Berawal dari sebuah pertunjukan pentas seni.
Saat kau berpuisi, kau terlihat begitu sempurna hingga aku mengagumimu.
Beberapa hari setelah itu, kau mulai menghampiriku, menghujamku dengan sajak - sajak indahmu hingga aku terpesona.
Hari demi hari terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu.
Dan hari demi hari itu pula aku mulai menyukaimu.
Hingga pada suatu saat, kau memanggilku dengan sebutan "Rembulan", "Bidadari", dan "Perempuanku".
Pada saat itu kau mulai menjadikan aku sebagai milikmu seutuhnya.
Kita berdua sama - sama mengakui jika kita saling menyukai.
Tapi kau bilang "Bukan waktunya untuk diungkapkan, nunggu waktu yang tepat. Yang jelas kita sama - sama suka".
Aku pun mulai berpikir liar akan pesan yang kau sampaikan.
Aku bahagia sekaligus takut.
Bahagia karena kau juga menyukaiku, takut karena kata - katamu memberi ketidakpastian.
Setiap hari kita berdua berkomunikasi, bercanda, hingga aku lupa akan tujuan awalku.
Namun, setelah waktu yang kita lewati, tiba - tiba kau menjauh entah kenapa.
Kau sudah jarang menghubungiku lagi seperti biasa.
Saat ku tanya, kau hanya menjawab sibuk, sibuk, dan sibuk.
Lalu dulu itu apa?
Meskipun kau sibuk, kau selalu meluangkan waktumu untuk menghubungiku hanya untuk sekedar memberi kabar padaku.
Aku ingin menangis, tapi aku ingat akan pesanmu
"Jangan mendung purnamaku. Aku takut ada laki - laki lain yang menghapuskan air matamu".
Jika kau benar - benar takut, hapuslah air mata ini sekarang.
Setiap malam tidurku tak nyenyak memikirkanmu.
Saat aku menghubungimu, kau bahkan tidak merespon.
Meskipun saat kita bertemu dalam ketidaksengajaan kau selalu memberikan senyuman padaku, aku semakin ragu denganmu.
Jika pada akhirnya seperti ini, seharusnya kita berdua tidak dipertemukan.
Tuhan tahu, setiap malam aku selalu memikirkanmu dan berdoa agar kau kembali seperti pada awal kita bertemu.
Apakah aku punya salah padamu?
Katakanlah!
Maka aku akan meminta maaf jika itu menyakitimu.
Aku bingung harus berbuat apa.
Pikiran liar ini selalu datang hingga membuatku cemas dan gelisah.
Sekarang aku merasa seperti berada pada perahu yang bergoyang lantaran terkena ombak.
Nasibku masih dipertanyakan.
Akankah perahu yang aku tumpangi oleng dan jatuh atau masihkah bisa bertahan?
Yang aku butuhkan hanyalah kabar darimu. Malamku...
Uuuuuuuhh.. Pas bangett.. Nyentuh banget :') sabara ya sist
BalasHapus