Antara Aku dan
Sahabat
Pagi ini aku berjalan entah menuju
kemana. Banyak orang yang memilih kegiatan hanya duduk – duduk santai karena
jam kosong, ada juga yang melamun entah memikirkan apa. Mataku terus mencari –
cari tempat yang sepi. Suatu ketika, mataku membelalak melihat sosok laki –
laki yang turun dari tangga. Sosok berkulit sawo matang menyapaku dengan seutas
senyuman. Entah kenapa aku merasa begitu senang. Tak sadar aku telah
menginjakkan kakiku didepan ruang perpustakaan. Aku ragu, akhirnya aku memilih
duduk dibangku panjang didepan ruang perpustakaan disebelah pos satpam. Aku
mulai mengeluarkan alat tulisku, membetulkan posisi dudukku agar terasa nyaman.
Aku menuangkan semua isi pikiranku ke dalam secarik kertas putih. Inilah aku,
gadis cilik yang gemar menulis disela – sela kesibukan. Aku tersenyum melihat
hasil karyaku. Aku mulai gelisah dan marah karena suasana yang tidak bisa
diajak kompromi. Panas matahari yang begitu mencolok membuatku sesekali
berkedip – kedip perih, suara mesin yang berlalu – lalang membuatku buntu. Aku
memejamkan mata menunggu suatu keajaiban datang. Ehem. Seseorang berdehem cukup
keras sehingga membuat mataku terbuka.
“ lagi ngapain? Nulis lagi?” Tanya
seseorang yang cantik dengan rambut terurai panjang.
“ begitulah.” Jawabku sambil
tersenyum. Dia adalah Risti sahabatku. Dia empat bulan lebih tua dariku. Dia
sosok yang baik, tidak suka menyinggung perasaan orang lain. Dia gemar sekali
membaca novel romantis. Aku dan sahabatku Risti bagaikan langit dan bumi karena
sifat kita yang berbeda jauh. Baru kenalpun pasti orang langsung mengira kalau
dia adalah orang yang baik. Sedangkan aku, dilihat dari sisi manapun, terlihat
jelas kalau aku memiliki sifat yang mudah tersinggung dan cepat marah pula.
Persahabatanku dan Risti sempat
terputus hanya gara – gara masalah cowok. Waktu itu memang sikap Risti terlihat
aneh. Sikap baiknya terhadapku seperti dia merasa bersalah dan sedang berusaha menebusnya.
Tapi tentu saja aku tidak curiga, karena aku sangat percaya kepadanya. Suatu
hari, lebih tepatnya pada hari Minggu, aku menerima sebuah pesan dari Risti.
Nggak kaget sih, selama aku dan Risti sahabatan aku memang sering smsan sama
dia. Entah apa yang kita berdua bicarakan dalam sms itu. Saat aku membaca pesan
Risti, mataku membelalak dan mulutku ternganga. Pesan Risti berhasil membuatku
syok dan naik darah. Tidak disangka sahabatku sendiri mengkhianatiku. Butiran
air mata mulai mengalir dengan derasnya. Risti menusukku dalam – dalam dari
belakang. Dia menyembunyikan fakta bahwa dia telah berpacaran dengan cowok yang
aku suka. Lebih parahnya, dia sudah menjalani hubungan selama satu bulan. Aku
marah bercampur malu, karena selama ini aku sering sekali cerita tentang cowok
yang aku suka itu ke Risti. Dan sekarang Risti menjadi pacarnya. Lebih tepatnya
sudah lama menjadi pacarnya. Aku merasa kalau aku ini benar – benar cewek yang
paling bodoh di dunia. Dugaanku ternyata benar, selama ini Risti baik kepadaku
karena dia merasa bersalah. Selama tiga hari aku bungkam mulutku rapat – rapat.
Aku sama sekali tidak bicara ke Risti saat bertemu di sekolah maupun di kelas.
Selama tiga hari itu pula aku berpikir, kalau sikapku seperti ini terus,
masalahku dan Risti tidak akan bertemu ujungnya.
“Hei, malah ditinggal melamun. Awas
kesambet loh.” Kalimat Risti berhasil membuat lamunan fantastikku buyar.
“ ganggu aja kamu.” Kataku sewot
lalu mengeluarkan senyuman yang paling gila.
“ eits, jangan senyum – senyum. Idiih aku ogah liat
senyumanmu itu.” Canda Risti. “ oke deh aku balik dulu, bye.” terus Risti
sambil beranjak dari tempat duduk dan melambaikan tangan senang. Selama ini
persahabatanku dan Risti berjalan dengan baik. Karena kami berdua memutuskan,
daripada memikirkan cowok yang nggak jelas bakalan memikirkan kita. Mending
kita memikirkan profesi yang sedang kita jalani masing – masing. Inilah cerita
antara aku dan sahabatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar