desa kami, tetangga yang sudah dekat atau bahkan anak-cucunya dekat satu sama lain, maka mereka akan menganggapnya sebagai saudara sendiri.
            Singkong rebus telah terhidang di hadapan kami, di atas meja ruang tamu Yosi yang berbentuk bundar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya.      
"Ayo di makan!" Mbah Ami mempersilakan kami untuk makan singkong rebus tersebut.    Bu Ami  adalah keluarga petani yang sangat sederhana, namun Ia sangat senang berbagi. Tidak jarang beliau berbagi makanan kepada kami, saat kami bermain atau sedang belajar bersama cucunya Yosi dirumahnya. Sering, ada saja makanan yang dihidangkan untuk kami seperti saat ini. Kami menikmati singkong rebus sambil berceloteh membicarakan rencana 'mau bermain apa?' selanjutnya. Tak sampai sepuluh menit, isi nampan yang berukuran agak besar itu sudah terkuras tak bersisa, disikat oleh empat orang anak, tinggal nampan kosong yang tersisa di atas meja. Acara singkong rebus pun usai. Kini saatnya kami beraksi kembali. Kami telah sepakat untuk bermain benteng-bentengan. Kami mulai sibuk membuat peraturan dan membagi teman. Karena hanya aku perempuan di antara yang lain, maka aku diberi tugas menjaga benteng pertahanan sedangkan Trio sebagai partner mainku bertugas merebut benteng lawan. Homsin dan Yosi pun melakukan hal yang sama seperti kami dengan membagi tugas yaitu Yosi yang menjaga benteng dan Homsin yang bertugas merebut benteng pertahanan lawan. Kami pun mulai bermain. Kami bermain dengan perasaan riang dan perut riang berkat singkong rebus mbah Ami. Hari sudah semakin malam, kami berempat sudah mendapat panggilan dari Ibu masing-masing. Dengan berat hati aku dan teman-teman mengakhiri permainan karena besok Senin harus bersekolah kembali. Aku pulang di jemput oleh Ibu. Dengan keadaan tubuh berkeringat, aku berlari mendahului Ibu masuk ke dalam rumah langsung menuju kipas angin yang bertengger di ruang keluarga. Setelah menghidupkan kipas angin, aku mengambil posisi di depan kipas dan menikmati sejuknya angin yang dihasilkan. Dengan iseng aku bernyanyi tepat di depan kipas. Ketika bernyanyi di depan kipas, suaraku menjadi bergetar. Mendengar suaraku yang bergetar lucu akibat angin dari kipas, aku tertawa cekikikan. Tak lama kemudian Ibu muncul dari ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku. Tidak menyadari kedatangan Ibu, aku terus bernyanyi semakin keras. Lalu aku merasakan sedikit mual, mungkin terlalu lama berasa di depan kipas. Aku langsung mematikan kipas dan berhenti menyanyi pula. Tiba-tiba kakakku masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah dakon di tangannya. Ketika melihatku mengawasinya, kakakku mendekat dan meletakkan dakon di depanku.
“ Mau main in, dik?” katanya menawarkan.
“ Darimana mbak dapat itu?” Tanyaku sambil menunjuk dakon yang bertengger di depanku. Kakakku hanya tersenyum nakal.
“ Ya beli lah dik, masak nyolong.” jawab Kakakku sekenanya. Ini nih, salah satu sifat yang tidak aku suka dari kakakku. Selalu seenaknya sendiri, merasa dirinya yang selalu benar. Tapi di samping sifatnya yang menyebalkan dia tetap perhatian denganku. Aku menggelengkan kepala karena merasakan tubuhku yang semakin lemas akibat kipas angin. Rasa mual semakin menjadi-jadi. Tidak tahan menahannya, aku berlari sekencang mungkin ke kamar mandi. Ibuku yang sedari tadi sedang menonton televise melihatku heran. Sesampai di kamar mandi aku langsung mengeluarkan seluruh isi perutku yang aku isi saat makan malam tadi. Mendengar suara orang muntah, Ibuku langsung ke kamar mandi. Ketika aku membungkukkan badan terus muntah namun sudah tidak keluar apa-apa lagi, Ibuku memijat bagian belakang leherku supaya muntahannya terus keluar. Namun melihat sudah tidak ada lagi yang keluar, Ibu menghentikan pijatannya dan aku mulai membersihkan mulutku dari muntahan.
“ Makanya jangan main terus. Gini jadinya masuk angin.” kata Ibuku sambil membantuku berjalan keluar dari kamar mandi. Aku hanya mamasang mimic merajuk. Masih terasa mual di perut. Melihatku yang terus memegangi perut, Ibuku membawaku ke kamar.
“ Tunggu di sini. Ibu mau ambil minyak angin dan kerokan. Biasanya kalau masuk angin dan langsung dikerok bisa cepat sembuh.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ibu meninggalkanku sendirian di kamar untuk mencari minyak angin. Sambil menunggu Ibuku, aku mengambil posisi tengkurap di kasur. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak bahkan untuk berbicara. Tak lama kemudian Ibuku datang dengan membawa teplek berisi minyak tawon di tangan kirinya dan kerokan berupa uang logam zaman dulu yang sudah tidak dipakai di tangan kanannya. Tanpa piker panjang, Ibuku menaikkan bajuku hingga punggungku terlihat. Mulailah Ibu mengerok punggungku. Merasa nyeri sekaligus geli, tubuhku bergerak-gerak gelisah.
“ Ibu sakit.” kataku merintih.
“ Iya, tahan sebentar. Lihat ini! Tubuhmu langsung merah, kamu memang sedang masuk angin. Lain kali kalau mau main itu ingat waktu! Jangan seharian main terus. Apalagi mandi di kali selama berjam-jam. Akibatnya ini jadi masuk angin.” omel Ibuku sambil terus mengerok punggungku. Aku hanya bisa merintih dalam diam merasakan sakit sekaligus geli. Tak lama kemudian ritual kerok-mengerok pun telah usai. Aku merasakan Ibuku mulai menurunkan bajuku sampai punggungku tertutup kembali. Mataku sudah semakin berat. Samar-samar aku mendengar Ibuku berbicara padaku.
“ Sekarang istirahat. Setelah dikerok, besok mungkin sudah bisa agak baikan.” setelah membereskan minyak, Ibuku pergi meninggalkanku yang sudah tertidur pulas di dalam kamar.
            Keesokan harinya, aku merasakan tidak mual lagi. Benar apa yang dikatakan Ibu, setelah dikerok aku menjadi lebih baik. Aku bangun dan bergegas mandi karena Senin adalah awal dari memulai aktivitas. Seperti biasa ketika aku akan berangkat ke sekolah, rutinitas gossip ibu-ibu desa mulai terlihat. Aku hanya menggelengkan kepala, untung saja Ibuku tidak suka dengan yang namanya bergosip. Tanpa menghiraukan ibu-ibu yang sedang bergosip, aku mendekati tempat mlijoan untuk membeli kue sebagai ganti sarapan. Ketika menyeruak dikerumunan ibu-ibu, aku melihat kue getasan, pisang goreng, dan juga donat. Tanpa piker panjang aku mengambil masing-masing kue dua. Setelah memasukkannya ke dalam kantung plastik, aku menyodorkan uang tiga lembar seribuan. Sambil menggigit kue aku berjalan menuju ke sekolah. Sekolahku tidak jauh dari rumah. hanya lima belas menit jika ditempuh dengan jalan kaki dan lima menit jika ditempuh dengan sepeda ontel. Di sekolah aku mendapati seorang murid baru laki-laki. Dia selalu memakai pecinya kemanapun dia pergi. Perlahan ku mulai dekati anak itu. Namun tak ada keinginan bagiku untuk menyodorinya pertanyaan satupun. Aku lebih memilih menyapanya melalui pandanganku yang tak kan pernah ia mengerti maksud tabiatku. Saat melewatinya aku tersenyum kaku. Tubuhya kecil tidak gemuk. Rambutnya sedikit menjulur ke dahinya. Peci kecilnya tak mampu menjangkau dan memeluk sedikit rambutnya yang terjuntai keluar. Aku duduk di sebelahnya. Kami berdua duduk di bangku depan kelas menikmati jam kosong. Dengan ragu aku menyapanya.
“ Hai… Aku Wulan. Namamu siapa?” tanyaku memberanikan diri.
“ Hai, aku Akbar. Salam kenal.” balasnya sambil mengulurkan tangannya menunggu sambutan tangan dariku. Melihat Akbar yang tersenyum aku seperti tersadar dari lamunan, aku segera membalas uluran tangannya. Dia tersenyum padaku lalu memalingkan wajahnya kembali kea rah depan. Aku mengamatinya lekat. Entah apa yang sedang ia pandang sedari tadi. Dia hanya menatap kosong ke depan. Aku teringat perkataan Ibuku bahwa tidak baik melamun, katanya bisa kerasukan setan. Aku bergidik ngeri, mengingat itu tidak sengaja aku memanggil Akbar keras yang membuatnya kaget. Akbar mengelus dadanya karena kaget. Melihat itu aku meminta maaf.
“ Maaf mengagetkanmu. Tapi kata Ibuku melamun itu tidak baik. Bisa kerasukan setan.” Kataku ketika akbar menolehkan kepalanya padaku dan menatapku. Tak disangka Akbar tertawa.
“ Itu hanya cerita yang dibuat-buat orang tua supaya kita takut dan tidak melamun lagi. Menurutku sebenarnya karena melamun itu tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja.” jelasnya. Aku hanya membeo sambil mengangguk-angguk.
“ Itu artinya sekarang kamu sedang membuang-buang waktu.” kataku setelah menagkap penjelasan Akbar.
“ Mungkin.” jawabnya singkat.
“ Kenapa kamu selalu memakai peci?” akhirnya aku memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama aku tahan sejak pertama kali aku melihatnya.
“ Entahlah. Aku merasa sedikit percaya diri jika memakai peci kemanapun aku pergi. Sekaligus untuk menutupi rambutku yang panjang.” jawabnya dengan senyum licik. Aku melongo mendengar jawaban terakhirnya. Mendengar bel masuk, aku dan Akbar bergegas masuk ke kelas dan memulai pembelajaran.
            Teringat peci, aku tersadar dari lamunanku. Dengan posisi tangan tetap menompang dagu. Aku teringat, saat pertama kali masuk kuliah aku melihat seseorang yang selalu mengenakan peci kemanapun ia pergi, tidak hanya untuk beribadah. Tapi aku tidak tahu alasan dia memakai peci. Aku mengingatnya detail. Tubuhnya tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk. Dia memiliki kulit sawo matang. Dengan sifatnya yang baik dan bijaksana, membuat orang-orang di sekitarnya tidak peduli dengan apa yang dia kenakan. Saat dia memperkenalkan diri, dia menyebut dirinya dengan nama Jamil.
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar