Jumat, 25 April 2014

antara Aku dan Sahabat



Antara Aku dan Sahabat
            Pagi ini aku berjalan entah menuju kemana. Banyak orang yang memilih kegiatan hanya duduk – duduk santai karena jam kosong, ada juga yang melamun entah memikirkan apa. Mataku terus mencari – cari tempat yang sepi. Suatu ketika, mataku membelalak melihat sosok laki – laki yang turun dari tangga. Sosok berkulit sawo matang menyapaku dengan seutas senyuman. Entah kenapa aku merasa begitu senang. Tak sadar aku telah menginjakkan kakiku didepan ruang perpustakaan. Aku ragu, akhirnya aku memilih duduk dibangku panjang didepan ruang perpustakaan disebelah pos satpam. Aku mulai mengeluarkan alat tulisku, membetulkan posisi dudukku agar terasa nyaman. Aku menuangkan semua isi pikiranku ke dalam secarik kertas putih. Inilah aku, gadis cilik yang gemar menulis disela – sela kesibukan. Aku tersenyum melihat hasil karyaku. Aku mulai gelisah dan marah karena suasana yang tidak bisa diajak kompromi. Panas matahari yang begitu mencolok membuatku sesekali berkedip – kedip perih, suara mesin yang berlalu – lalang membuatku buntu. Aku memejamkan mata menunggu suatu keajaiban datang. Ehem. Seseorang berdehem cukup keras sehingga membuat mataku terbuka.
            “ lagi ngapain? Nulis lagi?” Tanya seseorang yang cantik dengan rambut terurai panjang.
            “ begitulah.” Jawabku sambil tersenyum. Dia adalah Risti sahabatku. Dia empat bulan lebih tua dariku. Dia sosok yang baik, tidak suka menyinggung perasaan orang lain. Dia gemar sekali membaca novel romantis. Aku dan sahabatku Risti bagaikan langit dan bumi karena sifat kita yang berbeda jauh. Baru kenalpun pasti orang langsung mengira kalau dia adalah orang yang baik. Sedangkan aku, dilihat dari sisi manapun, terlihat jelas kalau aku memiliki sifat yang mudah tersinggung dan cepat marah pula.
            Persahabatanku dan Risti sempat terputus hanya gara – gara masalah cowok. Waktu itu memang sikap Risti terlihat aneh. Sikap baiknya terhadapku seperti dia merasa bersalah dan sedang berusaha menebusnya. Tapi tentu saja aku tidak curiga, karena aku sangat percaya kepadanya. Suatu hari, lebih tepatnya pada hari Minggu, aku menerima sebuah pesan dari Risti. Nggak kaget sih, selama aku dan Risti sahabatan aku memang sering smsan sama dia. Entah apa yang kita berdua bicarakan dalam sms itu. Saat aku membaca pesan Risti, mataku membelalak dan mulutku ternganga. Pesan Risti berhasil membuatku syok dan naik darah. Tidak disangka sahabatku sendiri mengkhianatiku. Butiran air mata mulai mengalir dengan derasnya. Risti menusukku dalam – dalam dari belakang. Dia menyembunyikan fakta bahwa dia telah berpacaran dengan cowok yang aku suka. Lebih parahnya, dia sudah menjalani hubungan selama satu bulan. Aku marah bercampur malu, karena selama ini aku sering sekali cerita tentang cowok yang aku suka itu ke Risti. Dan sekarang Risti menjadi pacarnya. Lebih tepatnya sudah lama menjadi pacarnya. Aku merasa kalau aku ini benar – benar cewek yang paling bodoh di dunia. Dugaanku ternyata benar, selama ini Risti baik kepadaku karena dia merasa bersalah. Selama tiga hari aku bungkam mulutku rapat – rapat. Aku sama sekali tidak bicara ke Risti saat bertemu di sekolah maupun di kelas. Selama tiga hari itu pula aku berpikir, kalau sikapku seperti ini terus, masalahku dan Risti tidak akan bertemu ujungnya.
            “Hei, malah ditinggal melamun. Awas kesambet loh.” Kalimat Risti berhasil membuat lamunan fantastikku buyar.
            “ ganggu aja kamu.” Kataku sewot lalu mengeluarkan senyuman yang paling gila.
“ eits, jangan senyum – senyum. Idiih aku ogah liat senyumanmu itu.” Canda Risti. “ oke deh aku balik dulu, bye.” terus Risti sambil beranjak dari tempat duduk dan melambaikan tangan senang. Selama ini persahabatanku dan Risti berjalan dengan baik. Karena kami berdua memutuskan, daripada memikirkan cowok yang nggak jelas bakalan memikirkan kita. Mending kita memikirkan profesi yang sedang kita jalani masing – masing. Inilah cerita antara aku dan sahabatku.